WALHI Ungkap Dampak Negatif Aktivitas Tambang Semen di Sukabumi

Syahdan Alamsyah - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 13:26 WIB
Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Jabar Wahyudin
Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Jabar Wahyudin (Foto: Istimewa).
Sukabumi -

Lima tahun, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama dengan Forum Warga Sirnaresmi Melawan (FWSM) telah mempelajari dan melakukan advokasi terhadap warga yang diduga terdampak aktivitas tambang semen di Sukabumi.

detikcom sudah berupaya untuk melakukan konfirmasi terkait sejumlah temuan WALHI tersebut namun pihak SGC meminta waktu untuk buka suara berkaitan hal tersebut.

WALHI menemukan adanya dampak pencemaran, lingkungan, dampak sosial, hingga dampak perubahan iklim akibat aktivitas pertambangan tersebut. Ancaman juga kerap diterima warga yang tengah berjuang untuk melawan perubahan linkungannya tersebut.

"Pada tahun 2018 terjadi intimidasi dan ancaman yang dilakukan oknum preman bayaran dan oknum aparat terhadap warga Dusun Jampang Tengah yang menolak pertambangan karst dengan sistem blasting/peledakan untuk kebutuhan bahan baku pabrik semen PT Siam Cement Group (SCG). Bahkan dalam aktivitas perlawanan dan perjuangan penolakan warga terhadap keberadaan pabrik semen yang mencemari udara, tiga orang warga akhirnya berhadapan dengan jeruji besi," kata Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Jabar Wahyudin seperti dikutip detikcom dari rilis yang diterima, Rabu (27/10/2021).

Kejadian tersebut menurut WALHI membuat kondisi psikologis warga terguncang dan tidak jarang mereka dikucilkan dari lingkungan sekitarnya. Padahal disebut WALHI ada undang-undang perlindungan untuk pejuang lingkungan dan HAM.

WALHI kemudian mengupas sejumlah aturan soal perlindungan bagi pejuang lingkungan dan HAM tersebut diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU 32 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pada pasal 28 ayat (2) UUD 1945 kemudian dalam pasal 100 UU HAM lalu dalam UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia Pasal 34 ayat (1) dan Pasal 34 ayat (2).

"Dengan adanya peraturan tersebut, seharusnya membuat setiap warga yang berjuang untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat merasa aman dan terhindar dari rasa takut," ungkap pria yang akrab disapa Iwank tersebut.

Iwank mengulas selama ini warga yang memiliki pendapat atau aspirasi, dan menunjukkan sikap keberatan di respons dengan tindakan represif dan ancaman. Hal tersebut merupakan upaya pelemahan gerakan warga dan pembungkaman yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Hingga saat ini masih terdapat kelompok warga yang tergabung dalam FWSM yang sedang berjuang dari ancaman kegiatan pabrik semen PT SCG yang semakin lama dampaknya semakin terasa. Dampak yang paling warga rasakan adalah perubahan kondisi lingkungan dan kesehatan khususnya bagi warga yang tinggal di dekat lokasi aktivitas pabrik," beber Iwank.

Debu dan Pencemaran Diduga Dampak SCG

Sementara itu Herman Sopandi, Koordinator FWSM membenarkan aktivitas pabrik semen di kampungnya telah menimbulkan dampak pencemaran lingkungan. Herman menjelaskan kampungnya kini menjadi gersang dan tidak sedikit warga yang terjangkit penyakit saluran pernafasan karena debu yang keluar dari pabrik berterbangan di sekitar pemukiman warga.

"Warga sering merasakan sesak nafas, pusing hingga mengalami gatal-gatal. Kami telah melakukan berbagai macam upaya namun tidak ada hasil yang didapat. Padahal warga juga manusia bukan hewan, hewan saja harus dilindungi, masa kami tidak dapat perlindungan ketika lingkungan kami menjadi rusak? Namun, kami akan terus berjuang. Jangan sampai anak cucu yang merasakan akibat dari aktivitas tambang ini," ucap Herman.

Hal serupa dirasakan Esih. Dia yang merupakan perwakilan warga dari Blok Talagasari menyampaikan setiap musim hujan di kampungnya sering dilanda banjir. Padahal sebelum ada pabrik, kampungnya tidak pernah dilanda banjir. Ia mengatakan, setiap warga mengeluhkan hal tersebut kepada pihak perusahaan dan pemerintah desa tidak pernah mendapatkan respon yang serius.

"Selain itu, warga sering mengeluhkan merasa pusing dan gatal-gatal, padahal sebelum adanya pabrik tersebut warga tidak pernah mengeluhkan pusing ataupun gatal-gatal. Selain itu warga juga pernah diancam dan ditakut-takuti oleh oknum preman dan oknum perusahaan supaya warga diam," ujar Esih.

(sya/mso)