Petani Milenial Cianjur Banyak yang Mundur, Kini Tersisa 4 Orang

Ismet Selamet - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 14:32 WIB
Petani Milenial Cianjur cek kondisi tanaman jagung yang digarapnya
Petani Milenial Cianjur mengecek kondisi tanaman jagung yang digarapnya. (Foto: dok. Istimewa)
Cianjur -

Peserta program Petani Milenial di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, banyak yang mengundurkan diri. Dari puluhan orang yang dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti program tersebut, kini hanya tinggal tersisa empat orang.

Camat Cikadu Yadi Supriadi mengungkapkan awalnya petani yang mendaftar mencapai ratusan orang. Puluhan di antaranya lolos persyaratan dan sudah masuk program. Tetapi banyak petani yang sudah terdaftar memilih mengundurkan diri.

Menurutnya, fasilitas lahan yang terbatas dan fasilitas penunjang yang kurang diduga menjadi penyebabnya. Selain itu, banyak petani milenial yang tidak lolos BI checking serta beban pengembalian pinjaman yang tinggi.

"Memang banyak yang mengundurkan diri dan lebih memilih bertani mandiri. Awalnya bahkan bukan hanya 80, tapi ada ratusan yang daftar. Lolos seleksi hanya 80 orang, dan sekarang tersisa 4 orang," ucapnya, Selasa (1/6/2021).

Sementara itu, Adul Majid (31), salah seorang peserta Petani Milenial asal Kecamatan Cikadu mengatakan, para peserta program yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil ini dibebani mengembalikan modal yang dipinjam dari bank. Modal tersebut dibayar dengan hasil panen yang banyaknya sudah ditentukan saat pengecekan ke lapangan dan saat proses pencairan.

"Petani diberi pinjaman sesuai kebutuhan untuk penanaman. Kalau untuk Cikadu dengan jenis tanam jagung seluas 1 hektare diberi pinjaman Rp 14 juta karena kemarin disubsidi benih dan pupuk," ucap dia.

"Nanti pengembaliannya dengan hasil panen sebanyak 4,5 ton jagung," tambahnya.

Menurutnya, petani mendapatkan penghasilan dari lebih hasil produksi. "Jadi kalau produksi atau panen dapat 6 ton, berarti 1,5 ton itu jadi pendapatan kita. Tapi belum pasti dapat segitu. Kalau hasil panen hanya 5 ton, berarti petani hanya kebagian 500 kilogram," kata dia.

Menurutnya, keuntungan dari hasil panen tersebut tidak sebanding dengan mengolah lahan sendiri. Sebab, kata dia, hasil panen yang didapat bisa dikelola secara penuh.

Bahkan dia merasa program tersebut menjadikannya seperti buruh tani. "Tidak jauh beda dengan buruh tani, hanya punya label petani milenial," kata dia.

Fasilitas teknologi pertanian yang diberikan kepada petani juga tidak sesuai dengan harapan. Hanya ada alat infus manual yang digunakan, sedangkan untuk pemupukan dan penanaman benih masih sangat manual.

"Kalau milenial dan modern itu menggunakan teknologi masa kini, misalnya ada mesin atau alat canggih. Ini kebanyakan masih manual," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat banyak petani milenial di Kecamatan Cikadu mengundurkan diri. Saat ini bahkan hanya tersisa empat orang.

"Awalnya ada 80 orang, tapi karena fasilitas dan kondisinya tidak sesuai harapan jadi banyak yang mengundurkan diri. Sekarang hanya saya dan tiga petani lainnya. Itu pun lihat kondisi ke depan, kalau tidak menghasilkan, lebih baik menggarap lahan sendiri, tidak ikut program Petani Milenial," ucapnya.

Sama seperti Adul, Lanlan Kusnaedi (26), peserta petani milenial lainnya, mengaku sedang harap-harap cemas dengan hasil produksi jagungnya. Sebab, kemungkinan hasilnya tidak akan maksimal.

"Kalau penanamannya sukses dan bisa dipanen, tapi jika lihat dari ukuran bonggolnya kecil-kecil. Jadi ini juga berharap bisa tercapai target, kalau tidak bahaya. Sebab, permodalan dari bank tetap harus dibayar," ungkapnya.

Dia juga menyebut, dengan kondisi saat ini, petani milenial sama seperti buruh tani. "Ya tidak jauh dari buruh tani. Saya harap ke depannya ada perubahan, supaya program Petani Milenial ini tidak hanya dipermudah pinjaman perbankan, tapi juga ada fasilitas lainnya," ujarnya.

Lihat juga video 'Dede Koswara, Petani Yang Menepis Stigma 'Millenial"':

[Gambas:Video 20detik]



(mso/mso)