DetikNews
Kamis 05 April 2018, 15:20 WIB

Dear Pemerintah, Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De Tjolomadoe

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Dear Pemerintah, Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De Tjolomadoe De Tjolomadoe di Karanganyar (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu di Karanganyar, direvitalisasi oleh Kementerian BUMN. Bangunan yang kini bernama De Tjolomadoe itu disebut bakal menjadi pusat heritage, edukasi, kesenian dan bisnis. Budayawan Sardono W Kusumo memberikan kritik keras terkait tindakan pemerintah itu.

Sedikitnya ada tujuh bagian di gedung utama yang dirombak dan dialihfungsikan. Misalnya Stasiun Gilingan difungsikan untuk museum. Stasiun Ketelan difungsikan untuk restoran dan tempat pameran.

Kemudian Stasiun Penguapan menjadi lorong panjang yang kanan kirinya berjajar kios butik dan makanan. Stasiun Karbonasi digunakan untuk pusat oleh-oleh kerajinan. Bagian besalen atau bengkel kini diubah menjadi kafe.

Baca juga: Eks PG Colomadu akan Jadi Pusat Edutainment di Kawasan Joglosemar

Dear Pemerintah! Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De Tjolomadoe(Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Yang menjadi andalan ialah dua ruangan besar di belakang, salah satunya digunakan untuk gedung konser berkelas internasional (Tjolomadoe Hall). Sedangkan satunya digunakan sebagai gedung pertemuan dan pernikahan (Sarkara Hall).

"Tjolomadoe Hall juga bisa untuk multifunction hall berkapasitas sampai 2.500 orang. Kalau Sarkara Hall bisa sampai 1.200 orang," kata Direktur PT Sinergi Colomadu, Wahyono Hidayat, selaku pengelola De Tjolomadoe, Kamis (5/4/2018).

Dear Pemerintah! Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De TjolomadoeSardono Waluyo Kusumo (Foto: Grandyos Zafna)

Tahap selanjutnya nanti, pengelola akan membangun hotel di sisi barat PG Colomadu. Di seberang PG Colomadu, rencananya dibangun vila.

Di sisi lain, revitalisasi PG Colomadu mendapatkan kritik pedas dari budayawan dan seniman ternama, Sardono W Kusumo. Menurutnya, perombakan besar-besaran itu justru merupakan kesalahan besar.

Baca juga: De Tjolomadoe akan Diresmikan Jokowi, Mangkunegaran: Kami Gugat

Sardono pernah menggagas dan menyelenggarakan pementasan 'Fabriek Fikr' di bangunan PG Colomadu yang sudah tak tersentuh manusia. Untuk menciptakan kreasi spektakuler, dia mengaku membutuhkan riset sampai 2,5 tahun.

Dear Pemerintah! Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De Tjolomadoe(Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Untuk diketahui, Fabriek Fikr merupakan suguhan pentas seni, mulai dari seni olah tubuh, musik hingga visual. PG Colomadu bukan sekadar objek, namun menjadi satu kesatuan dalam pertunjukan.

"Abad ini orang mulai berpikir tentang site spesific performance, yang spesial, unik dan tidak ada duanya. Kalau semata-mata memindahkan pertunjukan dari luar ke situ, ya enggak nyambung," kata Sardono.

Pertunjukan kelas dunia, bagi dia, merupakan pentas ketika seniman mampu membuat imaji baru. Seniman berkelas harus mampu menaklukkan tempat sebesar PG Colomadu dengan pertunjukan yang benar-benar baru.

"Kalau konser biasa tidak perlu membutuhkan gedung sebesar itu, apalagi heritage. Cukup investasi sound dan lighting, lokasinya cari lapangan. Pop music itu karakternya massa, bukan tempat," imbuh guru besar yang juga mantan rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut.

Dear Pemerintah! Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De Tjolomadoe(Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Perusakan paling berat, menurutnya ialah hilangnya nilai heritage yang terbangun sejak sekitar 150 tahun lalu. Nilai tersebut bukan melulu tentang pabriknya, namun juga dampak-dampak yang timbul atas berdirinya PG Colomadu.

"Saat itu terjadi revolusi industri besar-besaran. Ada 300 pabrik seperti ini di Jawa. Dibangun jalur kereta ke Tasikmadu, Wonogiri, Klaten, ini luar biasa. Heritage ya isinya itu, bukan bendanya dirawati, diselamatkan, dipagari. Bukan!" tegasnya.

Dear Pemerintah! Ini Kritik Keras Budayawan Terkait De Tjolomadoe(Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Dari sisi fisik, menurutnya, mesin-mesin PG Colomadu telah melalui proses panjang selama 150 tahun, sehingga menciptakan fisik natural dan spesial. Dengan revitalisasi, mendadak nilai itu hilang.

"Warna-warna yang muncul pada besi baja itu enggak bisa digantikan dengan cat beli. Itulah yang dihormati. Yang dijual mahal itu. Tinggal dikasih lighting. Kalau sekarang dicat jadinya sama dengan lainnya, palsu," tegasnya.

Baca juga: Selain PG Colomadu, Ini Aset Mangkunegaran yang Dikuasai Pemerintah

Dia menyoroti adanya bagian utama dari PG Colomadu yang justru tidak ditonjolkan. Bagian itu adalah sudetan sungai yang masuk ke dalam pabrik.

"Air yang masuk ke pabrik, dulunya dibakar menjadi uap dan seluruh mesin bisa bergerak. Ini peluang menjadi sumber pendidikan teknologi, bahwa semua penemuan besar berawal dari sebuah daya imajinasi. Tapi kesempatan itu mendadak hilang," ujar Sardono.

Dengan menjaga bentuk natural PG Colomadu, seharusnya pabrik yang dibangun Sri Mangkunegara IV itu bisa menjadi jaringan sistem pelestarian warisan dunia. Sardono khawatir hal tersebut nantinya juga terjadi pada bangunan heritage lain.

"Jangan-jangan pabrik-pabrik lainnya akan menjadi seperti ini juga. Kita tidak mampu merawat heritage, justru revitalisasi akan menjadi destruksi," tutupnya.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed