Analisis BKIPM soal Ikan Mati Massal di Waduk Saguling-Cirata

Whisnu Pradana - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 15:20 WIB
Ikan Mari di Waduk Saguling dan Cirata
Ikan yang mati di Waduk Saguling. (Foto: istimewa)
Bandung Barat -

Ikan mati massal di perairan Waduk Saguling dan Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jumlah ikan mati itu sebanyak 10 ton.

Kematian massal ikan itu disinyalir akibat faktor cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari belakangan. Kebanyakan ikan yang mati jenis mas dan nila, baik yang masih benih dan siap panen di Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan yang mati berada di Blok Ugrem, Blok Tangan-tangan, dan Blok Balong yang masuk ke wilayah administratif Desa Bongas dan Desa Batulayang.

Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jawa Barat Dedi Arief Hendriyanto mengatakan matinya puluhan ton ikan di KJA perairan Waduk Saguling dan Cirata merupakan kasus berulang. "Ini kan sebetulnya kejadian berulang saat musim pancaroba. Pergantian musim pasti ada kematian ikan mendadak. Seharusnya bisa diantisipasi oleh petambak," ujar Dedi saat dihubungi detikcom, Kamis (21/10/2021).

Dedi mengatakan kejadian ini biasanya terjadi saat hujan deras atau disebut gejala upwelling. Gejala upwelling ini membuat air yang hangat berputar ke permukaan sementara yang dingin turun ke dasar.

"Perputaran air dengan kondisi hangat ke atas dan dingin ke bawah, ini kemudian mengaduk sedimentasi pakan ikan yang terakumulasi sejak lama lalu menimbulkan reaksi kimia amonia yang membuat ikan akhirnya keracunan sampai mati mendadak," tutur Dedi.

Untuk mengantisipasi kejadian keracunan ikan di KJA, sebetulnya petambak bisa melakukan pengendalian kepadatan ikan dan penaikan jaring apung. Kemudian manajemen pemberian pakan sehingga tidak menimbulkan penumpukan limbah.

"Kalau sudah musim hujan kepadatan KJA harus dikurang lalu keramba dinaikkan. Biasanya kan kedalamannya 3 sampai 4 meter, jadi dinaikkan saja. Jadi nanti sisa pakannya bisa dibersihkan,"ucap Dedi.

"Kemudian pemilihan lokasi tambak juga penting. Karena kebanyakan lokasi keramba itu yang di bawahnya berlumpur jadi rentan terhadap penyakit. Di Saguling dan Cirata juga banyak ditemukan. Tapi tidak ada masalah kalau kepadatannya tidak terlalu tinggi," kata Dedi menambahkan.