Hari Sumpah Pemuda

Aksi Pemuda Sumedang Cetuskan Panti Baca Ceria

Nur Azis - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 09:51 WIB
Pemuda Sumedang Cetuskan Panti Baca Ceria
Ipul Saepulloh (Foto: Nur Azis/detikcom)
Sumedang -

Berangkat dari rasa ingin meningkatkan minat baca atau tradisi literasi di lingkungan tempat tinggalnya, seorang pemuda di Sumedang tergerak untuk mendirikan sebuah rumah baca. Dia memberi nama Panti Baca Ceria.

Pemuda itu Ipul Saepulloh (29), warga Tegal Kalong, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Rumah baca tersebut dirintisnya sejak 2016.

"Awalnya saya bikin taman baca itu karena minimnya ruang-ruang yang bisa mewadahi para kawula muda untuk berdiskusi, sharing, bertukar gagasan dan ide," ucap kepada detikcom, beberapa waktu lalu.

Ipul menceritakan masa-masa awal saat seorang diri membangun Panti Baca Ceria yang bermarkas di rumahnya. Gaji yang tidak seberapa dari hasil kerjanya di sebuah percetakan, ia sisihkan sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan buku bacaan.

"Awalnya saya ngumpulin buku dari uang gaji yang saya sisihkan. Ditambah buku-buku peninggalan bekas bapak," kata pria lulusan SMK teknik tersebut.

Ipul masih ingat, awalnya ada sekitar 40 buku yang berhasil dikumpulkannya. Ia pun dengan sukarela memboyong buku-bukunya itu ke Alun-alun Sumedang dengan tujuan untuk membuka lapak baca buku gratis. Bahkan, semua bukunya itu, ia angkut dengan menggunakan sepeda miliknya.

"Dulu, bukunya diangkut pakai sepeda. Makanya logo pertama Panti Baca Ceria itu gajah yang sedang mengayuh sepeda, itu gambar kenangan dari salah satu teman saya," tutur Ipul yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Arifin Kartawiria dan Fatimah.

Pemuda Sumedang Cetuskan Panti Baca CeriaPanti Baca Ceria merupakan rumah baca mandiri yang berpijak pada 6 dasar literasi sebagaimana yang telah dikukuhkan oleh World Economic Forum. (Foto: Nur Azis/detikcom)

Tanpa diduga, kata Ipul, lapak baca buku gratisnya itu laris manis jadi sarana tempat berkumpul anak muda. Selain itu, lapaknya juga telah menarik minat sejumlah muda-mudi untuk ikut bergabung ke rumah baca yang dicetuskannya.

"Lapak itu jadi semacam pusat kegiatan, selain kegiatan membaca, diskusi, sharing dan kegiatan lainnya," ucapnya.

Dari yang semula sendirian, ia pun akhirnya ditemani oleh tujuh teman yang tertarik bergabung. Dari sanalah ide-ide bermunculan, mulai membuka donasi buku hingga membuat beragam program kegiatan lainnya.

"Dari tujuh orang itu sering membuat kegiatan untuk mengisi momentum-momentum peringatan hari besar, seperti hari HAM, world cleanup day dan hari besar lainnya. Ya bersuaranya di lapak itu, lalu ditutup dengan acara bersih-bersih di Alun-alun Sumedang," kata Ipul.

Panti Baca Ceria secara keanggotaan, baik yang aktif dan yang tidak aktif, saat ini ada sekitar 39 orang. Namun Panti Baca Ceria kerap membuka relawan pada setiap kegiatan yang digelarnya dan itu bisa mencapai puluhan orang.

"Kalau anggota seiring dengan seleksi alam ya, karena yang SMA saat ini udah keluar karena sudah kuliah, ada masanya di panti baca ini kebanyakan anak-anak kuliahan juga," ujarnya.

Ipul menjelaskan Panti Baca Ceria merupakan rumah baca mandiri yang berpijak pada 6 dasar literasi sebagaimana yang telah dikukuhkan oleh World Economic Forum. Di antaranya, baca tulis, literasi financial, literasi digital, literasi budaya dan kekeluargaan, literasi sains dan literasi numerik.

"Literasi pada zaman sekarang itu tentang kecakapan hidup, bagaimana bisa berdaya, jadi semua tidak terlepas dari keenam dasar literasi itu," ucap Ipul menjelaskan.