Hari Santri

Mengenal Pesantren Al Yaqin Sumedang yang Lahir dari Konflik Timor Timur 99

Nur Azis - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 08:35 WIB
Pimpinan Pesantren, Guru bersama para muridnya sedang berkumpul di Pondok Tahfiz Pesantren Al Yaqin Sumedang.
Foto: Pimpinan Pesantren, Guru bersama para muridnya sedang berkumpul di Pondok Tahfiz Pesantren Al Yaqin Sumedang (Nur Azis/detikcom).
Sumedang -

Pesantren Al Yaqin yang berlokasi di Desa Gunung Manik, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang merupakan pesantren yang dibangun oleh komunitas mualaf asal Indonesia Timur. Mereka mengatasnamakan Komunitas Lemorai atau Para Perantau.

Pesantren Al Yaqin lahir tidak terlepas dari konflik politik yang terjadi di Timor Timur kala itu sekitar tahun 1994-2002. Hingga pada akhirnya Timor Timur ditetapkan sebagai negara berdaulat berdasarkan hasil referendum untuk kemudian secara resmi menjadi Timor Leste pada 2002.

"Jadi, kami tidak ada pilihan waktu itu, mau tetap di Timor Timur atau kami keluar dari sana," ungkap Pimpinan Pesantren Al Yaqin, Roberto Freitas atau setelah mualaf menjadi Hasan Basri belum lama ini.

Hasan mengenang kejadian pada tahun 1996 di sana. Dimana saat konflik terjadi, dari yang semula konflik politik hingga merembet menjadi konflik persaudaraan hanya karena berbeda agama.

"Semua Timor Timur itu goncang, konflik, padahal masih bersaudara tapi karena dipicu oleh kancah politik, akhirnya goyang pecah," terang Hasan.

Hingga pada tahun 1999, ia bersama keluarga, saudara dan tetangga lainnya memutuskan untuk hijrah ke pulau Jawa. Keyakinannya pada Islam dan kecintaannya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi kekuatannya saat itu.

"Tahun 1999 itulah kami meninggalkan Timor Timur dan dalam hati kami bilang 'ya sudah memang Timor Timur harus merdeka' maka kami pun lebih memilih integrasi dengan Indonesia karena kecintaan kami pada agama Islam dan Indonesia," ungkapnya.

Singkat cerita, tidak kurang dari 20 orang termasuk Hasan bersama istri dan kedua anaknya yang sama-sama memeluk Islam akhirnya tiba di Pulau Jawa. Tempat pertama yang disinggahinya adalah sebuah rumah kontrakan mungil di Jalan Kebon Kopi, Kota Cimahi.

"Awal-awal datang kami semua tinggal di daerah Kebon Kopi, saya bersama istri dan juga anak tinggal di sebuah kontrakan, ada juga yang tidur di masjid-masjid karena kebayangkan 20 orang," terangnya.

Saat tiba pertama kali di pulau Jawa, profesi yang ditekuni Hasan adalah menjadi seorang penjual koran. Bisa dibayangkan berapa penghasilannya kala itu.

"Untuk makan kami orang sangat- sangat sederhana, bahkan pernah diantara kami tidak makan satu hari penuh," ungkapnya.

Pernah suatu waktu, Hasan pun jatuh sakit maka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di pegang kendali oleh istrinya. Berkat keahliannya membuat tas dari anyaman tali padang, semua kebutuhan keluarganya pun dapat dipenuhi secara alakadarnya.

"Yang penting bagi kami itu bisa makan tidak lebih, dari menjual tas itu, kalau bisa dapat bikin dua, itu saya ingat harganya 8 ribu rupiah," katanya

Setelah perjuangannya hidup di rumah kontrakan kecil selama hampir satu tahun, akhirnya pertolongan pun datang. Saat itu, rombongannya yang berniat ingin mendirikan sebuah pesantren mendapatkan bantuan dari Bank Negara Indonesia (BNI) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Saya masih ingat bantuan yang kami dapat itu, dari BNI Rp 2,5 Juta dan dari PLN sebesar Rp 1,5 juta," katanya.

