Pihak Pabrik Klaim Limbah di Sungai Cikaso Sebanding Cuka Dapur

ADVERTISEMENT

Pihak Pabrik Klaim Limbah di Sungai Cikaso Sebanding Cuka Dapur

Syahdan Alamsyah - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 20:38 WIB
Tercemar limbah asam sulfat, ikan di Sungai Cikaso mati
Sungai Cikaso Sukabumi yang tercemar limbah. (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

PT Clariant Adsorbent Indonesia memberikan pernyataan terkait pencemaran limbah dari perusahaannya yang 'terlepas' ke Sungai Cikaso, Sukabumi. Mereka mengatakan limbah yang terbuang itu tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Pabrik dikelola perusahaan ini memproduksi bahan adsorben untuk proses pemurnian minyak nabati.

Dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada detikcom, Daniyanto Sutanto, selaku Head of Operation PT Clariant Adsorbents Indonesia, menceritakan soal air Sungai Cikaso yang tiba-tiba berubah warna di sekitar fasilitas perusahaannya.

"Pada hari Rabu 4 Agustus air di Sungai Cikaso berubah warna di sekitar fasilitas kami di Cimapag, dimana kami memproduksi bahan adsorben untuk proses pemurnian minyak nabati. Dikarenakan kesalahan manusia (human error), air hujan yang mengandung sedikit bahan asam, dengan volume sekitar 5 meter kubik, secara tidak sengaja terlepas dari fasilitas pengelolaan air limbah kami ke sungai," kata Daniyanto, Selasa (10/8/2021).

Daniyanto menyebut akibat ada ha itu, tingkat pH air buangan limbah menjadi 2.6 dan permukaan sungai menjadi keruh untuk sementara. "Tingkat keasaman tersebut sebanding dengan cuka dapur dan tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Ini adalah insiden terisolasi dan untuk pertama kalinya terjadi. Situasi saat ini sudah terkendali dan warna air dan tingkat pH telah kembali ke kondisi standar, serta fasilitas kami terus beroperasi secara normal," ujarnya.

PT Clariant mengatakan pihaknya telah menanggapi insiden itu secara serius. Mereka kemudian melakukan investigasi internal dan menyeluruh yang bekerja sama dengan pihak berwenang.

"Termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukabumi, untuk mengevaluasi situasi yang ada. Sebagai bagian dari upaya kami, sampel air sungai pada hari kejadian telah diambil dan diuji di laboratorium yang terakreditasi oleh pemerintah," jelasnya.

"Fokus utama kami adalah keamanan dan kesehatan dari semua karyawan kami serta masyarakat dan lingkungan dimana kami beroperasi. Oleh karena itu, kami juga menjalin komunikasi yang erat dengan masyarakat sekitar dan telah dua kali melakukan pertemuan untuk berbagi informasi dengan masing-masing kepala desa dan pejabat Desa Neglasari dan Desa Bantar Panjang," kata Daniyanto menambahkan.

Perlindungan lingkungan dijelaskan PT Clariant merupakan syarat utama dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Menurut mereka, fasilitas Clariant di Cimapag memiliki rekam jejak yang kuat dalam pengelolaan lingkungan, termasuk pengolahan air limbah.

"Setiap bulan Clariant melakukan pengujian pengolahan air limbah untuk fasilitas Cimapag di laboratorium eksternal yang terakreditasi, dan menyerahkan hasilnya setiap tiga bulan ke kantor Lingkungan Hidup pemerintah. Selain itu kami juga memeriksa pembuangan pengolahan air limbah di lab internal kami setiap hari, untuk menjaga lingkungan," kata Daniyanto.

(sya/bbn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT