Puluhan Ton Ikan Mati Mendadak di Waduk Saguling dan Cirata

Whisnu Pradana - detikNews
Rabu, 20 Okt 2021 15:22 WIB
Ikan Mari di Waduk Saguling dan Cirata
Ikan yang mati di Waduk Saguling. (Foto: istimewa)
Bandung Barat -

Puluhan ton ikan mati di Waduk Saguling dan Cirata, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kematian ikan itu disinyalir akibat faktor cuaca ekstrem yang terjadi sejak beberapa hari belakangan.

Kebanyakan ikan yang mati merupakan jenis ikan mas dan nila, baik yang masih benih maupin yang sudah siap panen di Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan yang mati ada di Blok Ugrem, Blok Tangan-tangan, dan Blok Balong yang masuk ke wilayah administratif Desa Bongas dan Desa Batulayang.

"Kejadian ikan mati itu mulai dari kemarin. Banyak ikan di KJA yang mati mendadak karena kondisi cuaca buruk. Untuk di tiga blok KJA di sini saja sekitar 8 sampai 10 ton yang mati, kalau dengan blok lain bisa lebih dari itu, puluhan ton mungkin," kata Asep Elep, pemilik KJA di Waduk Saguling, Dermaga Bongas, Cililin saat dihubungi, Rabu (20/10/2021).

Asep mengatakan kematian ikan-ikan itu juga disebabkan naiknya air bawah yang bercampur dengan endapan pakan ke permukaan. Kondisi tersebut akhirnya membuat ikan mati mendadak akibat keracunan.

Sebetulnya matinya ikan saat memasuki musim hujan seperti ini merupakan kejadian berulang. Alhasil ada sebagian pembudi daya ikan yang sudah melakukan antisipasi agar kematian ikan tidak terlalu banyak seperti mengurangi pakan dan tidak dulu menabur benih ikan baru.

"Kejadian ini selalu rutin terjadi ketika kondisi cuaca ekstrem, makanya kalau yang udah paham biasanya melakukan antisipasi sejak dini. Makanya kematian ikan tidak total, paling dalam satu petak KJA yang mati sekitar 30-50 persen," ucap Asep.

Tak mau mengalami kerugian lebih parah, banyak pembudi daya ikan yang memilih menjual ikannya dengan harga di bawah standar. Misalnya ikan yang baru mati dan masih segar karena dibekukan, dijual Rp 10 ribu per kilogram dari harga normal Rp 25 ribu per kilogram.

"Ya lumayan masih ada yang beli meski dengan harga jauh di bawah pasaran, daripada dibuang sama sekali. Biasanya yang beli tukang ojek, warga sekitar yang sudah biasa, buruh juga," tutur Asep.

(bbn/bbn)