Seperti gayung bersambut, kata Hasan, ia pun ditawari sebuah tanah di desa Gunung Manik, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang. Hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan diatas tanah seluas tujuh tumbak kala itu.

"Saya masih ingat awal mula saya beli di sini itu tujuh tumbak saja," terangnya.

Dari tanah seluas 7 tumbak itulah, ia bersama istrinya kala itu mendirikan sebuah pesantren dan rumah panti asuhan. Disela rencananya itu, orang timur yang telah ada di pulau Jawa sebelumnya, turut ikut berkumpul di tempat itu dan memberikan ide agar mendirikan sebuah yayasan pendidikan.

"Mahasiswa-mahasiswa yang sebelumnya sudah ada di pulau Jawa ngasih ide, kenapa tidak bikin yayasan pendidikan saja agar menjadi wadah bagi orang Timor timur kala itu yang memilih masuk Indonesia," ungkapnya.

Akhirnya, yayasan yang diberinya nama Lemorai atau Para Perantau pun terbentuk. Yayasan itu saat ini menaungi pesantren Al Yaqin dan rumah panti asuhan Latiful Muhtadin.

"Jadi pesantren Al Yaqin dan rumah panti asuhan, sekaramg semuanya ada dibawah naungan Yayasan Lemorai," kata Hasan.

Sejak berdiri tahun 1999, Yayasan Lemorai telah membantu pendidikan agama Islam dan memberi tempat tinggal khususnya bagi ratusan anak-anak kurang mampu yang berasal dari Timor Timur dulu.

"Awal-awal jumlah anak yang belajar agama disini ada 123 orang, mereka semua anak-anak dari Timor timur setelah pecah orang tuanya menitipkannya kepada kami," terang Hasan.

Hasan mengatakan, sistem pendidikan di tempatnya, yakni khusus belajar agama seperti Tahfiz, Hadits, Fiqih ,Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Tafsir Al-Qur'an. Sementara untuk pendidikam formal, para santri bersekolah di sekolah formal pada umumnya di sekitar yayasan.

"Jadi disini mereka khusus tinggal dan belajar ngaji, sementara untuk sekolah formal mereka keluar," katanya.

Hasan melanjutkan, sistem kekeluargaan sangat diterapkan di Yayasan Lemorai, dimana bagi mereka yang telah lulus di perguruan tinggi diharuskan menyumbangkan sedikit ilmunya di yayasan tersebut.

"Jadi mereka yang pernah tinggal disini dan lulus menjadi sarjana, nantinya ikut menyumbangkan ilmunya untuk mengajar disini,begitu seterusnya," kata dia.

Tahun 2021 ini, santri di rumah tahfiz dan panti asuhannya berjumlah 84 orang. Santri yang ada pun kini bukan hanya dari orang-orang Indonesia bagian timur saja tapi juga ada anak-anak dari daerah lainnya.

Seperti Femi Alfiah Firdaus yang berasal dari Rancaekek, Kabupaten Sumedang. Ia tinggal di Ponpes Al Yakin, selain belajar agama juga diberikan kesempatan untuk kuliah gratis.

"Alhamdulillah, selain bisa belajar agama juga saya bisa kuliah gratis," ungkapnya yang kini menjadi mahasiswa dari Universitas Al Ghifari Bandung.

Selain Femi, ada juga Sudirman yang merupakan keturunan dari Timor Leste. Ia sengaja tinggal di Panti asuhan untuk mendapatkan kesempatan pendidikan.

"Saya ingin belajar disini," ucapnya.

Salah satu pengajar, Dian Sofia Angle Freitas mengatakan, pondok Al Yaqin baginya sebagai miniatur Indonesia dengan latar belakang berbeda-beda mulai dari suku, budaya, bahasa dan adat.

"Di sini kita bisa belajar saling mengenal satu sama lain dan saling belajar satu sama lain," pungkasnya.

Simak video 'Hari Santri Nasional, Jokowi: Santri Harus Jadi Pengusaha':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)