DetikNews
Senin 10 April 2017, 13:57 WIB

Street Art Yogya, Diterima Publik Tapi 'Berebut' Ruang dengan Iklan

Sukma Indah Permana - detikNews
Street Art Yogya, Diterima Publik Tapi Berebut Ruang dengan Iklan Foto: Sukma Indah Permana/detikcom
Sleman - Kegiatan mural dan grafiti di jalanan Yogyakarta semakin marak beberapa tahun belakangan. Masyarakat mulai menerima keberadaan mereka, tapi 'perebutan' ruang terjadi dengan iklan komersial.

Salah satu komunitas mural dan grafiti di Yogyakarta adalah 69CARTEL. Nicolas (24 tahun), salah satu anggota komunitas yang berdiri pada tahun 2015 ini, menceritakan saat ini masyarakat Yogyakarta bisa lebih mengerti pada apa yang dia dan teman-temannya kerjakan. Bahkan beberapa kali ada warga yang meminta mereka menggambar di tembok milik warga.

"Kalau kita sedang menggambar, pernah ada bapak-bapak yang mendatangi kita, melihat-lihat, ada juga yang meminta kami menggambar di lokasi dia," ujar Nicolas saat ditemui detikcom di daerah Jalan Kaliurang KM 7, Sleman.

Baca juga: Street Art; Melawan Kemapanan, Menjinakkan Keisengan

Mereka juga kerap berkarya di tembok gedung sekolah dan disaksikan dengan antusias oleh para siswanya. Masyarakat, kata Nicolas sudah bisa memahami bedanya vandalisme dan karya grafiti dan mural.

"Mural dan grafiti sudah semakin dekat dengan masyarakat," imbuhnya.

Penerimaan warga Yogyakarta dirasakan Nico setelah tahun 2010. Kala itu ada sebuah acara berskala besar di Yogyakarta yang melibatkan banyak seniman mural dan grafiti di Yogyakarta.

Panitia acara tersebut, kata Nico, mengurus perizinan untuk aksi street art di sejumlah titik di Yogyakarta. Acara itu menjadi titik balik atas aksi street art di Yogyakarta. Respon positif mulai diterima baik dari masyarakat dan juga pemerintah.

"Setelah acara itu, Satpol PP kalau melihat kita kerja ya paling tanya saja, sedang apa. Setelah kita jelasin, ya sudah, dibolehin. Kalau dulu, diangkut semuanya (peralatan)," tutur Nico.

Foto: Sukma Indah Permana/detikcom

Baca juga: Mural Jembatan Lempuyangan, Street Art yang Tersisa di Yogyakarta

Ketika penerimaan publik terhadap street art sudah semakin terbuka, mereka kini mereka berhadapan dengan iklan yang semakin menjamur. Anggota 69CARTEL yang lain, Obi, menceritakan pemasangan iklan berupa selebaran dan pamflet di ruang publik di Yogyakarta sering membuat mereka menyerah.

"Sebal juga, kalau iklan yang sangat banyak ditempel di dinding. Tulisannya nggak kelihatan juga, jadi tidak bisa dibaca sama orang, tapi ditempel banyak sekali," kata Obi.

Sekali dua kali, Obi dan kawan-kawannya akan menumpuk selebaran itu dengan karya grafiti mereka. Namun beberapa kali pula mereka memutuskan pindah dari lokasi tersebut. "Karena biasanya misal sekarang kita gambar tapi besoknya sudah penuh sama selebaran lagi," ujarnya.

Hal ini berbeda dengan jika karya mereka hilang karena ditumpuk oleh karya street art lain. Menurutnya itu sudah menjadi risiko menjadi seniman yang berekspresi di ruang publik.

"Siapapun boleh menumpuki (dengan karya baru). Sehingga dokumentasi itu penting. Ini jadi galeri mahal karena kita nggak tahu kapan (karyanya) akan hilang," kata Obi.
(sip/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed