DetikNews
Jumat 21 September 2018, 10:03 WIB

Sepak Terjang Bupati Gunungkidul yang Tercatat Jadi Kader di 2 Parpol

Usman Hadi - detikNews
Sepak Terjang Bupati Gunungkidul yang Tercatat Jadi Kader di 2 Parpol Bupati Gunungkidul, Badingah. Foto: Usman Hadi/detikcom
Gunungkidul - Polemik posisinya di Timses Jokowi-Ma'ruf Amin berbuntut terungkapnya Bupati Gunungkidul Badingah sebagai kader di dua parpol. Dia menduduki Majelis Pertimbangan DPD PAN sekaligus Dewan Pembina DPD Partai NasDem di Gunungkidul.

Lantas, bagaimana sebenarnya perjalanan karir politik Badingah?

Badingah adalah istri almarhum Wasito Donosaroyo, politikus Golkar yang meninggal tahun 2002 lalu. Sebagai istri politikus Golkar, Badingah pernah aktif memimpin organisasi sayap perempuan Golkar, Himpunan Wanita Karya Gunungkidul periode 1999-2004.

Setelah Wasito meninggal, Badingah maju di pilkada 2005. Dia menjadi calon wakil bupati (cawabup) mendampingi Suharto. Hasilnya, duet Suharto-Badingah berhasil mengalahkan lawan-lawannya dan berhak memimpin Gunungkidul periode 2005-2010.

Periode selanjutnya, Badingah kembali maju di pilkada 2010. Bedanya Badingah tak lagi berpasangan dengan Suharto, namun memilih berpasangan dengan Sumpeno Putro. Persamaannya, Badingah di pilkada 2010 tetap menjadi cawabup.

Duet Sumpeno-Badingah ternyata menjadi pilihan warga Gunungkidul. Pasangan ini memimpin Gunungkidul periode 2010-2015. Namun di tengah perjalanan Sumpeno meninggal dunia, otomatis Badingah menempati jabatan bupati sejak tahun 2011.

Selesai menjalankan tugas di periode 2010-2015, ternyata tak menyurutkan niat Badingah untuk berhenti di dunia politik. Dia kembali maju di pilkada serentak 2015. Bedanya, kali ini dia maju sebagai calon bupati berpasangan dengan Immawan Wahyudi.


Pasangan Badingah-Immawan berhasil menang di pilkada 2015. Duet ini secara resmi dilantik oleh Gubernur DIY, Sri Sultan HB X di Bangsal Kepatihan DIY pada tanggal 17 Februari 2016 lalu. Duet ini memimpin Gunungkidul untuk periode 2016-2021.

Ketua DPD PAN Gunungkidul Arif Setiadi mengamini perjalanan karir Badingah itu. Menurutnya, sejak awal PAN terlibat dalam pencalonan Suharto-Badingah di pilkada 2005 selaku partai pengusung. Kala itu, Badingah juga sudah tercatat sebagai kader PAN.

"Tahun 2005 (Badingah gabung ke PAN). Pada pilkada 2005 itu kan sebagai calon wakil bupati dengan Pak Harto. Itu sudah diberi KTA. Artinya kan kita sudah mengusung (di pilkada) 2005, 2010, dan 2015. Walaupun 2015 ini koalisi. Tetapi 2005 dan 2010 itu kan pengusung tunggal PAN," tutupnya.


Sedangkan nama Badingah sebelumnya sempat disebut Ketua Tim Kampanye Daerah Koalisi Indonesia Kerja DIY, Bambang Praswanto untuk masuk dalam Timses Jokowi-Ma'ruf.

Namun kemudian Bambang mengungkap Badingah menarik diri dari timses dan meminta wartawan untuk meminta konfirmasi kepada NasDem.

Dimintai konfirmasi secara terpisah, Ketua DPD Partai NasDem Gunungkidul Suparjo membenarkan Badingah masih menjabat dewan pembina partai NasDem. Adapun alasan Badingah menolak bergabung ke timses karena ingin fokus membangun daerah.


"Ya katanya partai pengusung (Badingah) sepakat, biar konsentrasi menyelesaikan tugas-tugas beratnya sebagai bupati Gunungkidul saat ini," ungkapnya.

"Bu Badingah itu secara jabatannya kan sebagai dewan pembina partai. Tidak hanya NasDem, kalau sudah dibutuhkan pejabat bupati itu adalah jabatan pembina partai politik. Jadi di NasDem pun juga dilibatkan sebagai pembina partai. Karena sesuai undang-undangnya seperti itu," kata Suparjo.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed