Cerita Rumah Jadul Sumedang Pernah Disinggahi Jenderal Besar A.H Nasution

Nur Azis - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 16:52 WIB
Potret Jenderal Besar A.H Nasution saat singga di salah satu rumah di Desa Cibubuan, Sumedang.
Foto: Potret Jenderal Besar A.H Nasution saat singga di salah satu rumah di Desa Cibubuan, Sumedang (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Sederet rumah jadul berjejer di sepanjang jalan di Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang. Salah satunya rumah milik pasangan Yuyus Setia Siswana (61) dan Popon Sopariah (59).

Rumah mereka merupakan rumah peninggalan yang diturunkan secara turun temurun dari buyut, kakek hingga diteruskan oleh keduanya.

"Menurut buyutnya dulu, rumah ini dibangun selama dua tahun dari 1958 sampai 1960, mungkin waktu itu sulit untuk bahan-bahannya yah," ungkap Yuyus saat ditemui detikcom di rumahnya belum lama ini.

Rumah Yuyus juga diketahui memiliki nilai sejarah. Rumah tersebut pernah disinggahi oleh Jenderal Besar TNI (alm) A.H Nasution saat napak tilas peristiwa long march Pasukan Siliwangi dari Yogyakarta sampai ke Bandung dengan terlebih dulu singgah di Sumedang, yakni di Buahdua.

"Menurut cerita kakek, kata bapak, dulu pengawal Jenderal Nasution mencari rumah untuk menginap, tapi setelah mencari-cari sang Jenderal ingin di rumah ini cuma semalam, sampai jam dua malam, paginya pulang lagi," terangnya.

Yuyus pun menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan kakek dan neneknya sedang berdampingan dengan Jenderal Besar A.H Nasution.

"Ini nenek saya, ini kakek saya dan yang di tengah Jenderal A.H Nasution," ujarnya sambil menunjuk pada foto tersebut.

Selain unik, salah satu rumah warga di Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, juga memiliki nilai sejarah. Rumah ini pernah disinggahi Jenderal A.H Nasution.Selain unik, salah satu rumah warga di Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, juga memiliki nilai sejarah. Rumah ini pernah disinggahi Jenderal A.H Nasution. (Foto: Nur Azis/detikcom).

Menurut orang tuanya, kata Yuyus, pengawalan cukup ketat saat Sang Jenderal menginap di rumahnya.

"Bapak saya pas mau pulang ke rumah heran kenapa banyak mobil tentara, tahunya ada Jenderal menginap di rumah, pas mau masuk orang tua saya juga di periksa dulu," tuturnya.

Yuyus menuturkan Kecamatan Buahdua saat itu dikenal juga dengan sebutan Yogyakarta dua. "Jadi kata orang tua dulu, Buahdua disebut juga sebagai Yogya dua," terangnya.

Sekadar diketahui, Buahdua dikenal dengan sebutan Yogya Dua. Hal itu merunut pada peristiwa long march pasukan Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat saat terjadi agresi militer II.

Tepat pada 18 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II dengan menggempur lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta. Pada perististiwa tersebut, pasukan Siliwangi oleh Jenderal Soedirman diperintahkan untuk kembali menguasai kantong-kantong kekuatan di Jawa Barat yang dikuasai oleh Belanda.

Pada saat hijrah keduanya ini, setelah tiba di Jawa Barat, salah satu daerah yang disinggahi oleh pasukanSiliwangi yakni kawasansekitaranConggeang danBuahdua,Sumedang. DaerahBuahdua menjadi salah satu basis pertahanan kala itu menggantikan Yogyakarta.