DetikNews
Jumat 11 Januari 2019, 17:52 WIB

Polisi Telah Rekonstruksi Dugaan Perkosaan Mahasiswi UGM di Maluku

Ristu Hanafi - detikNews
Polisi Telah Rekonstruksi Dugaan Perkosaan Mahasiswi UGM di Maluku Direktur Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo. Foto: Ristu Hanafi/detikcom
Sleman - Penyidik Polda DIY merekonstruksi kasus dugaan pemerkosaan atau dugaan pencabulan mahasiswi UGM saat menjalani KKN di Pulau Seram, Maluku. Saat ini tim penyidik Ditreskrimum telah berada di Maluku.

"Di sana penyidik lakukan rekonstruksi yang termasuk bagian dari pemeriksaan. Senin saya nyusul tim penyidik ke sana, ke Maluku. Kami akan selesaikan masalah ini seterang-terangnya," kata Direktur Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo kepada wartawan di Mapolda DIY, Jumat (11/1/2019).

Hadi menjelaskan, dalam proses rekonstruksi idealnya juga diikuti oleh pihak terlapor maupun korban. Namun jika mereka tidak bisa hadir, Hadi menyebut hal itu bukan suatu masalah besar bagi penyidik.

"Harusnya, harusnya (ikut terlapor maupun korban), tapi tidak masalah (jika tidak ikut)," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Direktur Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo bicara soal penolakan korban untuk menjalani visum et repertum.


"Dimintai visum malah dikembalikan lagi, bersurat, 'untuk apa kita divisum, tidak relevan', itu kan menyimpulkan namanya. Tidak relevan darimana? Memangnya dia ahli?," kata Hadi.

"Laporannya dugaan tindak pidana pemerkosaan dan pencabulan, kita harus buktikan apakah sudah terjadi belum hubungan badan itu. Kalau masalah tempos (waktu kejadian tahun 2017), itu urusan ahli, nanti dikaji," lanjutnya.

Menurut Hadi, dalam menyidik kasus ini polisi bertindak profesional dan sesuai ketentuan hukum. "Bukan masalah relevan atau tidak, penyidik bekerja berdasarkan alat bukti yang ada, bukan asumsi," tandasnya.


Hadi mengungkapkan, sejak peristiwa dugaan pemerkosaan atau dugaan pencabulan terjadi pada Juli 2017, korban belum pernah visum ke dokter.

"Biasanya korban datang ke dokter minta visum, lalu polisi minta keterangannya dari dokter. Tapi ini korban belum ke dokter, makanya penyidik minta visum, lalu kita terima surat penolakannya dari kuasa hukumnya korban," terangnya.

Hadi pun menyinggung permintaan korban yang hanya ingin visum et repertum psikiatrikum terkait dampak psikologis masih membekas.

"Itu tahapan selanjutnya, klinis (visum et repertum) dulu baru itu (visum et repertum psikiatrikum). Penyidik akan salah jika tahapan itu tidak dilakukan, contohnya kita ke TKP meski waktu kejadian sudah lama," jelasnya.


"Kita akan lakukan pemeriksaan medis, diperlukan. Tapi jika tetap menolak nanti dikaji dulu oleh penyidik, nanti dilihat dulu," imbuhnya.

Untuk pihak terlapor, HS dan korban sejauh ini memang sudah dimintai keterangannya oleh penyidik. Teranyar, pagi hingga siang tadi terlapor kembali diperiksa penyidik untuk diklarifikasi ulang terkait hasil pemeriksaan penyidik di Maluku.



Simak juga video 'KKN UGM Diguncang Skandal Dugaan Pelecehan Seksual':

[Gambas:Video 20detik]


(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed