Perjuangan Ulama Nusantara Tunaikan Ibadah Haji-Perdalam Agama di Makkah

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Senin, 19 Jul 2021 10:28 WIB
A Saudi police woman, left, who is recently deployed to the service, at top left, stands alert in front of the Al-Safa mountain, as pilgrims pray at the Grand Mosque, at the Grand Mosque, a day before the annual hajj pilgrimage, Saturday, July 17, 2021. The pilgrimage to Mecca required once in a lifetime of every Muslim who can afford it and is physically able to make it, used to draw more than 2 million people. But for a second straight year it has been curtailed due to the coronavirus with only vaccinated people in Saudi Arabia able to participate. (AP Photo/Amr Nabil)
Foto: Jemaah haji (AP/Amr Nabil).
Serang -

Rukun Islam kelima yaitu ibadah haji dianggap suatu perjalanan spiritual ke tanah suci Mekah yang tidak bisa dilakukan semua orang. Ibadah ini sudah berkembang sejak Islam masuk ke Nusantara. Berbagai rintangan dilalui para ulama terdahulu bukan hanya demi menunaikan ibadah haji tapi juga memperdalam ilmu agama dan penyebaran Islam.

Pakar kajian Islam berdarah Belanda, Martin van Bruinessen di buku 'Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat' menuliskan bahwa Makkah telah menjadi pusat kosmis ulama terdahulu dari Nusantara. Bukan hanya menunaikan rukun Islam, mereka juga mencari legitimasi politik dan memperdalam ilmu-ilmu agama di sana.

Bahkan sejak tahun 1630-an, sudah ada catatan keberangkatan haji dari Kesultanan Banten dan Mataram ke Mekah. Salah satunya adalah anak dari Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten yang berangkat pada 1674 yang kemudian dikenal dengan nama Sultan Haji.

Di tahun 1644 ada nama Syekh Yusuf Makassar yang tercatat berangkat ke Makkah. Di tanah suci, Syekh Yusuf juga menimba ilmu tasawuf, filsafat, hingga ilmu kalam ke Syekh Ibrahim Al-Kurani. Ia pulang ke Indonesia di tahun 1670 dan menyebarkan tarekat Khalwatiyah dan ikut berjuang melawan penjajahan Belanda bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Kesultanan Banten.

Mekah di masa itu memang bukan hanya dijadikan pusat ibadah tapi juga menimba ilmu agama. Abd Al Ra'uf Singkel yang dikenal sebagai pembawa tarekat Syattariyah di sana juga tercatat belajar ke Ibrahin Al-Kurani. Ia adalah ulama besar Aceh dan berperan dalam penyebaran agama Islam di tanah rencong.

Di Mekah dan Madinah, ulama dari Indonesia itu menurut Martin selanjutnya mengenal perkembangan gerakan dunia Islam melalui interaksi dengan saudara seiman berbagai negara. Ini lantas menimbulkan dampak kesadaran anti kolonialisme Belanda yang waktu itu berkembang di Indonesia. Seruan perlawanan pada kolonial baik itu Jawa, Sumatera dan daerah lain datang dari para ulama yang menetap di sana.

"Pada tahun 1772, seorang ulama kelahiran Palembang yang menetap di Mekah (kemungkinan besar 'Abd Al Samad Al-Falimbani) menulis surat kepada Sultan Hamengkubuwono 1 dan kepada Susuhunan Prabu Jaka. Isinya, rekomendasi bagi dua orang haji yang baru pulang dan mencari kedudukan, tetapi dalam pendahuluan surat ada pujian terhadap raja-raja Mataram yang telah berjihad melawan kompeni," tulis Martin dikutip detikcom, Senin (19/7/2021).

Melalui surat itu, menurutnya diketahui bahwa ulama yang bermukim di Mekah menganjurkan umat muslim turun jihad melawan penjajahan Belanda. Salah satu upayanya adalah dengan mengirimkan seruan kepada orang-orang berpengaruh di Indonesia.

Martin menulis bahwa perjuangan ulama berhaji waktu itu ditempuh dengan penuh tantangan dan perjuangan. Mereka menumpang kapal layar milik pedagang dan sering berpindah-pindah. Ujung perjalanan laut waktu itu adalah di Aceh dan itulah alasan kenapa daerah tersebut mendapat julukan Serambi Mekah.

Di pelabuhan Aceh, perjalanan dilanjutkan dengan pelayaran menuju India yang bisa membawa mereka ke Hadramaut di Yaman atau langsung ke Jeddah. Sekali perjalanan ini bisa memakan waktu hingga setengah tahun. Belum lagi rintangan selama pelayaran mulai dari perampokan, bajak laut, badai, hingga wabah penyakit.

Ada sebuah catatan dari seorang pelopor sastra Melayu modern, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi pada 1854 yang menggambarkan betapa mengerikannya perjalanan haji waktu itu.

"Allah, Allah, Allah! Tiadalah dapat hendak dikabarkan bagaimana kesusahannya dan bagaimana besar gelombangnya, melainkan Allah yang amat mengetahui. Rasanya hendak masuk ke dalam perut ibu kembali, gelombang dari kiri lepas ke kanan dan dari kanan lepas ke kiri. Maka segala barang-barang dan peti-peti dan tikar banyak berpelanting. Maka sampailah ke dalam kurung air bersemburan, habislah basah kuyup. Maka masing-masiing dengan halnya, tiadalah lain lagi dalam fikiran melainkan mati, maka hilang-hilanglah kapal sebesar itu dihempaskan gelombang," tulisnya.

Catatan perjalanan mengerikan itu menggambarkan kapal layar begitu mendekati Tanjung Gamri di Seylon Sri Langka. Abdullah mencacat juga bahwa di perairan itu tiap tahun kapal banyak yang hilang ditelan ganasnya gelombang.

Belanda sendiri pada tahun 1853 sudah melakukan pencatatan para ulama dari Nusantara yang berangkat ke Mekah. Di tahun itu ada 1.129 orang yang berangkat namun sisanya hanya 405 orang kembali ke Indonesia. Setahun berikutnya ada 1.448 orang berhaji tapi hanya 527 jemaah yang pulang.

Pada tahun 1869 begitu dibuka terusan Suez dibuka dan kapal layar diganti kapal uap, perjalanan haji jadi lebih singkat dan mudah. Belanda yang melihat peluang adanya keuntungan malah bersaing dengan Inggris untuk membawa jemaah haji dari Indonesia. Apalagi, jemaat Indonesia selalu paling banyak calon hajinya dibandingkan negara lain seperti India, Mesir, atau Turki.

"Tiga maskapai perkapalan Belanda (disebut 'kongsi tiga) bersaing dengan maskapai Inggris (dari Arab Singapura) untuk mengangkut jumlah haji yang sebesar mungkin... Pejabat Hindia Belanda yang ingin membatasi jamaah haji karena mereka takut pengaruh 'fanatisme' agama mengalah terhadap kepentingan ekonomi maskapai perkapalan ini," tulis Martin.

(bri/mso)