Lansia Sukabumi Gabungkan 2 Simbol Agama, Polisi: Kami Serahkan ke FKUB

Syahdan Alamsyah - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 10:09 WIB
Warga geruduk rumah pria di Sukabumi yang gabungkan simbol dua agama
Foto: Warga geruduk rumah pria di Sukabumi yang gabungkan simbol dua agama (Istimewa).
Sukabumi -

Rumah pria lanjut usia inisial AS (60), digeruduk warga karena kedapatan memasang simbol-simbol yang dianggap menggabungkan dua agama. Polisi bergerak cepat meredam situasi dan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk menangani persoalan tersebut.

Berbagai video dan gambar disertai narasi yang menyebut warga Kampung Citangkalak, Desa Bojong Sawah, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi itu adalah pengikut ajaran sesat hingga memiliki padepokan tersebar di media sosial dan aplikasi perpesanan. Polisi meluruskan narasi tersebut.

"Permasalahan sudah kita dorong melalui FKUB, akan disikapi oleh lembaga tersebut. Kapasitas kami dalam persoalan ini adalah menjaga kondusifitas wilayah melakukan upaya yang kira lakukan dan memintai informasi dari yang bersangkutan (AS). Setelah itu kami serahkan ke FKUB," kata Kapolres Sukabumi AKBP SY Zainal Abidin kepada detikcom, Minggu (24/10/2021).

Zainal juga meluruskan soal informais ajaran sesat yang tersebar di media sosial dan aplikasi perpesanan. Menurutnya keberadaan dua simbol agama di kediaman AS lebih kepada keyakinan yang bersangkutan yang memang sudah berpindah agama.

"Dia (memang) membuat dua simbol agama, namun hal itu lebih kepada mendasari pemahaman dia personal dia, bukan menjurus kepada hal lain. Yang jelas dia pindah agama kondisi sekarang itu atas dasar pemahaman itu dia kemudian menggabungkan dua simbol agama," kata Zainal.

"Kita minta kepada seluruh masyarakat untuk memastikan dulu informasi yang diterima itu benar atau tidak. Kita pihak kepolisian saja bukan pihak yang berkompeten memutuskan persoalan ini seperti apa, makanya kita kemarin hanya mengamankan yang bersangkutan untuk kita mintai keterangan, kemudian kedua mengamankan beberapa simbol yang dibuat oleh yang bersangkutan itu dan menyerahkan permasalahannya ke FKUB," ucap Zainal menambahkan.

Situasi Sudah Kondusif

Sementara itu, Camat Kebonpedes Ali Iskandar membenarkan peristiwa yang kemudian tersebar di media sosial dan aplikasi perpesanan itu terjadi pada Sabtu (23/10) sekitar pukul 10.00 WIB. Ali memastikan situasi saat ini sudah kondusif.

"Negara kita mengakui kebebasan orang untuk meyakini keyakinan keberagamaan, dari hasil pengamatan kita sesungguhnya itu proses pindah agama. Dari satu keyakinan ke keyakinan lain. Kenapa diyakini pindah agama, jadi memang saat diyakini indikasi itu muncul kepermukaan maka kita sudah meminta agar ulama melakukan pendekatan. Membangun dialog karena dari simbol aktivitas keseharian sebagai warga binaan, di anggap mulai berbeda begitu," beber Ali.

Berdasarkan pengakuan AS, Ali menjelaskan bahwa pria itu sudah mengakui soal keyakinannya yang saat ini ia anut.

"Dan berdasarkan pengakuan, bahwa yang bersangkutan memang sudah memilih agama lain dan itupun kemudian tidak dipersoalkan karena ya itu kan menyangkut keyakinan orang begitu," jelas Ali.

Ali memastikan tidak ada upaya perusakan, intimidasi dan persekusi terhadap AS saat kedatangan warga ke rumahnya kemarin. Sensitifitas mereka yang datang dipicu kurangnya pemahaman atas informasi yang kemudian beredar.

"Tidak ada persekusi intimasi dan perusakan. Alhamdulillah permasalahan bisa diatasi dengan baik, maklum yang datang itukan bukan hanya kalangan ulama tapi juga partisipan-simpatisan yang (mendapat) informasinya juga sebatas melihat yang nampak di permukaan saja tidak memahami secara utuh," ujar Ali.

"Kemarin agar tidak timbul keresahan yang beragam, simbol tadi atas izin istrinya kemudian ikut juga diturunkan untuk tidak dipampangkan begitu dan ini kemudian juga dilakukan pendalaman oleh FKUB. Prinsipnya kita mengedepankan dialog karena ini menyangkut aqidah, keyakinan menyangkut pembinaan selama ini," ujar Ali menambahkan.

[Gambas:Video 20detik]




(sya/mso)