Pustaka Jabar

Ex Undis Sol, Slogan Bandung yang 'Salah Kaprah' Selama Setengah Abad

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 04 Des 2021 08:32 WIB
Jauh sebelum slogan Gemah Ripah Repeh Rapih disematkan sebagai slogan Kota Bandung, rupanya wilayah yang dijuluki Paris van Java ini pernah memiliki slogan berbahasa latin di era kolonial Belanda tempo dulu, yakni Ex Undis Sol.
Logo 'Ex Undis Sol' (Foto: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Bandung -

Jauh sebelum slogan 'Gemah Ripah Repeh Rapih' disematkan sebagai slogan Kota Bandung, rupanya wilayah yang dijuluki Paris van Java ini pernah memiliki slogan berbahasa latin di era kolonial Belanda tempo dulu, yakni 'Ex Undis Sol'. Menariknya, slogan itu disebut sebagai 'salah kaprah yang dibiarkan' selama setengah abad lamanya, kok bisa?

Sejarawan Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandung Tempo Doeloe (Granesia:1984) menyebut, sejak 1 April 1906, Bandung ditetapkan Gubernur Jendral J.B. van Heutsz menjadi 'Gemeente' melalui ordonansi tanggal 21 Februari 1906. Keputusan itu membuat Kota Bandung sebagai daerah otonom yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Sebagaimana layaknya kota, untuk keperluan protokoler dan seremonial diperlukan sebuah lambang yang menjadi simbol atau identitas kota. Tidak diketahui apakah perancangan logo Bandung kala itu melibatkan cerdik cendekia atau sayembara, namun akhirnya Burgemeester (walikota) Bandung yang pertama, meneer B. Coops bersama 'Dewan Kota' menetapkan logo Bandung berbentuk perisai bermahkota yang diapit dua ekor singa sebagai lambang Gemeente.

Foto logo tempo dulu itu bisa dilihat dari koleksi Digital Universitas Leiden. Di bawah perisai dan singa tersebut terdapat slogan 'Ex Undis Sol' atau yang dalam Bahasa Belanda: 'Uit de Golven de Zon' yang artinya 'Mentari Muncul di Atas Gelombang'. Konon dari sinilah 'kesalahkaprahan' itu bermula.

Sebelum membahas lebih jauh, pemakaian bahasa Latin sebagai slogan atau moto sangat banyak digunakan sebagai slogan Gemeente kala itu, mungkin sama seperti halnya di Indonesia yang kerap menggunakan bahasa Sansekerta atau bahasa daerah yang sebagian orang mungkin tak langsung tahu apa artinya.

Biasanya, pembuatan logo atau lambang suatu daerah juga mencerminkan akumulasi sejarah daerah setempat, potensi sosial-ekonomi-budaya khas setempat yang menonjol atau demografi setempat yang khas.

Koreksi Tak Digubris

Kembali soal 'Ex Undis Sol', Haryoto menulis bahwa mungkin apa yang ingin disampaikan dalam moto Gemeente Bandung adalah 'Lahan kokoh muncul dari gelombang!". Sementara itu kata 'tanah padat' atau 'kokoh' dalam bahasa Latin adalah 'solum'. Haryoto menyebut seharusnya moto Gemeente Bandoeng yang benar adalah 'Ex Undis Solum'.

"Bayangkan selama tahun 1906-1952 Kota Bandung memiliki dan menggunakan moto yang keliru," tulis Haryoto (Wajah Bandung Tempo Doeloe, Granesia 1984, hal: 148) secara lugas dalam bukunya.

Meskipun bisa saja B. Coops terlarut dalam hasil kajian para geolog soal kondisi Bandung jutaan tahun yang lalu, yang merupakan Danau Purba di Cekungan Bandung. Tetapi, argumen itu sepertinya perlu dibuktikan lebih lanjut.

Kesalahan penulisan slogan ini, sempat dikoreksi oleh Prof Dr. E.C. Godee Molsbergen. Ia adalah pengelola Landsarchivaris atau pengelola Arsip Negara di Batavia. Koreksi itu dilayangkan dalam bentuk surat, namun tak digubris oleh B. Coops dan diduga para dewan kota saat itu juga cenderung kurang kritis.

Logo Diganti Pascakemerdekaan

Pascakemerdekaan, akhirnya logo dari Gemeente itu diganti. Kementerian Dalam Negeri tanggal 30 Mei 1950 No. Pr. 10/7/16 memuat arahan agar daerah otonom memilih lambang baru, untuk menggantikan yang lama warisan Belanda.

DPRD dan DPDS Kota kala itu langsung membuat panitia pembuatan logo, dan setelah sembilan bulan lamanya akhirnya logo Kota Bandung pun dirampungkan dan disahkan dengan Perda Kota Besar Bandung Th 1953 No.53 dengan logo dan slogan baru, 'Gemah Ripah Repeh Rapih'.

(yum/bbn)