Sosiolog: Saatnya Street Art Suarakan Penyempitan Ruang Publik

Sosiolog: Saatnya Street Art Suarakan Penyempitan Ruang Publik

Sukma Indah Permana - detikNews
Senin, 10 Apr 2017 15:07 WIB
Sosiolog: Saatnya Street Art Suarakan Penyempitan Ruang Publik
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Yogyakarta - Sejarah dunia seni pinggir jalan di Yogyakarta dan Solo telah berjalan lama. Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, menilai saat ini sudah saatnya street art menyuarakan penyempitan ruang publik karena gempuran iklan komersial.

"Relevansi street art sampai sekarang masih ada. Tapi (seharusnya) pesannya bagaimana mengatasi sempitnya ruang publik ini," ujar Arie saat berbincang dengan detikcom, Kamis (6/4/2017).

Menurutnya saat ini ruang publik di Yogyakarta sudah didominasi oleh iklan. Terlebih di lokasi-lokasi strategis tengah kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Street Art Yogya, Diterima Publik Tapi 'Berebut' Ruang dengan Iklan

Dalam situasi itulah saat ini street art tidak hanya berkompetisi secara ruang dengan keberadaan media sosial, namun juga direpresi oleh komersialisasi ruang publik. "Menurut saya ini pragmatisnya Pemda dalam mengelola ruang publik," imbuhnya.

Padahal, lanjut Arie, seni yang muncul di ruang publik akan mendatangkan ketertarikan wisata yang juga akan menguntungkan pemerintah daerah. "Karena kalau dilakukan dengan sistematis, dengan baik, maka bisa dinikmati dan menjadi obyek wisata. Itu artinya ada pendapatan untuk pemerintah," kata Arie.

Dengan mendekatkan seni kepada masyarakat maka seni bukan lagi hal yang eksklusif. Seni akan menjadi barang yang melekat dalam diri masyarakat sebagai budaya. "Ini akan berpengaruh pada corak pelaku. Seni bisa membantu orang untuk punya daya refleksi, mengelola emosi, karena seni menjadi alat untuk promoting humanisme," kata Arie.

Street Art: Tekan Vandalisme, Pemkot Solo Ciptakan Kampung Mural

Hal serupa juga disampaikan dosen seni rupa di ISI Surakarta, Albertus Rusputranto PA. Menurutnya saat ini street art telah berada pada fase pascaotentik. Street art tidak lagi dibebani nilai-nilai sebagai media agitasi atau propaganda. Street art saat ini adalah bagian dari gerakan subkultur yang layak diperhitungkan sebagai media ekspresi publik.

"Saya tidak menyoroti soal apakah street art sudah kehilangan nilai, karena itu bisa bergeser-geser. Sekarang sebenarnya street art telah menjadi pop art yang digemari anak-anak anak-anak muda. Karena itu selanjutnya eksistensi street art lebih pada upaya perebutan ruang publik dengan kalangan komersial," ujarnya. (sip/mbr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads