Orang Pinggiran

Sejarah Singkat Terbentuknya PT KAI dari Masa ke Masa

Nur Azis - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 17:06 WIB
Ilustrasi kereta api
Ilustrasi (Foto: dok. PT KAI)
Sumedang -

Moda transportasi kereta api memiliki sejarah panjang di Indonesia. Hal itu seiring dengan melimpahnya hasil bumi kala masih di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Seperti wilayah Jawa Barat yang dijadikan daerah perkebunan untuk tanaman ekspor dengan memiliki lebih dari 80% untuk perkebunan teh dan kopi. Bahkan untuk tanaman kina, seluruhnya ada di Jawa Barat (Haryoto Kunto,2014,Wajah Bandung Tempo Doeloe,p.103).

Kala itu, Khususnya pulau Jawa sangat terkenal dengan kemajuan di bidang perkebunan dan pertaniannya. Hal tersebut memaksa perlu adanya moda transportasi lain yang bisa mendistribusikan barang secara cepat dari satu daerah ke daerah lain terutama wilayah pegunungan-pegunungan dan pedesaan-pedesaan.

Sebelum ada kereta api, penduduk Jawa baik untuk angkutan orang ataupun angkutan barang hanya menggunakan kuda pos bagi warga mampu dan cikar atau pedati sapi bagi warga biasa. Bisa dibayangkan waktu tempuh yang diperlukan jika melakukan perjalanan jarak jauh.

Hal itu menjadi persoalan saat hasil panen akan didistribusikan keluar pulau. Tidak jarang, barang yang dikirim keburu busuk di perjalanan ataupun di Pelabuhan-pelabuhan. Kendala tersebut menjadi wacana serius di negeri Induk Belanda sana.

Hingga pada 6 April 1875, Pemerintah Belanda melalui perusahaan kereta api di Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) memutuskan untuk membuat jalur kereta api dari Pasuruan-Surabaya hingga ke Malang. Hal itu sebagaimana yang diungkapkan, Boekoe Peringatan dari Staatsspooren Tramwegen di Hindia-Belanda 1875-1925 (Reitsma:1924) yang disadur ulang ke dalam versi pendek berbahasa melayu rendah oleh R. M. Haria W. Soemarta.

Pembangunan jalur kereta api sebetulnya telah lebih dulu dilakukan oleh perusahaan swasta, Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij (NIS). Groundbreakingnya ditandai dengan pencangkulan jalur kereta secara simbolis yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ludolph Anne Jan Wilt baron Sloet van de Beele di Desa Kemijen Semarang pada 17 Juni 1864.

Pembangunan jalur kereta api dari Kemijen semarang menuju desa Tanggung dengan jarak 26 Km dan lebar kereta api 1435 mm tersebut, dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes. Jalur kereta ini sukses dibangun serta mulai dioperasikan pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Kemudian, pembangunan jalur kereta api dilanjutkan dari Kota Semarang menuju ke Surakarta yang berjarak 110 Km. Keberhasilan pembangunan dua jalur tersebut telah menarik minat para investor untuk membangun jalur lainnya di pulau Jawa. Hal itu sebagaimana yang tertuang dalam Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI,2015).

Selain jalur kereta api, NIS juga membangun jaringan tram atau kereta listrik yang hanya ada di sekitar wilayah Batavia (Jakarta). Seperti jalur dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor) yang dibangun tahun 1918. Kereta listrik sendiri, pertama kali beroperasi tahun 1925 yang menghubungkan Weltevreden dengan Tanjung Priok.

Weltevrede adalah sebuah kawasan tempat tinggal orang-orang eropa kala itu atau sekitar 10 kilometer di pinggiran Batavia. Kereta listrik juga dibangun dari Tanjung Priok ke Meester Cornelis atau Jatinegara.