Pilu Pedagang-Warga Cianjur Imbas PPKM, Penghasilan Hilang dan Makan Sekali

Ismet Selamet - detikNews
Senin, 19 Jul 2021 17:53 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom).
Cianjur -

Imbas PPKM darurat begitu terasa bagi pedagang kecil dan masyarakat miskin di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Mulai dari sepi pembeli, penghasilan yang turun drastis, hingga hanya mampu membeli makan sehari sekali dialami mereka yang terdampak.

Fitriani (47), pedagang warung nasi di sekitaran Jalan Gatot Mangkupraja misalnya. Sudah dua minggu ibu dari empat orang anak ini tak berjualan lantaran uangnya habis untuk modal.

Sejak pemberlakuan PSBB dan aturan lainnya yang membatasi kegiatan masyarakat, pembeli yang datang ke warung nasi sederhananya mengalami penurunan. Kondisinya semakin memburuk dengan diterapkannya PPKM darurat. Hanya beberapa orang yang masih membeli dagangannya.

"Setiap hari yang beli semakin sedikit, pernah coba jualan saat awak PPKM tapi karena tidak boleh makan di tempat dan aktivitas warganya juga dibatasi, yang beli jarang. Masakan juga banyak yang enggak kejual, sampai ada yang basi atau dimakan sendiri," ungkapnya, Senin (19/7/2021).

Kondisi tersebut membuatnya kehabisan modal, sehingga sekitar sepekan lebih sudah tak lagi berjualan.

"Bagaimana mau jualan? Modal habis. Kalau dulu sehari bisa untung Rp 200 ribu per hari, tapi sekarang jangankan untung, modal juga tidak ada," ucapnya.

Bahkan perempuan yang tinggal di wilayah Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur ini hanya bisa bertahan hidup dengan mengandalkan pemberian tetangganya.

Sehari pun dia hanya bisa makan sekali. Tak ayal, kondisi kesehatannya terus menurun dan sakit-sakitan.

"Kadang dikasih makan sama tetangga, kadang juga dikasih uangnya untuk beli makan. Tapi kalau ada yang kasih uang biasanya dipakai beli obat, karena sejak tidak berjualan dan dengan kondisi seperti ini sering sakit. Sekarang juga konsumsi obat warung, karena kalau berobat ke dokter uang darimana?" ucapnya.

Ia mengaku juga tak bisa mengandalkan suami yang kini berada di Tasikmalaya untuk bekerja. Menurutnya, sang suami kini juga dalam kondisi sakit dan tertahan di Tasikmalaya. Penyekatan di setiap perbatasan membuat suaminya tidak bisa pulang.

"Suami saya kerja di Tasikmalaya, tapi karena sakit dan enggak bisa pulang jadi tidak bisa kirim uang. Sekarang mah sementara sebisa mungkin bertahan hidup sendiri, saya hanya bisa bersabar," tuturnya.

Bahkan, selain harus tetap bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19 dan PPKM darurat ini, dirinya harus memikirkan bagaimana caranya bayar kontrakan yang kini sudah menunggak.

"Gimana mau bayar kontrakan, makan sehari-hari aja susah, makanya nunggak satu tahun, sebulannya Rp 650 ribu, tapi Alhamdulillah yang punya kontrakannya baik, mengerti kondisi sulit saat ini. Makanya saya harus tetap bersyukur dan bersabar," tambahnya.

Ia mengaku selama PPKM darurat, tak pernah mendapatkan bantuan apapun. "Tidak dapat bantuan kang. Tapi ya mungkin belum waktunya, masih bisa bertahan saja sudah bersyukur, meskipun berharap ada bantuan dari pemerintah, terutama agar keluarga saya di sini juga bisa ikut bertahan," ucapnya.

Sama Fitriani, Ai suparsih (71) lansia yang merupakan ibu dari sopir angkot, mengatakan bahwa dirinya juga merasakan dampak PPKM ini.

Setiap harinya ia harus menunggu anaknya pulang agar bisa makan. Sebab penghasilan anaknya kini hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi ataupun mie instan. Padahal sebelum PPKM darurat, anaknya masih bisa memberi uang untuk bekal sehari-hari.

"Anak saya supir angkot, kami hidup dikontrakkan hanya bertiga, ditambah cucu satu, sangat sulit, makan juga paling sehari cuman satu kali, itu juga malam hari tunggu anak saya pulang bawa makan," kata dia.

"Kadang juga saya hanya makan sedikit, selebihnya buat anak sama cucu saya. Supaya mereka tetap ada tenaga buat besok kerja," ujarnya.

(mso/mso)