Kartini Tua Datang Berjuang, Kartini Kini Datang Berselfie

Wikha Setiawan - detikNews
Kamis, 19 Apr 2018 14:31 WIB
Monumen ari-ari Kartini jadi ajang selfie. (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)
Jepara - Monumen ari-ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara selalu ramai kunjungan di setiap menjelang peringatan hari kelahirannya. Mereka mayoritas dari kalangan remaja dan pelajar. Apa yang mereka lakukan di pusara sang pejuang emansipasi.

Monumen ari-ari RA Kartini sendiri berada di sebelah barat Kantor Kecamatan Mayong. Bangunan berarsitektur Jawa dengan paduan ukiran tersebut tidak begitu luas.

Di dalamya terdapat ditanam ari-ari atau plasenta Raden Ajeng Kartini. Di sebelah selatan terdapat tugu bertuliskan 'Tempat RA Kartini Dilahirkan 12 April 1879'. Di sisi kiri dari gerbang masuk, ada sumur yang merupakan sumber mata air milik keluarga Kartini saat masih bermukim di Mayong.


Seiring perubahan zaman, ketika hampir semua orang memegang gadget berkamera, kunjungan ke lokasi tersebut kini hanya lebih tak lebih hanya sebagai lokasi berfoto selfi.

Riana (15), seorang warga Desa Ketilengsingolelo, Welahan, mengaku baru dua kali mengunjungi ari-ari RA Kartini. Padahal dari rumahnya hanya berjarak 4 kilometer dari lokasi monumen. "Foto selfi, mumpung di sini. Nanti diaploud di instagram," ungkapnya.

Kartini Tua Datang Berjuang, Kartini Kini Datang BerselfieMonumen ari-ari Kartini jadi ajang selfie. (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)

Salsabila (17), pengunjung lain menuturkan bahwa kesempatan berkunjung ke ari-ari RA Kartini tersebut sekaligus karena ada acara 'Gebyar Mayong' yang ditempatkan di Halaman Kantor Kecamatan Mayong.

"Ada ramai-ramai di kecamatan. Ya, sekalian mampir (monumen ari-ari) untuk ngadem dan berfoto," tandasnya.


Monumen tersebut dibangun Pemda Jepara tahun 1979. Pada tahun 2016 dan 2017 dilakukan renovasi dan penataan. Meskipun rumah RA Kartini sudah tidak ada, namun peninggalan lain seperti sumur masih dijaga dengan baik.

Camat Mayong, Rini Patmini, menuturkan monumen tersebut diharapkan menjadi perenungan bahwa perempuan agar mampu berperan tanpa meninggalkan kodratnya. "Hari Kartini itu bukan hanya kebaya. Tapi lebih pada memahami dan meneruskan cita-cita RA Kartini," tandasnya. (mbr/mbr)