Krematorium di Cirebon Layani Ratusan Jenazah per Bulan Saat Pandemi

Sudirman Wamad - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 18:23 WIB
Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan. (Sudirman Wamad)
Foto: Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan. (Sudirman Wamad)
Cirebon -

Isu kartel kremasi mencuat di tengah permintaan kremasi bagi pasien COVID-19 meningkat. Krematorium di Cirebon pun terbawa-bawa. Bantah menetapkan tarif sampai puluhan juta, Krematorium Yayasan Pancaka Seroja, satu-satunya yang melayani daerah Cirebon dan sekitarnya mengaku permintaan kremasi pasien COVID-19 meningkat.

Ketua Krematorium Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan mengatakan dalam beberapa bulan terakhir jumlah permintaan kremasi pasien COVID-19 rata-rata mencapai 100 jenazah lebih. "Bulan Juli saja sampai hari ini sekitar 160 jenazah COVID-19. Bulan kemarin (Juni), sekitar 130 jenazah," kata Ramlan saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/7/2021).

Ramlan mengaku permintaan kremasi selama masa pandemi meningkat dibandingkan biasanya. "Sebelum pandemi rata-rata 15 hingga 20 jenazah. Sekarang meningkat," kata Ramlan.

Kendati demikian, Ramlan mengaku tak pernah memanfaatkan situasi saat ini untuk menaikkan harga kremasi. Ia memastikan harga kremasi di Yayasan Pancaka Seroja hanya Rp 2.560.000. Sementara itu, untuk pasien COVID-19 mencapai Rp 3 juta. Sebab, ada biaya tambahan untuk APD dan disinfektan.

"Kita melayani dari wilayah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning). Sekarang ada juga daei Bogor, Jakarta, Bandung dan lainnya," kata Ramlan.

Ramlan mengaku telah menyiapkan antisipasi agar tidak ada permainan harga yang dilakukan calo. Saat ini, Ramlan mengaku kaget dengan adanya isu kartel kremasi yang membuat harga kremasi membengkak hingga puluhan juta.

"Selama ini kita tidak tahu di sana dicaloin atau tidak. Sekarang sudah tahu begini (ada permainan harga), maka kita harus melibatkan ahli waris agar tidak terjadi (permainan harga). Di sini hanya Rp 3 juta," kata Ramlan.

Sebelumnya, dugaan adanya praktik kartel kremasi jenazah pasien COVID-19 menggemparkan publik. Bahkan, disebut-sebur kartel kremasi itu melibatkan krematorium di Cirebon, Jawa Barat.

Adanya informasi tersebut Krematorium Yayasan Pancaka Seroja yang berada di Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merasa disudutkan. Sebab, Krematorium Yayasan Pancaka Seroja satu-satunya tempat kremasi di Wilayah III Cirebon, atau Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuning (Ciayumajakuning).

"Kalau krematorium di Cirebon ini sifatnya untuk sosial. Kota di sini untuk kremasi jenazah itu hanya Rp 2.560.000. Kalau untuk pasien COVID-19 yang dikremasi di sini ada tambahan biaya untuk APD dan disinfektan," kata Ketua Yayasan Pancaka Seroja Ramlan Pandapotan saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/7/2021).

Ramlan menjelaskan pembiayaan untuk kremasi jenazah COVID-19 hanya Rp 3 juta. "APD dan disinfektan itu Rp 240 ribu. Kemudian tambah adminstrasi Rp 60 ribu. Dan, ditambah biaya pelarungan Rp 200 ribu. Total Rp 3 juta untuk yang pasien COVID-19," kata Ramlan.

Lihat juga video 'Pengelola Krematorium di Semarang Kewalahan Bakar Jenazah Pasien Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(ern/ern)