Wanti-wanti DPRD Tasikmalaya Usai Kasus Bocah Meninggal Pascavaksinasi

Faizal Amiruddin - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 19:48 WIB
Vaksinasi COVID-19 untuk anak 6-11 tahun digelar di SDN Suryakencana CBM, Kota Sukabumi. Beberapa anak tampak menangis dan menutup mata saat disuntik.
Ilustrasi vaksinasi anak (Foto: Siti Fatimah)
Tasikmalaya -

Kejadian meninggalnya seorang bocah laki-laki di Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya, Senin (17/1/2022) selang 2 hari setelah vaksinasi mendapat sorotan dari banyak pihak.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Gilman Mawardi meminta Pemkot Tasikmalaya mengantisipasi dampak psikologis dari kejadian ini terhadap masyarakat. Jangan sampai masyarakat menjadi takut anak-anaknya mendapatkan vaksinasi.

"Jangan sampai masyarakat yang tadinya berminat divaksinasi jadi ragu bahkan takut. Masyarakat harus diedukasi dengan penjelasan yang gamblang terkait kasus ini," kata Gilman, Selasa (18/1/2022).

Gilman mengatakan pihaknya akan memanggil Dinas Kesehatan untuk meminta penjelasan terkait kejadian ini.

"Detail penyebab kematian dari kejadian ini harus dijelaskan, sehingga masyarakat paham. Kami sudah agendakan untuk rapat dengar pendapat dengan Dinkes," kata Gilman.

Selain itu Gilman juga meminta agar setiap anak yang hendak divaksinasi harus didampingi oleh orangtua. "Sehingga proses screening atau penggalian informasi riwayat kesehatan bisa maksimal," kata Gilman.

Lebih lanjut dia mengatakan jika benar korban meninggal akibat virus DBD maka perlu diambil langkah-langkah penanggulangan.

"Sejauh ini informasi yang kami dapat, penyebab meninggalnya karena DBD. Maka harus ada penanganan," kata Gilman.

Sebelumnya korban warga Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya itu meninggal dunia pada Senin (17/1/2022) sekitar pukul 18.00 WIB.

Sementara dia mendapatkan vaksinasi pada hari Sabtu (15/1/2022) di sebuah sekolah dasar tempat dia menimba ilmu.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat mengatakan bahwa kejadian itu bukan merupakan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) murni. Melainkan sebuah kasus yang tergolong KIPI koinsiden.

"Bukan KIPI murni, tapi dalam istilah medis dinamakan KIPI koinsiden. Jadi ini adalah KIPI yang terjadi karena ada penyakit yang mendasarinya," kata Uus, Senin (17/1/2022) malam.

Dia menambahkan KIPI koinsiden ini berarti fatalitas atau penyebab utama kematian bukan karena imunisasi atau vaksinasi yang diterima oleh pasien. "Jadi fatalitasnya belum bisa dipastikan karena imunisasi," kata Uus.

Lebih lanjut Uus menjelaskan saat datang ke rumah sakit, korban dalam kondisi kejang dan terjadi penurunan kesadaran. Kondisinya terus memburuk sebelum akhirnya meninggal dunia.

"Setelah kejadian kami menggelar rapat dengan tim dokter. Tim KIPI, dokter anak, dokter ICU dan lainnya," kata Uus.

Mereka menyimpulkan bahwa kejadian ini adalah kasus Expanded Dengue Syndrome (EDS), sebuah penyakit yang disebabkan infeksi virus dengue. "Fatalitas disebabkan oleh expanded dengue," kata Uus.

Dia mengatakan konklusi medis itu diambil atau disimpulkan merujuk kepada hasil tes demam berdarah NS1 yang menunjukan hasil positif. "Hasil NS1 ini menjadi bukti yang tak bisa disanggah bahwa korban terjangkit virus dengue," kata Uus.

Hasil pemeriksaan lain yang menunjang pendapat medis itu adalah hasil pemeriksaan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase). "SGOT dan SGPT di anak ini 1.000. Artinya terjadi kegagalan liver akut," kata Uus.

Terkait mengapa saat mendapatkan vaksinasi anak itu terlihat baik-baik saja, Uus menduga saat itu tubuh anak dalam masa inkubasi infeksi virus dengue, sehingga belum menunjukan atau merasakan gejala gangguan kesehatan.

"Intinya kami berharap masyarakat bisa memahami, bahwa kasus ini bukan KIPI murni. Penyebab fatalitasnya bukan akibat vaksinasi. Jangan takut untuk divaksinasi," kata Uus.

Vaksinasi Anak di Kota Tasikmalaya Wajib Didampingi Orangtua

Sekretaris Daerah Pemkot Tasikmalaya Ivan Dicksan mengatakan pihaknya mengeluarkan aturan yang mewajibkan anak yang hendak divaksinasi wajib didampingi orangtua. Langkah ini diambil sebagai respons atas kejadian meninggalnya seorang anak beberapa hari setelah divaksinasi.

Dengan didampingi orangtua, diharapkan tim medis bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas terkait kondisi kesehatan anaknya.

"Usai kejadian ini, setiap orang tua siswa sekarang diwajibkan mendampingi anaknya saat hendak menerima vaksin. Itu untuk menjelaskan riwayat penyakit yang dideritanya kepada dokter saat screening awal. Kasus ini jangan terulang lagi," kata Ivan, Selasa (18/1/2022).

Dia menegaskan bahwa vaksinasi anak itu aman, tapi jika terdapat penyakit bawaan bisa menimbulkan risiko serius.

"Saat screening saya harap jujur. Sampaikan secara terbuka, karena kalau tak dijelaskan, dokter tidak tahu," kata Ivan.

Lebih lanjut dia menjelaskan saat ini pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan resmi terkait kasus tersebut.

Hasil tersebut akan menjadi bahan evaluasi agar kasus serupa tidak terulang kembali.

"Untuk penyebab pasti kami masih menunggu laporan Dinas Kesehatan. Karena yang bisa memastikan adalah tim dokter. Sekarang sedang evaluasi dulu. Mudah-mudahan hari ini ada hasilnya. Secara umum vaksinasi aman, tapi kondisi tertentu ada risiko," kata Ivan.

Lihat juga video 'Menkes Akan Cari Sekolah yang Paksa Ortu Teken Surat Risiko Vaksin':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)