Menanti Nasib Terowongan Kuno Belanda di Saluran Air Kota Bogor

M Solihin - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 10:30 WIB
Penemuan terowongan kuno di Kota Bogor
Terowongan kuno di Bogor (Foto: dok ist)
Bogor -

Terowongan kuno peninggalan zaman penjajahan Belanda ditemukan petugas pemeliharaan saluran air di Kota Bogor akhir Agustus lalu. Lokasi terowongan kuno itu berada di bawah saluran air bawah tanah yang dibangun Pemkot Bogor, di Jalan Nyi Raja Permas dan tak jauh dari Stasiun Bogor.

Petugas yang kemudian menggali terowongan, juga menemukan bak penampungan air bawah tanah berbentuk kotak yang sebelumnya sempat dikira bunker.

Sampai saat ini, belum diketahui apa yang akan dilakukan Pemkot Bogor terhadap terowongan kuno itu. Apakah kemudian akan dijadikan sebagai salah satu benda cagar budaya atau akan dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan keberadaannya.

Terowongan kuno itu ditemukan petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor yang sedang melakukan pemeliharaan saluran air bawah tanah di Jalan Nyi Raja Permas, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, akhir Agustus 2021 lalu.

Secara tak sengaja, petugas kemudian menemukan terowongan kuno peninggalan jaman penjajahan Belanda yang posisinya berada di bawah saluran air yang dibangun Pemkot Bogor dan sedang diperbaiki.

Temuan tersebut sempat membuat heboh warga Kota Bogor dan pegiat sejarah dari berbagai komunitas. Apalagi ketika petugas kembali menemukan sebuah ruangan berbentuk kotak di ujung terowongan. Bangunan itu memiliki panjang 8,5 meter, lebar 2 neter dan tinggi menapai 1,5 meter.

Banyak yang mengira ruangan itu merupakan bunker atau tempat persembunyian di bawah tanah. Tapi kemudian dugaan itu dibantah dan disepakati bahwa ruangan itu hanya merupakan penampungan air yang tersambung dengan terowongan atau saluran air bawah tanah yang ditemukan sebelumnya.

"Jadi gini, kalau terkait yang disebut terowongan itu menurut kami itu adalah saluran air. Kenapa begitu, karena itu berdasarkan apa yang saya alami dan informasi dari berbagai pustaka, ada peta yang dibuat Belanda," kata pemerhati sejarah dari Komunitas Bogor Historia Taufik Hassuna, saat berbincang dengqn dwtikcom pada Jum'at (3/9) lalu.

Taufik menyebut, terowongan yang ditemukan petugas Dinas PUPR Kota Bogor adalah saluran air yang dahulu tersambung dari Istana Bogor hingga ke hulu di Sungai Cibalok. Saluran air itu beberapa bagiannya terbuka dan sebagian tertutup karena harus melewati bangunan dan lainnya.

Saluran air yang berasal dari Sungai Cibalok itu, kata Taufik, memiliki fungsi sebagai pendukung kebutuhan air untuk pemukiman di kawasan Stasiun Bogor, pusat penelitian di kawasan Cimanggu dan pusat militer di kawasan Ciwaringin.

"Dugaan itu diperkuat dengan berbagai literasi. Dari peta dan buku dan sebagainya. Kita amayi juga peta Belanda tang dibuat 1900, 1901, 1921 dan 1930, ada informasinya disitu," imbuhnya.

Dari hasil diskusi tim Bogor Historia disepakati bahwa ruangan bawah tanah yang sempat menghebohkan itu bukan bunker. Melainkan sebuah ruangan yang punya fungsi sebagai penampung air sementara dengan berbagai fungsi.

"Kami juga sempat diskusikan itu, kemudian kita compare dengan bentuk bangunan yang sekarang ditemukan, itu ada dua fungsi, pertama karena keberadaan depo di situ. Bisa dipastikan dulu mereka butuh sarana air, untuk kepentingan kereta, karena dulu kan kereta uap itu. Jadi kalau fungsinya itu, bisa saja penampungan air itu digunakan untuk pendingin mesin kereta uap," kata Taufik.

"Tetapi kalau dikaitkan dengan saluran-saluran air, itu lebih masuk akal bahwa ruangan bawah tanah itu adalah penampung air yang punya fungsi khusus. Pertama itu untuk deposit air, yang bisa digunakan kemudian untuk kereta uap. Kedua, bangunan itu adalah bangunan saluran air yang sengaja dibangun karena harus melewati bangunan di atasnya yang punya beban berat, kami orang Bogor menyebut itu Gonggo," imbuhnya.

Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan, Pemkot Bogor akan menindaklanjuti temuan ini dengan menggandeng Universitas Pakuan (Unpak) dan IPB University.

"Setelah kita cek di dinas terkait, memang terlihat ada peta saluran bawah tanah yang dibangun pada zaman Belanda," kata Bima Arya usai melakukan pengecekan saluran bawah tanah yang berada di Jalan Nyi Raja Permas, Pasar Anyar, Kota Bogor, Sabtu (28/8/2021).

Bima Arya menegaskan, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan fungsi saluran, apakah saluran air atau memiliki fungsi-fungsi lain.

Untuk lebih memastikannya, Bima mengaku telah berkomunikasi dengan Universitas Pakuan (Unpak) dan IPB University guna mendeteksi luas dan panjang saluran tersebut dengan menggunakan alat yang menunjang.

Selain ingin memastikan fungsi saluran, Bima Arya juga menginginkan agar dilakukan kajian agar dapat diketahui, apakah saluran bawah tanah tersebut memungkinkan untuk direvitalisasi dan digunakan kembali.

Lihat juga video 'Penampakan Ruang Mirip Bungker di Lokasi Penemuan Terowongan Kuno':

[Gambas:Video 20detik]



(mud/mud)