'Terowongan Kuno' Kembali Ditemukan di Kawasan Stasiun Bogor

M. Sholihin - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 15:28 WIB
Terowongan Kuno di Bogor
Wujud lorong disebut-sebut 'terowongan kuno' di Bogor. (Foto: Tim Peneliti Terowongan Kuno Kota Bogor)

Dalam temuan dua saluran kuno itu, juga ditemukan sebatang besi melintang yang berada tepat di bibir terowongan yang mengarah ke Stasiun Bogor. Belum diketahui pasti apa fungsi dari batas besi itu dan masih dalam kajian tim peneliti.

Melihat struktur konstruksi dan jaringan saluran air yang ditemukan, kata Wahyu, saluran-saluran air itu memiliki tiga fungsi. Pertama sebagai drainase, irigasi dan pendukung kereta api di zamannya yang menggunakan tenaga uap.

"Mungkin kalau bicara fungsi itu ada fungsi drainase, tapi kemudian mungkin jika kaitkan dengan jaringannya mungkin juga ada fungsi irigasi, kemudian ketiga ada fungsi untuk kereta api di zaman itu yang menggunakan tenaga uap, jadi air digunakan untuk mendukung kereta api itu," tutur Wahyu.

Wahyu menambahkan infrastruktur saluran air yang ditemukan diduga dibangun pada kurun waktu yang berbeda di zaman kolonial Belanda. Hal itu, kata dia, dilihat dari struktur bahan bangunan pada terowongan yang ditemukan.

"Misalnya dari sisi material, kalau dilihat material pada gorong-gorong pertama ditemukan itu material konstruksinya kan bata merah, sementara di ruang bak sendiri itu konstruksinya bukan bata merah melainkan pasangan batu kali. Jadi itu menegaskan bahwa konstruksi itu berbeda masa dengan saluran pertama ditemukan," ujarnya.

"Kemudian, kalau kita lihat saluran yang ke arah stasiun, itu berbeda lagi. Kalau kita teruskan saluran arah stasiun itu kita akan temukan saluran berupa terowongan yang lingkarannya terbuat dari tanah liat. Itu berbeda lagi dengan bangunan yang lain," ucap Wahyu menambahkan.

Saluran-saluran air itu, menurutnya, dibangun sesuai kebutuhan pada zamannya dan terus mengalami perkembangan. Namun apakah saluran itu bisa difungsikan kembali di masa sekarang, Wahyu menyebut perlu kerja keras dan keseriusan Pemkot Bogor untuk mewujudkannya. Sebab menurutnya, banyak saluran air yang terputus karena sedimen, tertutup bangunan baru dan rusak tak berbentuk.

Tetapi terkait tindak lanjut, kata Kepala Balar (Balai Arkeolog) kemarin, secara singkat itu, tidak bisa difungsikan kembali seperti fungsi awal, tetapi bisa saja kalau dibuat sebagai lokasi konservasi atau bangunan bersejarah," kata Wahyu.


(bbn/bbn)