DetikNews
Kamis 15 November 2018, 15:41 WIB

Kartu Nikah Baru Akan Mulai Berlaku di Gunungkidul pada 2019

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kartu Nikah Baru Akan Mulai Berlaku di Gunungkidul pada 2019 Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gunung Kidul, Aidi Johansyah. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Kementerian Agama (Kemenag) RI meluncurkan kartu nikah pada akhir bulan November ini. Hal itu membuat Kemenag Kabupaten Gunungkidul melakukan persiapan, dan rencananya baru memberlakukan kartu itu secara efektif tahun 2019.

"Jadi di Gunungkidul belum, cuma kita sudah siap-siap dan sudah disosialisasikan juga ke masyarakat mengenai Simkah (Sistem Informasi Manajemen Nikah) dan kartu nikah," ujar Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gunung Kidul, Aidi Johansyah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (15/11/2018).

Menurut Aidi, hal itu karena Kabupaten Gunungkidul tidak masuk dalam daerah yang dijadikan percontohan oleh Kemenag RI terkait Simkah dan kartu nikah. Karena di DIY, daerah yang dijadikan percontohan adalah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

"Gunungkidul belum jadi percontohan, yang jadi percontohan Kota (Yogyakarta) dan Sleman, karena setahu saya di Kota Jogja sudah sudah dapat printer (Untuk cetak kartu nikah) dan Gunungkidul belum. Tapi insyaallah, mudah-mudahan di Gunungkidul tahun 2019 (Efektif memberlakukan kartu nikah)," ucapnya.

Selain itu, Aidi menilai bahwa proses sosialisasi terkait dua terobosan baru itu ke masyarakat masih mengalami kendala. Mengingat kondisi geografis Kabupaten Gunungkidul yang berada di kawasan Gunung Sewu.

"Kalau di Gunungkidul masih terkendala jaringan ya, jadi kurang begitu lancar (sosialisasinya)," katanya.


Dalam kesempatan ini Aidi menjelaskan bahwa fungsi kartu nikah adalah bentuk peningkatan pelayanan pihaknya terhadap masyarakat. Namun, keberadaan kartu nikah tidak untuk menggeser buku nikah.

Menurutnya, keberadaan kartu nikah adalah upaya pihaknya untuk menekan pemalsuan buku nikah di Indonesia.


"Dan kalau sewaktu-waktu butuh buku nikah untuk syarat atau apa, masyarakat hanya perlu menunjukkan kartu nikah saja, karena kan bisa dibawa ke mana-mana juga (kartu nikahnya)," imbuhnya.

Diwawancara terpisah, Sekretaris Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Gunungkidul, Virgilio Soriano mengatakan, bahwa kartu nikah yang diberlakukan Kemenag hanya berlaku bagi pemegang buku nikah dari KUA. Sedangkan pihaknya hanya mengurus pencatatan akta nikah pasangan non muslim.

"Buku nikah itu untuk (Pasangan) muslim dan dikeluarkan KUA. Kalau yang non muslim di tempat kita, yaitu pembuatan akta nikah," katanya saat ditemui detikcom di ruang kerjanya, Kamis (15/11/2018).

"Sampai hari ini belum ada perubahan (pembuatan kartu nikah bagi pemegang akta nikah). Jadi yang non muslim tidak ada (membuat kartu nikah), tidak diatur itu, yang diatur itu yang buku nikah, bukan akta nikah," imbuhnya.

Kendati demikian, pihaknya mengakui keberadaan kartu nikah dan Simkah dapat meminimalisir pemalsuan buku nikah. Mengingat Simkah Kemenag dan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) saling terintegrasi.

"Dari sisi kami, ini (Simkah dan kartu nikah) sebagai sinergitas antara Kemenag Kemendagri dan bisa meminimalisir pemalsuan buku nikah. Karena kalau Simkah sudah terintegrasi dengan Siak akan sangat sulit untuk dipalsukan buku nikahnya," ujarnya.


(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed