Ulama Soroti Eksistensi NII-Keseriusan Pemkab Garut Tangani Radikalisme

Hakim Ghani - detikNews
Selasa, 11 Jan 2022 16:46 WIB
Detik-detik ulama memarahi sejumlah pejabat di Garut karena dinilai tak becus menangani NII
Sebuah video yang merekam aksi kemarahan seorang ulama di Garut beredar di media sosial. Ulama itu marah mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memberantas aliran radikal. (Foto: tangkapan layar video viral)
Garut -

Pemkab Garut membentuk tim khusus untuk menangani radikalisme. Tim tersebut salah satu tujuannya bergerak untuk memberantas paham Negara Islam Indonesia (NII).

Bupati Rudy Gunawan mengatakan dia sudah memerintahkan pembentukan tim tersebut melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. "Kami sudah membentuk Satgas Anti Intoleransi. Kami sekarang ini melakukan langkah cepat," ucap Rudy, Selasa (11/1/2022).

Menurut dia, selain penelusuran kepada orang-orang yang disinyalir terpapar paham radikal, tim ini juga dikerahkan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Polri, TNI, Pemda hingga ulama diketahui tergabung dalam tim ini. Tim tersebut, kata Rudy, bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

"Pemda juga terus melakukan upaya edukatif terhadap mereka (warga terpapar paham radikal), supaya kembali ke jalan yang lurus," kata Rudy.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Garut Sirojul Munir mengatakan tim itu dibentuk usai ribut-ribut puluhan anak di Kelurahan Sukamentri, Garut, dibaiat kelompok aliran sesat NII, beberapa waktu lalu.

"Jadi itu saat kami dengan Forkopimda berkoordinasi tentang penanganan terjadinya pembaiatan di Kelurahan Sukamentri itu oleh NII. Hasil kesimpulan dari koordinasi tersebut, Bupati memerintahkan Bakesbangpol untuk membuat satgas penanganan paham radikalis dan intoleran," ujar Munir.

Menurut Munir, fungsi dari satgas tersebut belum optimal. Sebab, saat ini konsep masih dirancang Bakesbangpol. Dia berharap satgas tersebut segera turun ke lapangan untuk memberantas paham radikal.

"Satgas ini sendiri mekanisme gimana, tupoksi dan sebagaimananya belum jelas. Maka belum bisa jalan secara maksimal," ucap Munir.