Kota Bandung Disebut Autopilot di Era Oded, Benarkah?

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 16:02 WIB
Balai Kota Bandung
Balai Kota Bandung (Foto: Wisma Putra)
Bandung -

Legislator Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Christian Julianto menyebut Kota Bandung mengalami kemunduran di bawah kepemimpinan Oded M Danial. Pembangunan Kota Bandung tak jelas visi dan arah pembangunannya.

"Kami melihat kondisi Kota Bandung saat ini sedang tidak baik-baik saja. Contohnya sekarang, di musim hujan ada banyak sekali jalanan di Kota Bandung yang banjir, bahkan dari data ada 68 titik berpotensi banjir, tapi kita melihat permasalahan itu tidak tercermin di dalam anggaran," kata dia dalam diskusi online "RAPBD Tidak Jelas, Bandung Amburadul?" yang digelar DPP PSI, Rabu 1 Desember 2021.

Ia menyebut, postur anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2022 Kota Bandung juga tak mencerminkan solusi bagi permasalahan warga kota. Salah satu hal yang disorot adalah anggaran penanganan banjir di Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga yang turun signifikan dari periode pemerintahan sebelumnya.

"Anggaran untuk Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (dulu Dinas PU) anggarannya itu hanya Rp 200 miliar sekian, tidak sampai Rp 300 miliar. Padahal di zaman Kang Emil anggaran Dinas PU itu bisa Rp 800 miliar. Jadi yang kita mau lihat ini sejauh mana sih langkah Pemkot Bandung untuk menangani permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh warga Bandung," kata Chris.

Ia juga menyebut, alokasi belanja modal Kota Bandung hanya 9,4 % atau Rp 626 miliar, jauh dari kondisi ideal yang harusnya mencapai 30-40%. Dengan alokasi tersebut, Chris menyebut bakalan sulit untuk membangun infrasturktur pencegahan banjir seperti kolam retensi, gorong-gorong yang lebih besar dan tol air.

Ia juga mengkritisi postur RAPBD 2022 Kota Bandung yang 37% bakal dihabiskan untuk belanja pegawai, jauh melebihi anggaran belanja modal. Terlebih ada rencana kenaikan tunjangan perumahan pejabat DPRD sebesar Rp 20 juta.

"Postur belanja pegawai di atas 30% itu gak bagus, yang harusnya dibesarkan itu postur belanja modal, bahkan yang disarankan belanja modal itu 30%. Kota Surabaya belanja modalnya 20% lho dan terbukti hasilnya ada. Kenapa kita gak coba menyisir anggaran dengan baik dan kita alokasikan anggaran untuk yang lebih kelihatan? Belanja modal yang pasti bermanfaat buat warga Kota Bandung," ujarnya.

Sebelumnya, tiga legislator PSI di DPRD Kota Bandung melakukan interupsi dan memutuskan walk out dalam Rapat Paripurna Pembahasan RAPBD 2022. Mereka menilai postur RAPBD 2022 tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Berbagai upaya pun, katanya, telah dilakukan tapi tak digubris.

"Di rapat-rapat sebelumnya, terutama Rapat Badan Anggaran (Banggar) bahwa ada poin-poin yang mengganjal, begitu juga di Rapat Badan Musyawarah (Bamus). Tetapi kembali ke forum, kalau forum tetap menyepakati ya silakan, tapi kami tetap pada sikap kami bahwa kami belum bisa menyepakati RAPBD 2022," tegas Chris.

Akademisi dan budayawan Bandung, Budi Dalton yang hadir sebagai pembicara dalam forum itu, turut mengamini ucapan Chris. Bahkan, ia menyebut Kota Bandung telah kehilangan arahnya.

"Kalau pesawat autopilot, dia tetap tahu tujuannya ke mana, walaupun pilotnya tidur tahu tujuannya ke mana. Kalau Kota Bandung gak tahu tujuannya ke mana, kayaknya buka autopilot, tapi dreaming pilot, dia bermimpi dan seolah-olah yang dia mimpikan itu terjadi di Kota Bandung," ujarnya sambil berkelakar.

Budi pun mendukung penuh sikap legislator PSI yang memilih walk out pada Rapat Paripurna Pembahasan RAPBD. Menurutnya, hal itu adalah cara tegas untuk menolak kebijakan yang tidak pro-rakyat.

Namun, dia berharap langkah PSI tidak berhenti hanya pada aksi walk out, mesti ada gebrakan oleh PSI untuk serius memperbaiki postur anggaran agar manfaatnya bisa dirasakan warga Bandung.

"Menurut saya itu sudah merupakan tindakan yang bagus dan saya setuju hal itu, karena menurut saya harus ada ketegasan dan perhatian. Hanya saja menurut saya, jangan sampai di walk out saja, harus ada kelanjutannya seperti apa sehingga memang apa pun yang diaspirasikan ketidak-setujuan terhadap rencana anggaran tadi bisa dikabulkan," kata dia lagi.

Wakil Dekan Bidang III Fakultas Ilmu Seni dan Sastra, Universitas Pasundan itu menitip pesan supaya PSI tetap konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam konteks Bandung, menurutnya, masalah paling krusial adalah infrastruktur pengendali banjir.

"Kalau boleh saya menitipkan ke Bro Chris di sini, berjalan lah tetap dengan rakyat dan saya percaya PSI masih tetap seperti itu dengan suara-suara rakyat. Yang paling krusial di Kota Bandung saat ini adalah ya infrastruktur, lebih dikerucutkan lagi ke gorong-gorong dan banjir," pungkasnya.

(yum/mud)