MUI Selidiki Motif Pria di Sukabumi Gabungkan 2 Simbol Agama

Syahdan Alamsyah - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 17:00 WIB
Warga geruduk rumah pria di Sukabumi yang gabungkan simbol dua agama
Warga geruduk rumah pria di Sukabumi yang gabungkan simbol dua agama. (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi selidiki motif pria, inisial AS (60), yang memasang simbol dua agama. Sebelumnya, warga menggeruduk kediaman pria tersebut.

"Kaitan dengan masalah tersebut, yang bersangkutan akan dipanggil ke sini. Kami akan tanyakan penyebabnya apa. Sebab permasalahan ini kan baru praduga. Mungkin karena ekonomi, mungkin kurang sentuhan agama. Ini ada perwakilan akan mewawancarai yang bersangkutan," kata Ketua MUI Kabupaten Sukabumi A. Oman Komarudin di Gedung Negara Pendopo Sukabumi, Senin (25/10/2021).

MUI meminta permasalahan tersebut tidak dibesar-besarkan di media sosial. Dia menegaskan persoalan agama ini sangat sensitif.

"Imbauan MUI jangan dibesar-besarkan, apalagi menimbulkan hal tidak baik. Karena masalah agama bisa saja yang kecil jadi besar. Cukup saja yang sudah mah sudah, ke depan yang bersangkutan akan dipanggil soal penyebabnya. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api," ujar Oman.

Camat Kebonpedes Ali Iskandar mengatakan sebagaimana peran dan fungsinya, FKUB menjadi media sekaligus forum silaturahmi agar nilai kerukunan antarumat beragama tetap terjaga. "Kita menemukan fakta, ada peristiwa, ada gejala yang hadir di kecamatan Kebonpedes. Tentu saja ini menjadi pertanda buat kita bahwa sesungguhnya potensi ke arah terjadinya konflik itu tetap terbuka di mana-mana. Sehingga jalan utamanya adalah dengan cara membangun dialog. Paling utama bagaimana kemudian kita bisa merumuskannya ke dalam ketentuan norma berlaku," tutur Ali.

Dia menjelaskan keyakinan terhadap satu pemahaman itu dijamin oleh negara dan harus dilindungi. Selain itu, menurut Ali, penyebaran agama tidak boleh dilakukan terhadap komunitas umat yang sudah beragama.

"Kemudian, faktor dominan berkaitan dengan masalah kemiskinan dan kesenjangan, terkadang itu dikaitkan pula dengan masalah unsur SARA, sehingga menjadi potensi konflik buat kehidupan di tengah masyarakat," ucap Ali.

Rumah AS (60) digeruduk warga karena kedapatan memasang simbol-simbol yang dianggap menggabungkan dua agama. Polisi bergerak cepat meredam situasi dan melibatkan FKUB untuk menangani persoalan tersebut.

Berbagai video dan gambar disertai narasi menyebutkan lansia itu pengikut ajaran sesat dan memiliki padepokan. Polisi meluruskan narasi tersebut.

(sya/bbn)