Galian Tanah Bikin Kotor Jalan, Dedi Mulyadi Ngamuk Ancam Palangkan Mobil

Dian Firmansyah - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 18:28 WIB
Dedi Mulyadi ngamuk lantaran melihat kondisi jalan provinsi di Subang, Jawa Barat kotor dan licin akibat tanah yang berceceran dari truk pengangkut galian.
Dedi Mulyadi ngamuk lantaran melihat kondisi jalan provinsi di Subang, Jawa Barat kotor dan licin akibat tanah yang berceceran dari truk pengangkut galian. (Foto: istimewa)
Subang -

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi ngamuk lantaran melihat kondisi jalan provinsi di Subang, Jawa Barat kotor dan licin akibat tanah yang berceceran dari truk pengangkut galian.

Kejadian bermula saat Kang Dedi Mulyadi mendapat keluhan dari warga Desa Lengkong, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang, yang merasa terganggu karena jalan raya menjadi kotor oleh tanah galian.

"Ini yang berserakan tanah galian PTPN, Pak. Tanah kotori jalan jadi licin," ucap salah seorang pria yang saat itu menghampiri Dedi Mulyadi, informasi iniditerima detikcom dari tim humas Dedi Mulyadi.

Mendengar hal tersebut Dedi langsung melakukan penelusuran ke areal Perkebunan Jalupang milik PTPN VIII. Di sana ia mendapati jalan perkebunan rusak dan dilewati oleh sejumlah truk yang mengangkut tanah.

Bahkan jalan yang rusak parah membuat mobil Dedi tidak bisa terlalu dalam untuk menelusuri keberadaan galian tanah tersebut. Jalan hanya bisa dilalui oleh truk.

Dedi pun akhirnya menemukan satu truk yang sedang terparkir di pinggir jalan. Ia menyampaikan agar sopir truk bisa lebih peka dengan membersihkan ban dan bagian truk lainnya sebelum masuk ke jalan raya.

"Ini ban kotor masuk ke jalan, tanah berserakan, hujan dikit pengendara motor bisa jatuh. Belum lagi kalau tanah mengering bisa menyebabkan debu," ucap Dedi kepada sopir truk.

Tak jauh dari situ, Dedi menemukan warung yang selama ini digunakan sebagai tempat pungutan liar pada setiap truk yang lewat. Di tempat ini Dedi bertemu beberapa orang pria yang mengaku warga sekitar.

Dari pengakuan pria tersebut setiap truk yang lewat membayar Rp 10 ribu. Uang tersebut disebutnya untuk kepentingan warga.

"Dasarnya apa minta Rp 10 ribu? Buat apa? Kalau bapak bilang itu uang untuk warga, buktinya tadi warga protes minta tolong ke saya," ucap Dedi.

"Kalau tidak ada dasarnya saya akan lapor ke Polres bahwa ini pungutan liar. Pokoknya kalau ini masih kotor besok mobil saya, saya palangin di sini," tegas Dedi Mulyadi.

Terkait hal tersebut Dedi pun sempat meminta penjelasan kepada Manajer Perkebunan Jalupang Yudi Mulyadi melalui sambungan telepon. Ia menanyakan asal usul tanah yang diangkut diduga berasal dari perkebunan.

Ia meminta penjelasan apakah ada kerja sama yang jelas antara perkebunan dan pihak yang melakukan pengangkutan tanah. Sebab truk tersebut melintas di areal perkebunan hingga menyebabkan kerusakan jalan. Tak lupa ia pun menyampaikan keluhan warga terkait tanah yang berceceran di jalan.

"Saya hanya ingin tahu apakah ada perjanjian kerja sama, kemudian nilai ekonominya apakah masuk ke kas PTPN atau tidak. Lalu kajian dari KLHK seperti apa," tanya Dedi pada Yudi.

"Itu hanya lewat saja, tanahnya di luar area perkebunan. Saya tidak tahu kalau lewat perkebunan, saya tahunya lewat jalan desa. Sejauh ini belum ada izin penggunaan jalan. Saya kurang tahu juga siapa yang punya galian," jawab Yudi.

Kang Dedi Mulyadi meminta agar pihak perkebunan segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Sebab jalan areal perkebunan menjadi rusak parah.

"Bapak kan punya otoritas, kalau bapak takut tinggal bilang siapa yang backing. Sekarang itu tegakkan aturan sesuai prosedur," ucap Dedi.

Ia berharap hal seperti ini tidak lagi terjadi di tengah masyarakat. Sebab meski bagi sebagian orang ceceran tanah sepele namun bisa berakibat kecelakaan di jalan raya yang bisa merenggut nyawa.

Dedi pun berharap semua pihak mulai tingkat desa hingga pemerintah dalam hal ini Perkebunan Jalupang bisa lebih peka terhadap permasalahan yang ada untuk segera ditindaklanjuti.

"Ini mungkin dianggap hal kecil oleh sebagian orang, tapi kalau terus dibiarkan akan menjadi penyakit," pungkas Dedi Mulyadi.

Lihat juga video 'Bupati Purwakarta Tutup Paksa Galian Tanah Ilegal yang Rusak Jalan!':

[Gambas:Video 20detik]



(yum/bbn)