Kala itu nama KH Sholeh Darat sangat diperhitungkan oleh Belanda karena ajarannya sangat berpengaruh. Bahkan ketika meninggal dan makamnya selalu didatangi banyak peziarah setiap harinya termasuk para pejuang, Belanda mulai khawatir dan memindahkan makamnya ke daerah Bergota Semarang.
"Dulu Bergota belum seperti sekarang yang jadi kompleks pemakaman. Dulu masih rawa-rawa, hutan, belum banyak dijangkau. Itu siasat Belanda agar tidak ada sentralisasi massa. Ada yang bilang, saat dipindahkan, ternyata hanya kafannya saja, jasadnya tidak ada," ujar satu takmir Masjid Kiai Sholeh Darat, Homsin, Minggu (20/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Melacak Jejak Mbah Sholeh Darat, Mahaguru Santri Nusantara
Meski tanpa makam, kompleks Masjid Kiai Sholeh Darat tetap banyak dikunjungi peziarah. Maka 4 tahun lalu dibuatlah makam di sana untuk memudahkan para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
"Gus Lukman dan takmir memunculkan itu (makam). Setelah makam diaktifkan kembali, bulan Ramadan 4 tahun lalu, banyak yang ke sini. Menurut yang saya ketahui, sampai Pasuruan bahkan Madura dan Sumenep datang pakai 2 bus ke sini. Jakarta juga ada, Yogya, Sleman, hampir merata," tandasnya.
KH Sholeh Darat dikenal juga dengan karya-karya tulis dan terjemahannya yang diyakini jumlahnya ada 40 kitab. Namun hingga saat ini baru 12 judul yang ditemukan yaitu Majmu'at Syari'atal-Kafiyat lo al-Awam, Munjiyat Metik Sangking Ihya' Ulum al-Din al-Ghazali, terjemahan Al-Hikam karya Ahmad bin Athoilah, Lathaif al-Thaharah wa Asrorus Solah, Manasik al-Haj, Pasolatan, Sabillu 'Abid, Minhaj al-Atqiya', Faidh al-Rahman, Al-Mursyid al-Wajiz, Hadits al-Mi'raj, dan Syarah Maulid al-Burdah.
Baca juga: Seberapa Besar Pesantren Mbah Sholeh Darat yang Termasyur Itu
Sampai saat ini keturunan KH Sholeh Darat masih berusaha melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab yang lain di Jepara, Kendal bahkan sampai ke negara timur Tengah.
"Untuk melacak fakta fisik Mbah Sholeh Darat memang sulit karena dulu ada yang disita Belanda. Kami sekarang mengoptimalkan yang ada. Selain uri-uri makam, ya mempelajari kitabnya. Mbah Sholeh Darat itu luar biasa, mencerdaskan bangsa, cerdas. Kitabnya itu dibuat agar masyarakat mudah mengerti dan Belanda tidak bisa baca," ujar Homsin. (alg/mbr)