Bantah Petani Milenial Gimmick, Ridwan Kamil: Evaluasi Butuh Setahun

Yudha Maulana - detikNews
Kamis, 03 Jun 2021 12:05 WIB
Postingan Ridwan Kamil soal petani milenial
Foto: Postingan Ridwan Kamil soal Petani Milenial (Instagram Ridwan Kamil).
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebut tidak fair jika program Petani Milenial yang digagasnya dinilai sebagai gimmick. Pasalnya, program tersebut baru berjalan tiga bulan sejak diluncurkan pada Maret lalu.

"Saya cari 5.000 yang daftar belasan ribu, proses ini baru tiga bulan. Jadi kalau disebut gimik-gimik atau apa, tidak fair karena evaluasi itu kan butuh setahun. Saya lagi melobi tanah-tanah kosong, ladang milik swasta tapi tidak dikerjakan, saya melobi PTPN, Perhutani tapi untuk tanahnya yang tidak produktif," ujar Ridwan Kamil dalam Indonesia Rakyat Club, Rabu (2/6/2021).

Ia menceritakan, program ini lahir karena ingin mengajak anak-anak muda mencintai desa. Selain itu dari pandemi COVID-19 muncul statistik bahwa tiga kekuatan ekonomi yang tahan banting ialah pangan, kesehatan dan digital.

"Ada satu lagi bahwa akan ada krisis pangan, bahwa negara-negara lain tak mau mengekspor pangannya ke Indonesia, ada kejadian kita mengalami disrupsi kedua, yakni disrupsi ketahanan pangan," tuturnya.

"Saya lahirkan konsep Petani milenial, anak-anak muda yang pengangguran karena COVID lebih banyak rebahan sekarang bertani, lahannya kita siapkan kalau tidak punya lahan, modalnya kita siapkan kalau tidak punya modal dan produknya kita beli kalau bingung jual ke mana, selama ini program bagi petani muda tidak pernah menyelesaikan tiga urusan ini," ujar pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Untuk menggenjot motivasi para petani, dia menampilkan contoh-contoh petani yang sudah berhasil.

"Saya selalu memberikan harapan, bahwa ini bisa loh. Ada contoh-contoh orang yang sudah berhasil, orang yang tinggal di desa, rejeki kota dan bisnis mendunia. karena petani milenial ini petani digital, dia ngasih makan tidak pakai tangan tapi lewat hape, IoT tidak ke pasar tapi lewat unicorn, e-commerce, sehingga tidak ada halangan lagi tinggal di desa," ujarnya.

Ia menyebut program ini sempat menjadi pro dan kontra karena banyak pihak yang salah kaprah, dengan menganggap ribuan orang yang menjadi peserta Petani Milenial ini telah mendapatkan penghasilannya.

"Kan semua harus berkeringat dulu, namanya ngolah lahan, dipupukin dulu dan sebagainya," katanya.

"Dan pemikiran saya ini agak melompat, dinas-dinas di Jabar belum bisa mengimbangi kecepatan pemikiran yang saya lakukan, hingga akhirnya saya turun teknis, jadi tidak hanya jual gagasan, saya membedah kenapa lahannya macet, kenapa modalnya macet, seret dan sebagainya," ujarnya.

Sementara itu berdasarkan data dari Biro Perekonomian Setda Jabar, dari 8.998 pendaftar terpilih 2.240 petani muda yang lolos dalam proses seleksi.

Kabiro Perekonomian Setda Jabar Benny Bachtiar mengatakan petani yang telah memenuhi kualifikasi juga telah lulus pemeriksaan perbankan atau BI Checking. Peserta yang tidak lolos BI Checking rata-rata masih memiliki utang ke perbankan.

"BI Checking dilakukan sebagai upaya tidak terjadinya kesalahan dalam pemberian kredit. Karena ternyata banyak yang bermasalah dengan perbankan," ucap Benny.

Benny mengatakan, pelaksanaan program Petani Milenial ini tidak bisa serentak dilaksanakan oleh setiap peserta yang lolos. Sebab, masih terganjal dengan kesiapan lahan garapan.

"Sekarang sudah masuk proses eksekusi, secara bertahap dimulai aktivitas di lapangan, yang disesuaikan dengan kesiapan tanah," ucap Benny.

Ia tak merinci berapa banyak peserta Petani Milenial yang belum menggarap lahan. Tetapi ia memastikan bahwa kesiapan tanah memerlukan land clearance dan proses itu membutuhkan biaya.

"Kesiapan tanah ini adalah land clearance dan ini perlu biaya. Makanya secara bertahap kita siapkan," katanya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Jabar Yunandar mengatakan sejauh ini program Petani Milenial masih belum menunjukkan progres yang signifikan sejak diluncurkan pada Maret 2021 lalu. Pasalnya, saat ini program tersebut masih terkendala dari segi anggaran.

"Kemarin kami ketemu di Lembang dengan Petani Milenial, yang waktu kick off ada dua orang, memang betul saat kick off itu ada dua orang Kang Dony dengan satu lagi rekannya, mereka sudah ekspor dan itu jauh sebelum program (Petani Milenial) itu ada, jadi bukan karena program Petani Milenial. Mereka juga bingung kok enggak ada kelanjutan, kemarin kita sarasehan, ya memang belum jalan, anggarannya juga belum ada," ujar Yunandar.

Seperti diketahui Petani Milenial ini melibatkan sejumlah dinas, yakni Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan. Dinas tersebut berada di bawah koordinasi Biro Perekonomian Setda Jabar dengan supervisi dari Tim Akselerasi Pembangunan (TAP) gubernur.

"Nah dari target 5.000 petani milenial itu, itu prosesnya seleksi yang mendaftar lebih banyak dari itu, tapi kemudian kami dapat informasi hasil seleksinya hanya 600 orang, tepatnya saya lupa, tapi 600 sekian. Itu pun sampai hari ini belum dimulai karena anggarannya belum ada," ucap Yunandar.

(yum/mso)