Round-Up

Geger Pembagian Beras 'Batu' ke Warga Terdampak PPKM di Pandeglang

Rifat Alhamidi - detikNews
Jumat, 06 Agu 2021 07:38 WIB
Warga Pandeglang, Banten, dihebohkan dengan gumpalan beras seperti batu. Beras tersebut merupakan bantuan bagi warga yang terdampak PPKM.
Foto: Beras 'batu' di Pandeglang (Rifat Alhamidi/detikcom).
Pandeglang -

Penemuan beras yang kondisinya sudah menggumpal seperti batu menggegerkan warga Pandeglang, Banten. PT Pos Indonesia sebagai distributor melemparkan tanggung jawab pengadaan logistik ini kepada Perum Bulog yang disebut sebagai penyedia utama bantuan untuk masyarakat yang terdampak pemberlakuan PPKM.

Beras yang terbungkus karung bertuliskan 'Bantuan Beras PPKM 2021' dan 'Beras Bulog Medium 10 Kg' ini dibagikan pada Selasa (3/8). Saat dibuka, kondisinya sudah berwarna kuning dan penuh gumpalan yang mengeras seperti batu.

Penemuan ini sontak membuat warga yang menjadi penerima bantuan ini kecewa. Mereka yang tadinya berharap bisa mendapat bantuan saat pandemi COVID-19, malah menerima beras yang tidak layak untuk dimasak.

"Ini beras dari Bulog katanya buat bantuan PKH. Dicuci juga warnanya tetap begitu kang, enggak bisa dimakan ini mah," kata Uki, warga di Kelurahan Pandeglang, Banten yang menerima bantuan beras, saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/8/2021).

Warga yang kecewa kemudian memutuskan untuk mengembalikan karung-karung beras 'batu' yang tak layak makan tersebut. Mereka berharap bantuan itu bisa diganti dengan beras yang lebih layak untuk dikonsumsi.

"Kita balikin ke kantor kelurahan, mudah-mudahan bisa diganti. Intinya kita kecewa kang. Masak kita dikasih beras kayak gini, ini kan enggak layak dikonsumsi buat manusia," ungkapnya.

Temuan beras 'batu' yang tak layak konsumsi ini pun menimbulkan perselisihan dan saling lempat tanggung jawab antara PT Pos dengan Perum Bulog. Bahkan, Dinas Sosial Pandeglang mengaku tak pernah dilibatkan saat proses penyaluran bantuan beras yang ditemukan menggumpal seperti batu tersebut.

Melalui Managernya Andri Maulana, PT Pos Indonesia Cabang Pandeglang menyatakan hanya bertugas sebagai pengantar bantuan logistik itu kepada warga di Pandeglang. Ia pun menyebut bantuan beras itu berasal dari Bulog.

"Kami hanya bertugas sebagai transporter. Kalau untuk kaitan kualitas berasnya, itu menjadi ranah penyedia yaitu dari Bulog dan kami hanya ditugaskan untuk mengantar bantuan itu kepada KPM," katanya.

Pernyataan Andri rupanya berbeda dengan Kepala Bulog Sub Divre Pandeglang-Lebak M. Wahyudin. Sebagai penyedia, Wahyudin menyebut pihaknya telah bekerjasama dengan anak perusahaan PT Pos yaitu PT Pos Logistik untuk distribusi bantuan beras kepada warga selama PPKM. Seharusnya kata dia, tanggung jawab soal kualitas beras itu ada di tangan PT Pos yang memang menyalurkannya secara langsung kepada penerima.

"Karena kami sebagai penyedia itu sudah memastikan beras yang mau disalurkan kepada warga kondisinya betul-betul terjaga. Jadi kan begini alurnya, setelah keluar dari gudang Bulog, beras-beras ini kemudian dibawa oleh Poslog (PT Pos Logistik). Sebetulnya tugas kami sudah putus di sana, karena dari tim PT Pos juga punya petugas untuk mengecek kembali kualitas beras-beras tersebut sebelum diterima oleh warga," katanya.

Meski begitu, Wahyudin tak mau menyalahkan pihak manapun terkait temuan beras 'batu' tersebut. Pihaknya akan berkoordinasi dengan PT Pos supaya kejadian ini tidak terulang lagi nantinya. Ia pun tak menampik temuan ini karena bisa saja beras tersebut kondisinya sudah tidak layak dikonsumsi akibat faktor cuaca sebelum diterima oleh warga.

"Jadi kalau dilihat dari kondisinya, itu sepertinya karena faktor cuaca. Soalnya kami dapat laporan tadi, pas berasnya diturunkan itu kondisi di sana sedang hujan besar. Kemungkinan itu kena ke berasnya sehingga mempengaruhi kualitasnya juga," ungkapnya.

"Kami akan koordinasikan dengan PT Pos. Intinya, jangan sampai terjadi lagi karena ini kan merupakan bantuan yang dinantikan oleh masyarakat apalagi yang terdampak dengan pandemi COVID-19," paparnya.

Pihaknya juga memastikan akan mengganti semua beras yang sudah tidak layak dikonsumsi tersebut. Jika warga lainnya menemukan kualitas beras serupa, ia berharap temuan itu bisa segera dilaporkan ke pihak desa atau kelurahan setempat supaya bisa diganti dengan kualitas yang lebih layak untuk dikonsumsi.

"Temuan ini bukan cuma di Pandeglang soalnya, di Lebak juga ada. Tapi kami pastikan barangnya akan diganti, tinggal dilaporkan saja jika memang masyarakat ada yang menemukan barang yang mereka terima kondisinya sudah seperti itu," tandasnya.

Sementara, Dinas Sosial Pandeglang mengaku tak pernah dilibatkan selama penyaluran bantuan yang belakangan diketahui berasal dari Bulog tersebut. Padahal tahun lalu, dinsos pernah ikut terlibat dalam distribusi bantuan itu namun tahun ini tugasnya diambil alih oleh PT Pos dan Bulog.

"Kaitan dengan beras tersebut, itu ranahnya ada di pihak PT Pos dan Bulog. Jadi itu dari pusat bantuannya dan tidak melibatkan Dinsos Kabupaten Pandeglang," katanya.

Ia bahkan menunjukkan dua surat yang berisi jadwal penyaluran bantuan itu kepada warga di Pandeglang, Banten. Saat dilihat, surat dengan kop PT. Pos Indonesia ini menyebutkan jadwal penyaluran bantuan mulai dari Juli hingga Agustus 2021.

"Tahun 2020 kami memang dilibatkan, nah sebelum disalurkan itu biasanya Dinsos diajak cek ke gudangnya untuk memastikan kualitas beras tersebut. Tapi tahun ini enggak, jadwalnya aja yang buat dari pihak Pos dan semua bantuan itu pihak transporternya pihak PT Pos," ujarnya.

Simak juga 'Luhut: Perintah Presiden Rakyat Tak Boleh Kelaparan!:

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)