Polisi Periksa Pihak Rumah Duka Abadi terkait 'Kartel Kremasi' di Jakbar

Karin Nur Secha - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 15:45 WIB
the corpse in the coffin is burning in the cremate
Ilustrasi kremasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/anakeseenadee)
Jakarta -

Polres Metro Jakarta Barat mulai mengusut dugaan praktik 'kartel kremasi' jenazah pasien Corona. Polisi pun kini tengah meminta keterangan dari pihak rumah duka.

"Sudah kita panggil hari ini," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono saat dikonfirmasi, Rabu (21/7/2021).

Joko mengatakan pihaknya kini tengah memeriksa dua orang dari Rumah Duka Abadi. Saat ini mereka tengah melakukan klarifikasi terkait dugaan praktik kartel kremasi itu.

"Sudah dilakukan pemeriksaan sejak jam 10.00 WIB," kata Joko.

Penjelasan Rumah Duka Abadi

Yayasan Rumah Duka Abadi di Daan Mogot, Jakarta Barat, sudah buka suara terkait dugaan 'kartel kremasi' itu. Pihak yayasan juga menjelaskan soal uang Rp 45 juta untuk jasa kremasi bukan dari rumah duka, melainkan dari pihak krematorium.

Business Development Rumah Duka Abadi, Indra Palus, mengatakan pihaknya tidak menyediakan jasa kremasi, melainkan hanya memfasilitasi persemayaman dan pengantaran jenazah saja.

"Kami hanya penyedia jasa, karena kami nggak punya kremasi karena kami khusus persemayaman," ujar Indra kepada wartawan di Yayasan Rumah Duka Abadi, Daan Mogot, Jakarta Barat, Senin (19/7/2021).

Indra kemudian menjelaskan duduk perkara terkait adanya broadcast soal 'diperas kartel kremasi' yang diakuinya menyudutkan pihak yayasan. Menurut Indra, memang benar sekitar minggu lalu ada keluarga yang meminta dicarikan tempat kremasi jenazah COVID-19. Keluarga itu disebutnya butuh cepat tempat kremasi.

"Kami hanya tanya ada slot kosong nggak (ke sejumlah tempat kremasi) karena ada keluarga membutuhkan. Banyak yang nelpon ke sini nawar-nawarin, ya sudah paling cepet saja," jelas Indra.

"Karena keluarga minta cepat maka kami cari dan dapat di Cirebon. Ya udah yang paling cepet yang mana karena keluarga mau yang cepet waktu itu. Keluarga mintanya cepet maunya diurus," sambung Indra.

Indra kemudian menjelaskan bahwa harga Rp 45 juta itu yang menetapkan adalah pihak krematorium di Cirebon, Jawa Barat. Harga tersebut dikatakan Indra sudah termasuk melarung, kremasi, guci, dan lain-lain.

"Iya di sana, nah kami kasih tahu harganya segini-gini dan tanya setuju nggak? Karena kami kan balikin lagi ke keluarga, mau diambil atau tidak. Nah kalau dari pihak keluarga ini setuju," ungkap Indra.

Simak juga 'Pengelola Krematorium di Semarang Kewalahan Bakar Jenazah Pasien Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(mae/mae)