Praktisi Hukum Kecam Pembebasan Tersangka Pemerkosa Gadis Difabel

Bahtiar Rifa - detikNews
Selasa, 18 Jan 2022 16:37 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom).
Serang -

Sejumlah praktisi hukum angkat bicara terkait pembebasan dua tersangka pelaku pemerkosaan gadis dengan keterbelakangan mental di Kota Serang. Mereka meminta polisi terus melanjutkan proses hukum sesuai aturan yang berlaku.

"Mengecam pembebasan dua tersangka tersebut. Pembebasan tersebut mencederai rasa keadilan publik, alasan pencabutan laporan tidak bisa dibenarkan. Hal ini mengingat perkosaan merupakan delik biasa bukan delik aduan. Meskipun dicabut, polisi wajib meneruskan proses hukum," kata Pengurus LBH Keadilan Abdul Hamim Jauzie, Serang, Selasa (18/1/2022).

Pernikahan salah satu tersangka dengan korban juga tidak bisa menghapus unsur pidananya. Itu juga bukan solusi karena bisa saja terjadi kekerasan di masa akan datang terhadap korban.

"Berpotensi terjadi kekerasan di masa yang akan datang. Trauma korban yang tidak berkesudahan, seharusnya dinas terkait membantu pemulihan dan pemenuhan hak-hak korban," ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang (UNPAM) Halimah Humayrah Tuanaya. Meskipun pelapor mencabut laporannya, polisi tetap harus melanjutkan proses hukum atas pidana pemerkosaan itu.

Pemerkosaan katanya bukan delik aduan. Ditambah korban adalah perempuan disabilitas yang masuk pada kelompok rentan.

"Seharusnya dilakukan penyelidikan lebih lanjut terkait hal apa yang melatarbelakangi pelapor mencabut laporannya, apakah pelapor mengalami tekanan, ancaman, dan lain sebagainya," kata Halimah.

Pernikahan antara tersangka dan korban, ia pandang bukan bentuk pemulihan pasca tindak pidana. Restorative justice tidak memposisikan korban untuk jadi korban kedua kali. Lantas ia juga mempertanyakan apakah pernikahan itu atas kehendak korban.

"Jika seperti ini, korban telah menjadi korban untuk kedua kalinya karena hukum yang tidak bekerja. Hukum harus tampil memberikan perlindungan yang cukup bagi korban, sebagai bentuk perlindungan negara atas warga negaranya," ujarnya.

Ia meminta polisi tetap melakukan penyidikan terhadap peristiwa ini. Apalagi memang korban adalah disabilitas dan perl perharian lebih termasuk perlindungan hukum.

EJ (39) dan S (46), dua tersangka pemerkosaan gadis dengan keterbelakangan mental di Serang dibebaskan. Pasalnya pihak pelapor mencabut laporan polisi terkait kasus pemerkosaan tersebut.

Selain itu, pihak pelapor dan keluarga tersangka telah menyelesaikan kasus pemerkosaan ini secara musyawarah. Salah satu tersangka juga bersedia untuk menikahi korban.

(bri/mso)