Dilanda Kekeringan, Petani di Lebak Selatan Alami Puso

Fathul Rizqoh - detikNews
Senin, 24 Jan 2022 13:12 WIB
Lahan persawahan warga kekeringan akibat aktivitas tambang
Foto: Lahan persawahan warga kekeringan akibat aktivitas tambang (Istimewa).
Lebak -

Kekeringan melanda wilayah Bayah Timur, Lebak Selatan. Akibatnya, empat blok lahan persawahan warga di Desa Penambulan, Bayah Timur tidak bisa ditanami padi.

Informasi yang dihimpun, kekeringan itu diduga dampak dari pertambangan batu di sekitar sumber mata air warga. Ada empat blok atau sekitar ratusan hektar lahan persawahan warga yang terdampak. Empat blok itu di antaranya blok Lebak Kadu, blok Cijontor, blok Cilimus, dan blok Lebak Tangkele.

"Percuma dilanjut (tanam padi), karena inimah pastinya gagal panen. Ini sudah yang kesekian kalinya terjadi. Kami bingung mau protes ke mana, ke perusahaan juga kayaknya percuma," ujar salah satu petani Endi dikonfirmasi, Senin (24/1/2022).

Petani lainnya, Kios mengaku tidak berani menggarap sawahnya yang berada tepat di bawah area pertambangan. Dia khawatir akan membahayakan dirinya apabila terjadi longsoran batu.

"Mau garap gimana? yang ada saya takut ketimpa batu dari lokasi tambang. Kalau lagi meledakan tambang, batu pada jatuh ke lokasi sawah saya. Ketimbang bahaya, mending saya enggak garap sawah itu," kata Kois.

Sementara itu Sardan, petani lainnya menyebutkan sebelum ada tambang, sawahnya bisa panen sebanyak dua kali. "Sekarang, setelah gunung yang ada di atas kami dijadikan tambang oleh pabrik semen, pasokan air sudah tidak ada," kata Sardan.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Bayah Timur Rafik Rahmat Taufik membenarkan adanya kekeringan pada lahan persawahan warga. Menurutnya, kekeringan ini sudah terjadi sejak 4 tahun lalu yang disebabkan adanya aktivitas pertambangan di dekat sumber mata air.

"Iya betul, ada kekeringan. Jadi intinya ada penambangan batu di sekitar sumber mata air. Dampaknya, aliran air mengering dan enggak bisa mengaliri sawah," ujarnya, dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Dirinya mendorong perusahaan untuk bertanggungjawab atas kerugian yang dialami oleh para petani. Namun, hingga saat ini belum ada upaya nyata dari perusahaan untuk bertanggungjawab atas kekeringan ini.

"Warga mah mintanya sawah bisa ditanami lagi. Bisa bercocok tanam lagi. Kalau dihitung kerugian, jelas besar sekali," paparnya.

Dirinya pun mendesak pihak perusahaan agar bisa bertanggung jawab atas persoalan ini. "Jangan sampai hadirnya industri di Kecamatan Bayah justru merugikan masyarakat. Mereka hadir harusnya memberi kesejahteraan," ujarnya.

(mso/mso)