Tarian Bedhaya Sapta di Bandung, Bukti Persahabatan Jabar-Yogyakarta

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 23:52 WIB
Tarian Bedhaya Sapta
Tarian Bedhaya Sapta dipentaskan di Bandung. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung -

Tarian Bedhaya Sapta yang biasanya dibawakan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dipentaskan di Jawa Barat, tepatnya di halaman depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (7/12/2021) malam.

Tarian yang mengisahkan tentang perjuangan dua penggawa Sultan Agung, yaitu Ki Tumenggung Lirboyo dan Ki Tumenggung Nampabaya dalam membuat tapal batas antara tanah Mataram dan Pasundan, itu diperagakan oleh tujuh penari secara elegan di hadapan Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Hadirin lainnya yang menyaksikan tarian ciptaan Hamengku Buwono IX tersebut dibuat takjub dengan elok dan gemulainya gerakan para tujuh penari yang tampil. Penampilan yang langka dan sakral itu sangat menghipnotis, sebab diiringi dengan gamelan jawa yang bernuansa magis.

Ridwan Kamil menyebut tarian Bedhaya Sapta bisa digelar di Bandung adalah bukti bahwa Sri Sultan sangat menghargai persahabatan yang dibangun sejauh ini.

"Itu apresiasi dari Sri Sultan, mengenai persahabatan Jawa-Sunda yang tertanam sejak lama. Satu, di Alun-alun Yogyakarta ditanam pohon, namanya pohon Dewandaru itu pohon surga. Dalam filosofi Jawa, bibit diambil di Pasundan di abad ke-18, kalau mau roboh ditanam harus dari bibit pohon yang sama," ujar Ridwan Kamil seusai pertunjukan.

"Kedua, Bedhaya Sapta itu ternyata tarian ciptaan HB IX yang inspirasinya dari Babad Pasundan, yang konon ditemukan di Gedung Sate tahun 70-an. Jadi inspirasinya berasal dari Sultan Agung mengirim utusan untuk membuat batas wilayah, dalam perjalanannya akhirnya jatuh cinta dan akhirnya menikahi orang Sunda," kata pria yang akrab disapa Kang Emil melanjutkan.

Persahabatan Jabar-Yogyakarta ini, ucap Kang Emil, juga tercermin dalam tarian Beksan Menak Kakung Umarmaya-Umarmadi yang koreografinya terinspirasi dari wayang golek Sunda. "Jadi kesimpulannya Yogyakarta adalah tarian sakral, yang ada di Keraton ditampilkan. Saya juga baru tahu begitu dalam tarian ini. Intinya ini harus diperbanyak di daerah yang bising oleh pertengkaran yang sifatnya tidak fundamental," tuturnya.

"Orang Sunda dan Jawa silakan menikah tidak ada halangan," ucap Kang Emil berkelakar.

Sri Sultan menyampaikan pertunjukan malam ini merupakan momentum yang sangat menentukan, dalam artian ada sejarah baru terbentuk di antara Jabar dan Yogyakarta. "Kami mencoba membuka sejarah yang pernah terjadi dan juga sudah dilakukan oleh para leluhur-leluhur kami di dalam hubungan dengan Jabar, khususnya Pajajaran dan sebagainya. Kami mencoba membuka kotak pandora yang selama ini tidak pernah terekam dalam pemahaman kita bersama," ujarnya.

"Semoga saja dari peristiwa yang sudah terjadi ini kita bisa membangun sinergi yang lebih bermanfaat bagi republik ini, karena kita sudah final menjadi bagian dari republik," kata Sri Sultan.

(yum/bbn)