Pasukan 'Jagal' di Kaki Gunung Bukit Tunggul

Baban Gandapurnama - detikNews
Minggu, 26 Des 2021 18:29 WIB
Gunawan Azhari salah satu penggerak eco village di Lembang Bandung Barat
Suasana Desa Suntenjaya dengan panorama Gunung Bukit Tunggul. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)
Bandung Barat -

Gunawan Azhari memacu sepeda motornya melintasi jalanan mendaki dan melandai. Motor berpenampilan colak-caling itu setia menemani Gunawan selagi menjumpai warga untuk menggelorakan slogan 'Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita'.

"Tiap hari bareng 'si tua' ini," ucap Gunawan tertawa sembari menunjuk motor berkelir hitam jenis bebek yang rutin menjajal Kampung Pasir Angling.

Kampung Pasir Angling bernaung di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Lokasi Suntenjaya dari Gunung Tangkubanparahu jaraknya sejauh 22,3 kilometer atau waktu tempuh 1 jam menggunakan kendaraan. Sedangkan dari objek wisata The Lodge Maribaya ke Suntenjaya berjarak 4,8 kilometer.

Permukiman warga Pasir Angling berada di kaki Gunung Bukit Tunggul. Gunung strato ini memiliki ketinggian 2.209 meter dari permukaan laut (mdpl) dan salah satu hasil letusan besar Gunung Sunda Purba di zaman prasejarah.

Gunawan memiliki andil mengedukasi dan merangkul warga setempat soal urusan menjaga alam di Kawasan Bandung Utara (KBU). Lelaki berusia 40 tahun ini tersohor sebagai aktivis lingkungan di Desa Suntenjaya.

Berperawakan mungil, namun bernyali tinggi. Gunawan berani pasang badan menghadapi perusak alam. Dia konstan bersuara lantang dan tak gentar melawan begundal yang mengusik keasrian KBU.

Bertahun-tahun bergerak lincah tanpa pamrih demi merawat kelestarian lingkungan yang harmonis dengan napas alam, Gunawan kini tidak berkiprah sendirian. Ia memimpin pasukan berjumlah 100 orang yang tersebar di kaki Gunung Bukit Tunggul.

"Namanya pasukan 'Jagal' alias penjaga alam," ujar dia sambil tersenyum.

"Jaga alam itu luas artinya. Jaga itu berarti melibatkan manusia atau makhluk, alam ini medianya. Kami tak mau alam rusak akibat kesalahan kami. Salah satu caranya mengembalikan ke fitrahnya alam. Maka harus ada gerakan secara bertahap, memulainya dari hal kecil," tutur Gunawan menambahkan.

Eco Village Suntenjaya LembangGunawan Azhari mengedukasi anak muda berkaitan pemanfaatan limbah kotoran sapi untuk dijadikan pupuk kompos di Desa Suntenjaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)

Pasukan 'Jagal' melakoni praktik dan edukasi berkaitan ekologi. Contohnya antara lain menggulirkan gerakan pilah sampah rumah tangga, mengolah limbah kotoran ternak sapi menjadi pupuk kompos, menanam pohon untuk mendukung fungsi konservasi kawasan hutan, dan aktivitas hortikultura guna menopang ekonomi warga.

"Latar belakang warga Desa Suntenjaya itu petani dan peternak," kata Gunawan.

Desa Berbudaya Lingkungan

Jelang tengah siang, Sabtu 18 Desember 2021, suasana asri nan sejuk memayungi Desa Suntenjaya. Panorama keindahan bukit dan rimbun pohon khas pedesaan menyegarkan mata. Sapa hangat dan senyum merekah penduduknya menjadi penyejuk kalbu.

Gunawan mengantarkan detikcom ke sejumlah titik aktivitas warga Kampung Pasir Angling. Menyambangi satu tempat ke tempat lainnya mengendarai motor dan berjalan kaki. Melihat dekat geliat petani wanita hingga menyaksikan pengolahan limbah ternak sapi.

Menurut Gunawan, Desa Suntenjaya berkonsep eco village sejak 2014 berdasarkan rekomendasi Pemprov Jabar. Unsur warga dan pemerintahan desa setempat dilibatkan merumuskan konsep eco village.

Lalu, pada 2018, Kampung Pasir Angling, yang menerapkan eco village di desa tersebut, masuk daftar Kampung Berseri Astra KBA. Selaku penggerak Kampung Berseri Astra, Gunawan selalu bersemangat membahas kampung berbudaya lingkungan.

"Bukan sesuatu gampang mengubah pola pikir masyarakat desa. Perlu pendekatan terus menerus dan bertahap. Kerja kolektif dan kekompakan warga menjadi kuncinya" kata Gunawan yang juga menjabat ketua eco village Desa Suntenjaya.

Tangan erat pasukan 'Jagal' memperkokoh fondasi ekologi. Gunawan makin percaya diri bahwa warga di utara Bandung ini senantiasa bersahabat dengan alam.

"Eco village itu desa berbudaya lingkungan. Satu desa terdiri dari manusia atau makhluk dan pemerintah," ucapnya.

Wilayah Suntenjaya yang diapit Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Palasari, menurut Gunawan, ibarat jantung dan paru-parunya Bandung Raya. Area hulu Sungai Cikapundung berada di desa ini. Ia pun mengajak warga membentengi limpahan air agar tidak tercemar dan melindungi pohon di hutan.

"Kampung kami ini lumbung air pemasok terbesar kebutuhan air di Bandung Raya. Limbah ternak dan sampah misalnya dialirkan ke sungai, tentu berefek bagi daerah hilir. Kami juga tetap menjaga kawasan konservasi ini, jangan ada penebangan pohon. Kalau rusak dan tak berbudaya lingkungan, berdampak untuk Bandung Raya. Maka kami kembali kepada penerapan kearifan lokal, manusia yang peduli ke manusia," tutur Gunawan.

Eco Village Suntenjaya LembangSuasana asri di Desa Suntenjaya Lembang. (Foto: Baban Gandapurnama/detikcom)