Ini Kata PT SCG soal Dampak Negatif Tambang Semen yang Diungkap WALHI

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 20:13 WIB
Lokasi penambangan bahan semen di Sukabumi.
Lokasi penambangan bahan semen di Sukabumi (Foto: dok detikcom)..
Sukabumi -

PT SCG akhirnya buka suara soal temuan beragam dampak negatif yang diungkap Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama dengan Forum Warga Sirnaresmi Melawan (FWSM) terkait aktivitas tambang semen.

Melalui rilis yang diterima detikcom perusahaan tersebut mengklaim pihaknya selama ini dirancang dengan konsep Green Manufacturing berlandaskan prinsip sustainable development.

"PT Semen Jawa merupakan pabrik Semen SCG pertama di Indonesia yang dirancang dengan konsep Green Manufacturing berlandaskan prinsip sustainable development yang menyeimbangkan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan," kata Somchai Dumrongsil Presiden Direktur - PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, seperti dikutip detikcom dari rilis, Rabu (27/10/2021).

Somchai menegaskan PT Semen Jawa, dalam menjalankan operasionalnya senantiasa mematuhi seluruh peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah. PT Semen Jawa disebut telah memperoleh predikat Proper Biru dari Kementerian lingkungan hidup Republik Indonesia berdasarkan Permen LH 3/2014 pada 2018-2019.

"Perusahaan dengan peringkat biru merupakan usaha dan/atau kegiatan yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang telah sesuai dengan apa yang dipersyaratkan oleh undang-undang. PT Semen Jawa juga selalu melaporkan hasil uji udara kepada Dinas Lingkungan Hidup secara berkala yang dimana sampai saat ini, masih sesuai dengan peraturan yang berlaku," jelasnya.

"Adapun mengenai penyakit gatal yang dikeluhkan oleh salah seorang masyarakat Desa Sirnaresmi, pihak Rumah Sakit R. Samsudin, SH telah memberikan keterangan tertulis pada tanggal 27 Maret 2019 bahwa penyakit gatal-gatal yang diderita bukan disebabkan oleh faktor eksternal seperti paparan bahan kimia. Hal ini pun telah diuji di pengadilan sesuai dengan data-data dan bukti-bukti yang ada," sambungnya.

Namun demikian, kata Somchai PT Semen Jawa bersedia untuk melakukan analisa kembali mengenai penyakit gatal-gatal yang diderita oleh salah seorang warga Desa Sirnaresmi apabila diperlukan. Hal ini karena masyarakat yang berada di sekitar operasi PT Semen Jawa, merupakan salah satu prioritas perusahaan.

"Untuk menjamin transparansi analisa, PT Semen Jawa juga akan bekerjasama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat dan masyarakat Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi," jelas Somchai.

PT SCG juga menanggapi soal intimidasi kepada warga yang disebut Walhi terjadi pada tahun 2018 silam. Perusahaan tersebut dengan tegas mengatakan bahwa hal itu tidak benar.

"Perihal perusahaan mengintimidasi warga, hal tersebut tidak benar. Tiga orang warga yang dimaksud telah memasuki area penambangan tanpa izin dan melakukan pengerusakan terhadap alat berat milik PT Tambang Semen Sukabumi pada tahun 2019. Hal tersebut termasuk ke dalam tindaka kriminal dan melanggar hukum," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Lima tahun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama dengan Forum Warga Sirnaresmi Melawan (FWSM) telah mempelajari dan melakukan advokasi terhadap warga yang diduga terdampak aktivitas tambang semen di Sukabumi.

WALHI menemukan adanya dampak pencemaran, lingkungan, dampak sosial, hingga dampak perubahan iklim akibat aktivitas pertambangan tersebut. Ancaman juga kerap diterima warga yang tengah berjuang untuk melawan perubahan linkungannya tersebut.

"Pada tahun 2018 terjadi intimidasi dan ancaman yang dilakukan oknum preman bayaran dan oknum aparat terhadap warga Dusun Jampang Tengah yang menolak pertambangan karst dengan sistem blasting/peledakan untuk kebutuhan bahan baku pabrik semen PT Siam Cement Group (SCG). Bahkan dalam aktivitas perlawanan dan perjuangan penolakan warga terhadap keberadaan pabrik semen yang mencemari udara, tiga orang warga akhirnya berhadapan dengan jeruji besi," kata Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Jabar Wahyudin seperti dikutip detikcom dari rilis yang diterima, Rabu (27/10/2021).

(sya/mso)