Round-Up

Fakta-fakta Kawin Kontrak Cianjur yang Dinilai Rendahkan Wanita

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 08 Jun 2021 08:15 WIB
ilustrasi menikah
Foto: Ilustrasi (iStock).
Bandung -

Praktik kawin kontrak di Cianjur menjadi fenomena gunung es yang diperkirakan sudah berjalan cukup lama. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk membrantas praktik tersebut termasuk mengeluarkan aturan larangan praktik kawin kontrak.

Beragam fakta berhasil dihimpun oleh detikcom terkait praktik prostitusi terselubung yang dinilai merendahkan martabat perempuan. Berikut fakta-faktanya:

1. Durasi hingga Mahar Kawin Kontrak

Uang yang dihasilkan dari praktik kawin kontrak terbilang cukup lumayan. Kondisi itu membuat para perempuan tergiur untuk melakoni praktik kawin kontrak.

Udin, salah seorang calo kawin kontrak di Cianjur, menjelaskan tarif kawin kontrak yang dikenal dengan biaya mahar bervariatif, tergantung pada lama perkawinan dan usia perempuannya.

"Paling kecil Rp 15 juta untuk sepekan. Tapi biasanya bisa juga untuk dua minggu dengan biaya segitu. Tergantung komitmen dan perjanjian awal saja. Kalau maksimalnya tidak terhingga, bisa lebih sampai puluhan juta," ucap Udin, Senin (7/6/2021).

Tetapi, lanjut Udin, uang yang diterima tersebut tak sepenuhnya untuk perempuan yang melakoni kawin kontrak, tetapi dibagi dua dengan perantara atau calo. "Misalnya dapat Rp 15 juta, dibagi dua, Masing-masing Rp 7,5 juta," kata Udin.

2. Dinikmati Wisatawan Timur Tengah

Penikmat praktik kawin kontrak di Kabupaten Cianjur didominasi wisatawan atau warga Timur Tengah yang berkunjung ke Cianjur. Hal itu diungkapkan Pemkab Cianjur.

Sekadar diketahui, Pemkab Cianjur mengeluarkan larangan kawin kontrak. Aturan itu dikeluarkan untuk mencegah praktik prostitusi terselubung yang dianggap merendahkan martabat perempuan.

Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan praktik kawin kontrak muncul pasca banyaknya wisatawan asing asal Timur Tengah yang berlibur ke Cianjur.

Pelaku atau pria yang melakukan kawin kontrak pun merupakan wisatawan asing. "Dari laporan masyarakat yang menjadi dasar larangan ini, diketahui jikapelakunya kebanyakan warga asing, asal Timur Tengah," ujar Herman, Senin (7/6/2021).

Saksikan juga Kawin Kontrak di Kota Santri

[Gambas:Video 20detik]