Ragam Kisah Warga Jabar yang Menderita Gegara Teror Pinjol Ilegal

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 12:28 WIB
Pinjam Online Abal-abal
Ilustrasi pinjol ilegal (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Bandung -

Warga di Jabar kerap mendapatkan teror usai berurusan dengan pinjaman online (pinjol) ilegal. Mulai dari bunga denda yang tak masuk akal, hingga ancaman yang ditebarkan ke anggota keluarga terdekat.

Berikut detikcom rangkum sejumlah kesaksian warga yang menjadi korban dari praktik pinjol ilegal.

Pinjam Rp 3 Juta, Ditagih Rp 48 Juta

Kejadian ini menimpa pria berusia 27 tahun. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bandung. Ia memiliki utang pokok sebesar Rp 3 juta yang telah dibayar, tetapi bunga dendanya sebesar Rp 48 juta malah datang menghantui.

Awalnya, dia meminjam uang sebesar Rp 3 juta dengan tenor 90 hari dari sebuah aplikasi pinjol yang belakangan ilegal atau tak terdaftar di OJK. Tapi, tak disangka di dalam aplikasi pinjol yang ia gunakan, terselip dua aplikasi pinjol lainnya yang tiba-tiba menyalurkan sejumlah uang ke rekeningnya.

"Langsung cair tiga-tiganya, tanpa ada konfirmasi sebelumnya. Saya kaget juga lihat tenornya kok cuma tujuh hari (awalnya 90 hari). Saya juga bingung mau dikembalikan gimana (kedua aplikasi tadi) dendanya malah jadi makin gede," ujar lelaki itu saat berbincang dengan detikcom, Minggu (17/10).

Sambil terbata-bata, ia mengatakan, denda Rp 48 juta itu merupakan akumulasi dari tiga pinjol tersebut. "Ada satu aplikasi yang dendanya sampai 21 juta, saya pinjam April 2021 lalu. Lewat 160 hari ya dendanya itu terus membengkak, padahal utang pokoknya sudah saya bayar," ucapnya.

"Ada ancaman lewat telepon, saya sudah ngobrol baik-baik kepada penyedia agar tenornya diperpanjang. Tapi tidak bisa, saya bayar pokoknya. Lama-lama bunga dendanya semakin besar, saya merasa terjebak. Maksudnya kita-kira bisa menolong di kala pandemi untuk sehari-hari, ternyata malah menjebak. Saya juga depresi karena terus ditekan. Mereka mengancam menyebarkan data saya lewat WA ke semua kontak," tutur dia menambahkan.

Keluarga Kena Teror hingga Jatuh Sakit

TM (39), warga Bandung korban pinjol ilegal Sleman berbicara soal pengalamannya diteror debt collector online. TM bahkan pernah difitnah sebagai bandar narkoba saat diteror.

Menggunakan kursi roda, TM datang bersama kuasa hukumnya Heri Wijaya ke Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis (21/10). Dia menceritakan dampak yang dia alami akibat diteror pinjol ilegal.

"Efek dari kejadian ini secara fisik, psikis dan mental benar-benar jatuh sampai masuk RS. Semua terjadi karena teror dan makian dari pelaku," ucap TM.

Suaranya bergetar saat menceritakan pengalaman pahitnya itu. Tekanan terbesar baginya justru muncul saat pelaku meneror juga keluarga dan rekan-rekannya.

"Ini otomatis mental saya jatuh. Karena menyebarkan foto diri saya, cacian dan makian ke keluarga besar dan ke rekan-rekan," kata dia.

TM juga menceritakan awal mulanya terjerat pinjol ilegal ini. Awalnya, dia memang meminjam pada satu aplikasi namun hal itu menjadi petaka saat sudah lunas, uang kembali masuk dan menjadi pinjaman padahal tak ada persetujuan dari TM.

Singkat cerita TM ada kesulitan membayar. Namun, satu hari usai jatuh tempo, dia membayar tapi mulai mendapatkan teror.

"Bentuk ancamannya ini berupa chat yang isinya kurang lebih saya dibilang bandar narkoba, maling uang perusahaan, DPO polisi bahkan sampai dikata-katai binatang," tutur dia.

TM akhirnya melaporkan kasus itu ke polisi. Penyidik Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus yang dipimpin Kasubdit Kompol A Prasetya bergerak dan membongkar perusahaan itu.

Teman Peminjam Dimaki Debt Collector

Debt collector pinjol tidak hanya meneror ke peminjam uang, beberapa teman si peminjam juga ikut diteror oleh nomor tak dikenal yang langsung menagih utang.

Biasanya nasabah pinjol kerap menyertakan nomor darurat, teman hingga kenalannya saat membuat aplikasi pinjaman. Ketika terlambat membayar, penagih tidak segan meneror nomor-nomor yang disertakan tersebut.

Hal itu dialami Nurlela warga Palabuhanratu yang juga admin halaman Facebook My Palabuhanratu itu mengaku pernah tiba-tiba di telepon hingga dikirimi pesan oleh penagih aplikasi pinjol. Tidak hanya satu kali, hal itu dialami Nurlela berkali-kali hingga ia terpaksa mematikan telepon seluler dan memblokir kontak-kontak tersebut.

"Saya dikirimi foto selfie nasabahnya, lalu diteleponin. Itu beda-beda orang atau beda-beda nasabah begitu. Mungkin nomor saya disertakan sebagai kontak darurat oleh yang bersangkutan saat meminjam," kata perempuan yang akrab disapa Misber oleh member-nya tersebut, kepada detikcom, Sabtu (16/10).

Nurlela mengaku diancam dengan kata-kata kasar agar si peminjam agar membayar utangnya. Padahal, dari nama-nama yang disebut penagih pinjol, ada sebagian yang tidak dikenal oleh Nurlela. Menurutnya, aksi teror itu berlangsung sejak Juli hingga September.

"Pakai kata kasar ya, mereka minta tolong dibilangin ke saudara kamu ke teman kamu agar segera lunasi utang. Saya jawab ya saya enggak kenal orangnya. Akhirnya ya saya blokir saja," ujar Nurlela.

Dia kemudian mengirimkan beberapa tangkapan layar yang menyertakan foto selfie peminjam. "Sering juga beberapa followers yang mengeluhkan soal teror telepon itu, hanya saya menyarankan agar diblokir saja," ucap Nurlela.

Ia juga mengaku pernah dikirimi foto seseorang yang dia kenal dan bekerja sebagai dokter. Dalam pesannya si dokter tersebut disebut sebagai penipu.

"Saya kenal fotonya dan namanya juga sama, dia berprofesi sebagai dokter. Akhirnya saya forward tapi enggak dibalas sama orangnya," ucap Nurlela.

(yum/bbn)