DetikNews
Selasa 20 November 2018, 13:24 WIB

Khusyuk Sekaligus Meriah, Tradisi Sadranan Maulid Nabi di Boyolali

Ragil Ajiyanto - detikNews
Khusyuk Sekaligus Meriah, Tradisi Sadranan Maulid Nabi di Boyolali Tradisi Sadranan di Boyolali. Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom
Boyolali - Bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, warga di Boyolali menggelar tradisi Sadranan yang sudah turun temurun. Selain untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tradisi ini juga mengingatkan kita kepada para leluhur dan mendoakannya. Seperti apa suasananya?

Ratusan warga dari berbagai dukuh mengikuti tradisi Sadranan di pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali, Selasa (20/11/2018) siang.

Mereka berasal dari sejumlah dukuh di Desa Sruni dan sekitarnya, antara lain Dukuh Mlambong, Gedongsari, Rejosari, Magersari, Tegalsari, Wonodadi dan dari daerah lain yang memiliki leluhur yang dimakamkan di TPU Dukuh Mlambong.

Dengan menggunakan tenong maupun tempat makan lainnya yang berisi berbagai makanan, warga datang ke pemakaman tersebut. Mereka datang bersama keluarganya termasuk anak-anak, sehingga suasananya pun cukup meriah.


"Sadranan ini sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang, yang terus dilestarikan warga di sini," kata sesepuh warga setempat, Hadi Sutarno, disela-sela pelaksanaan tradisi Sadranan.

Tradisi Sadranan di Boyolali.Tradisi Sadranan di Boyolali. Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Acara diawali dengan kegiatan bubak atau bersih-bersih makam, yang telah dilakukan sehari sebelumnya atau Minggu (19/11) pagi. Kemudian hari ini dilaksanakan tradisi tinggalan nenek moyang tersebut.

Tradisi Sadranan di Boyolali.Tradisi Sadranan di Boyolali. Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Kenduri sadranan digelar di tengah makam, di bawah pohon bunga kantil besar yang dipercaya sudah berumur ratusan tahun. Tradisi Sadranan diawali dengan pembacaan dzikir tahlil. Kemudian dilanjutkan doa bersama.

Setelah pembacaan doa, tenong yang mereka bawa pun dibuka dan dimakan bersama-sama. Mereka juga saling tukar makanan.


Menurut Zaeni, yang memimpin dzikir tahlil dan doa bersama, sadranan ini dilaksanakan di bulan Mulud (penanggalan jawa). Bulan Mulud ini juga merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

"Dan tradisi sadranan ini dilaksanakan tepat di hari peringatan Maulid Nabi karena salah satu tujuannya juga untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW," katanya.

Tradisi Sadranan di Boyolali.Tradisi Sadranan di Boyolali. Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom

Selain itu, tradisi Sadranan juga dilaksanakan untuk mengingatkan kita kepada para leluhur dan mendoakannya agar diampuni dosa-dosanya serta mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Dengan mengingat para leluhur yang telah meninggal dunia, diharapkan juga akan semakin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di desa ini tradisi sadranan berlangsung dua kali dalam setiap tahun. Selain momen Maulid Nabi Muhammad, tradisi ini juga dilaksanakan di bulan Ruwah.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed