Kabupaten Bandung Barat

Pengunjung-Pedagang Diminta Waspada Erupsi Freaktik Tangkuban Perahu

Whisnu Pradana - detikNews
Senin, 14 Feb 2022 16:47 WIB
tangkuban perahu
Gunung Tangkuban Perahu (Foto: Ria Rahmawati/d'Traveler)
Bandung -

Badan Geologi meminta semua pihak untuk mewaspadai aktivitas Gunung Tangkuban Parahu meskipun saat ini masih berada di Level 1 (normal) usai menyemburkan asap putih dari kawah pada Sabtu (12/2/2022) siang.

Kegempaan Gunung Tangkuban Parahu didominasi oleh gempa embusan yang berkaitan dengan aktivitas permukaan. Hal ini mengakibatkan perubahan pada medium seperti terbentuknya rekahan sehingga hembusan asap keluar di Kawah Ecoma.

"Pola ini juga teramati sebelum erupsi Juli 2019, saat itu disertai peningkatan kegempaan vulkanik yang signifikan namun pada Februari 2022 ini tidak teramati adanya peningkatan kegempaan," tutur Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eko Budi Lelono melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (14/2/2022).

Eko mengatakan pengunjung serta pedagang di kawasan Gunung Tangkuban Parahu juga patut mewaspadai letusan freatik di Gunung Tangkuban Parahu

"Karena itu (letusan freatik) dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala peningkatan vulkanik yang jelas," ucap Eko.

Selain itu semua pihak juga harus mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas-gas vulkanik yang dapat terjadi secara tiba-tiba, yaitu dengan tidak berlama-lama berada di sekitar area kawah aktif Gunung Tangkuban Parahu.

"Hal itu harus dilakukan agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa," ujar Eko.

Saat ini seismograf merekam juga getaran menerus yang diakibatkan oleh hembusan gas maupun angin/noise. Energi seismik yang diestimasi berdasarkan perata-rataan nilai amplitudo seismic (Real time Seismic Amplitude Measurements/RSAM) menunjukkan fluktuasi tetapi belum teramati adanya peningkatan yang signifikan.

"Berdasarkan estimasi nilai koherensi seismik Stasiun RTU, pada bulan Februari 2022 menunjukkan adanya penurunan nilai koherensi yang terjadi akibat peningkatan tekanan pada tubuh Gunung Tangkuban Parahu," tutur Eko.

Berdasarkan hasil pengamatan visual pada periode 30 Januari 2022 hingga 13 Februari 2022 menunjukkan asap kawah ratu berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi umumnya tidak teramati.

Pada tanggal 12 Februari 2022 sejak pukul 11.43 WIB teramati hembusan asap berwarna putih dari Kawah Ecoma dengan intensitas tipis hingga kuat dengan tinggi mencapai 100 meter dari dasar kawah.

Sementara pada tanggal 13 Februari 2022 teramati asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi asap 20-60 meter dari dasar kawah.

"Pengamatan visual dan instrumental yang dilakukan mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu belum mengalami peningkatan yang signifikan," ucap Eko.

(yum/bbn)