Hari Santri

Sejarah Ponpes Santi Asromo, Dianggap Aneh-Sempat Dibakar Penjajah

Bima Bagaskara - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 14:32 WIB
Ponpes Santi Asmoro Majalengka.
Ponpes Santi Asmoro Majalengka (Foto: Istimewa).
Majalengka -

Pondok Pesantren Santi Asromo yang terletak di Desa Pasirayu, Kecamatan Sindang, Majalengka, Jawa Barat, didirikan oleh seorang pahlawan nasional bernama KH. Abdul Halim pada 3 April 1932. Sejak didirikan, Pondok Pesantren Santi Asromo telah banyak berperan dalam pengembangan pendidikan Islam di Majalengka.

Didirikannya Pondok Pesantren Santi Asromo ini berawal dari gagasan yang tercetus dalam Muktamar Perikatan Oelama (PO) di Majalengka pada tahun 1931.

Saat itu KH. Abdul Halim mencetuskan gagasan puncak untuk mendirikan lembaga pendidikan yang menjadikan peserta didiknya agar mampu mandiri di tengah masyarakat pada suatu tempat khusus.

"Jadi Ponpes Santi Asromo ini didirikan oleh seorang pahlawan nasional, KH. Abdul Halim tokoh bangsa yang gandrung pada persatuan umat tanggal 3 April 1932," kata pimpinan Pondok Pesantren Santi Asromo Ustadz Asep Zaki Mulyatno saat berbincang dengan detikcom, belum lama ini.

Ponpes Santi Asmoro Majalengka.Pimpinan Ponpes Santi Asmoro Asep Zaki Mulyatno (Foto: Bima Bagaskara/detikcom).

Ustadz Zaki yang juga merupakan cicit dari KH. Abdul Halim menjelaskan didirikannya Pondok Pesantren Santi Asromo sempat dianggap aneh pada masanya. Pasalnya kata Zaki, nama yang diambil untuk pesantren ini tidak menggunakan bahasa arab seperti pesantren lainnya.

Nama Santi Asromo sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti tempat yang sunyi. Hal itu karena lokasi Santi Asromo yang berada di tengah-tengah perbukitan dan jauh dari keramaian .

"Jadi ketika didirikan tahun 1932 dianggap pondok yang aneh, karena tidak menggunakan nama arab seperti pondok lain, tapi justru menggunakan nama dari bahasa sansekerta, Santi Asromo," ujar Zaki.

"Santi artinya sunyi dan asromo artinya tempat, jadi tempat yang sunyi. Bayangkan tahun 1932 itu gimana di sini, masih hutan ini belum ada jalan. Beliau (KH. Abdul Halim) juga ingin menggunakan bahasa asli Nusantara," ucap dia menambahkan.

Ponpes Santi Asmoro Majalengka.Ponpes Santi Asmoro Majalengka. Foto: Istimewa

Perjalanan Pondok Pesantren Santi Asromo dalam mengembangkan pendidikan Islam di Majalengka harus melalui jalan terjal. Zaki menceritakan pesantren buyutnya itu sempat dibakar oleh penjajah.

Tidak hanya sekali, Santi Asromo pernah dibakar sebanyak 2 kali. Hal itu disebabkan karena penjajah merasa tercancam dengan gerakan yang dilakukan oleh KH. Abdul Halim saat itu. Bahkan KH. Abdul Halim juga sempat akan dibunuh pada masa pemberontakan DI/TII.

"Pondok ini pernah dibakar pada zaman setelah dan sebelum kemerdekaan. Mbah Halim dianggap mengganggu kepentingan mereka (penjajah). Kemudian masa DI/TII Mbah sempat akan dibunuh, tapi beliau selamat. Beliau mengungsi ke daerah Gunung Ciremai," ungkapnya.

Masih kata Zaki, Santi Asromo sejak awal didirikan telah menerapkan metode pembelajaran modern. Menurutnya KH. Abdul Halim dalam mengajar sudah menggunakan bangku, kursi dan mengharuskan santrinya memakai celana serta baju.

"Kita itu dari awal pondok modern. Jadi tahun 1932 itu Mbah Halim kalau mengajar sudah memakai kursi dan meja. Kalau dulu definisi modern itu seperti itu. Jadi saat itu wujud modernisasi Mbah Halim itu mengajar pakai meja kursi, anak-anak pakai celana, baju dan dasi," kata Zaki.

Saat ini Pondok Pesantren Santi Asromo telah berkembang pesat. Setidaknya ada 1300-an santri yang kini menuntut ilmu disini. Untuk lembaga pendidikannya, selain pesantrenSantiAsromo juga menyediakan pembelajaran formal mulai dari tingkat RA, MI, SMP,Mts dan SMA.

Simak video 'Hari Santri Nasional, Jokowi: Santri Harus Jadi Pengusaha':

[Gambas:Video 20detik]