DetikNews
Minggu 22 Oktober 2017, 14:44 WIB

Hari Santri Nasional

Melacak Jejak Mbah Sholeh Darat, Mahaguru Santri Nusantara

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Melacak Jejak Mbah Sholeh Darat, Mahaguru Santri Nusantara Masjid KH Sholeh Darat di Semarang. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang - Sebuah masjid biasa dengan genteng berwarna hijau berdiri di perkampungan Jalan Dadapsari nomor 212 Semarang dan seolah tidak ada yang istimewa. Siapa sangka ternyata lokasi tersebut penuh sejarah dari mahaguru para pahlawan dan ulama nusantara yang tersohor.

Kiai Haji Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani atau akrab disapa Kiai Haji Sholeh Darat, nama besar tersebut memang kurang dikenal masyarakat umum dibanding para muridnya antara lain pendiri Nahdlaltul Ulama, KH Hasyim Asy'ari; pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan; dan pahlawan emansipasi wanita Raden Ajeng Kartini.

Pondok Pesantren Darat tempat mengajar KH SHoleh Darat memang sudah tidak berbekas, namun kini berdiri masjid dengan nama sang kiai yaitu Masjid Kiai Sholeh Darat di bekas lokasi pondok pesantren.

 Melacak Jejak Mbah Sholeh Darat, Mahaguru Santri NusantaraOrang-orang salat d Masjid Sholeh Darat. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Ada satu keturunan Kiai Sholeh Darat yang tinggal di dekat Masjid yaitu Luqman Hakim Saktiawan atau Gus Lukman. Saat ditemui, Gus Lukman dengan ramah mengarahkan agar bertanya kepada ketua takmir, Homsin Basri terkait sejarah Masjid dan cerita tentang KH Sholeh Darat.

"Zaman Mbah Sholeh dulu, itu bentuknya langgar atau musala dari kayu," kata Homsin mengawali perbincangan, Minggu (22/10/2017).

Musala tersebut makin rapuh dimakan usia dan tergenang rob hingga muncul ide untuk mendirikan Masjid di sana saat periode cucu KH Sholeh Darat yaitu Ali Cholil. Bangunan musala asli sudah roboh dan berdiri Masjid Kiai Sholeh Darat tahun 1992. Karena menjadi langganan rob, peninggian sering dilakukan sehingga jarak atap dan tanah semakin sempit.

"Ini sudah peninggian yang ketiga atau empat, sehingga kelihatan pendek," kata Homsin.

Selain digunakan untuk beribadah Salat, sejumlah kegiatan juga digelar seperti mengkaji kitab peninggalan KH Sholeh Darat, tahlilan, dan pengajian. Pesertanya pun tidak hanya dari Semarang namun sejumlah daerah di Jawa dan Madura. Setiap tahunnya juga diadakan pertemuan keluarga besar bani KH Sholeh Darat.

"Jemaahnya yang datang banyak, dari luar Semarang juga ada," pungkas Homsin.
(alg/mbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed