Rumah Jadul Seharga Miliaran di Sumedang: Saksi Bisu Perjuangan Siliwangi

Nur Azis - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 14:30 WIB
Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, masih mempertahankan desain rumah akhir 1950-an hingga 1960-an. Rumah jadul ini bahkan ditawar miliaran rupiah.
Seorang warga sedang berdiri di rumah tempat pertemuan antara Letkol Sadikin dengan dengan Bupati Sumedang dibawah kekuasaan Belanda, yakni Raden Tumenggung M. Singer pada peristiwa long march kedua (1948-1949). (FOTO Nur Azis/detikcom)
Bandung -

Desa Cibubuan merupakan salah satu desa di Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang. Di sana terdapat sederet rumah jadul yang beberapa diantaranya memiliki nilai sejarah.

Deretan rumah jadul mudah ditemui di sepanjang jalan saat memasuki desa tersebut. Rumah-rumah dengan bangunannya yang khas tampak begitu unik dan menarik.

Namun siapa sangka, beberapa diantaranya memiliki nilai sejarah. Salah satunya rumah peninggalan Kardun Martapura bersama istrinya Salni pada saat peristiwa long march kedua Divisi Siliwangi saat diharuskan kembali ke Jawa Barat (1948-1949).

Arys Rukmana (58) yang menikah dengan Cucu Kardun Martapura, Tintin Somadipura (56), menjelaskan bahwa rumah nomor 8, RT/RW 07/02 di Desa Cibubuan merupakan rumah bebuyutnya yang memiliki sejarah cukup penting. Rumah tersebut menjadi tempat pertemuan saat pasukan Siliwangi akan memasuki Kota Bandung.

"Pada peristiwa long march kedua, sebelum memasuki Kota Bandung, pasukan Siliwangi mengadakan pertemuan di rumah itu, pertemuan itu bertujuan untuk menahan pasukan Siliwangi agar tidak masuk dulu ke Kota Bandung," ungkap Arys dengan didampingi istrinya saat ditemui detikcom di rumahnya beberapa hari lalu.

Arys menyebutkan pertemuan itu dilakukan antara Panglima Pasukan Siliwangi Letkol Sadikin dengan Bupati/residen Sumedang di bawah kekuasaan Belanda, yakni Raden Tumenggung M. Singer.

"Pada saat pertemuan itu tidak membuahkan kesepakatan dimana Letkol Sadikin bersama pasukan Siliwanginya bertekad tetap akan menerobos Kota Bandung, dalam pertemuan itu, Letkol Sadikin keluar sambil berucap 'merdeka atau mati'," katanya.

Arys menjelaskan pasca pertemuan itu maka terjadilah pertempuran antara Pasukan Siliwangi dengan tentara Belanda di kawasan Cadas Pangeran. Dalam pertempuran itu, tentara Belanda berhasil dipukul mundur dan dimenangkan oleh Pasukan Siliwangi.

"Akibat pertempuran itu, Belanda memerintahkan tentaranya untuk melakukan operasi sapu bersih, akibatnya pasukan Siliwangi harus meninggalkan Buahdua lalu bergeser ke wilayah Situraja Sumedang," ungkapnya.

Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, masih mempertahankan desain rumah akhir 1950-an hingga 1960-an. Rumah jadul ini bahkan ditawar miliaran rupiah.Desa Cibubuan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, masih mempertahankan desain rumah akhir 1950-an hingga 1960-an. Rumah jadul ini bahkan ditawar miliaran rupiah. Foto: Nur Azis

Operasi sapu bersih yang dilakukan oleh Belanda, menyerang kawasan sekitaran Desa Cibubuan - Conggeang dan Desa Sekarwangi - Buahdua. Kejadian itu pula dikenal oleh masyarakat Sumedang dengan sebutan peristiwa 11 April 1949 atau tepat saat gugurnya seorang pahlawan, yakni Komandan Bataliyon Tarumanegara Mayor Abdurahman dan pasukan lainnya.

"Saat itu, Mayor Abdurahman dan 11 orang pasukannya tertangkap lalu ditembak mati di depan balai desa yang sekarang berdiri, Mayor Abdurahman yang saat itu sedang terserang penyakit malaria, tetap menjaga rahasia dari Belanda saat diminta untuk membuka keberadaan pasukan Siliwangi yang dipimpin oleh Letkol Sadikin yang telah bergeser ke Situraja dari Buahdua," paparnya.

Jadi, kata Arys, rumah tempat bertemunya Letkol Sadikin dengan Bupati/residen Sumedang saat dikuasai Belanda, yakni Raden Tumenggung M. Singer merupakan rumah milik buyut istrinya, yakni Kardun Martapura dan Salni. Kardun Martapura merupakan keturunan dari Ibras Gunawisuta dan Jaisem.

"Ibras Gunawisuta menjadi salah satu warga yang membuka perkampungan di Desa Cibubuan bersama penduduk lainnya dan Kardun sendiri merupakan salah satu kuwu di Desa Cibubuan," terangnya.

Dikatakan Arys, sejumlah warga di Desa Cibubuan masih mempertahankan bentuk bangunan peninggalan bebuyutnya. Selain unik, juga memiliki sejarahnya masing-masing paling tidak sejarah tentang keluarganya.

"Rumah Kardun Martadipura sendiri diturunkan secara turun temurun, sejak zaman Belanda," terangnya.

Rumah lainnya yang masih mempertahankan dengan bentuk jadulnya, yakni rumah milik pasangan Yuyus Setia Siswana (61) dan Popon Sopariah (59) yang masih satu keturunan dari Kardun Martapura.

"Menurut kakek dulu, rumah ini dibangun selama dua tahun dari 1958 sampai 1960, mungkin waktu itu sulit untuk bahan-bahannya yah," ungkap Yuyus saat ditemui detikcom di rumahnya beberapa hari lalu.

Berikutnya : Pernah disinggahi Jenderal AH Nasution