Dear Kang Emil, Petani Milenial di Lapangan Belum Berjalan Optimal

Whisnu Pradana - detikNews
Sabtu, 29 Mei 2021 18:03 WIB
Postingan Ridwan Kamil soal petani milenial
Foto: Instagram Ridwan Kamil
Bandung Barat -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengunggah foto laki-laki menggunakan celemek bertuliskan 'Petani Milenial' yang memamerkan hasil panen. Dalam captionnya, Ridwan Kamil menyebut itu hasil panen pertanian infus yang siap diekspor. Detikcom mencoba menelusuri langsung ke lapangan terkait program Petani Milenial ini. Hasilnya, tidak seindah postingan gubernur.

Berikut postingan lengkap Ridwan Kamil yang diunggah di instagramnya tiga hari lalu:

EKONOMI BARU GENERASI MUDA JAWA BARAT,

"3 bulan lalu, pertanian infus ini dimulai sekarang panen luar biasa dan sebagian ekspor ke Singapura. Air dan pupuk cair diteteskan sesuai jadwal dan diatur via hape dan komputer melalui IOT.

Petani Milenial perlahan menjadi solusi untuk generasi muda Indonesia di masa depan agar Indonesia punya ketahanan pangan dan kesejahteraan yang menjanjikan.

Petani Milenial punya semangat : "Tinggal di desa (jauh dari pandemi), rejeki kota dan bisnis mendunia (karena digital & 4.0)"

[Gambas:Instagram]




Jumat (28/5/2021), detikcom mendatangi lahan pertanian yang menjadi lokasi launching Program Petani Milenial pada 26 Maret 2021 di perkebunan Kampung Pasir Angling, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Di lokasi itu, dua petani yang masuk dalam program Petani Milenial dan lokasinya jadi tempat launching.

Salahsatunya, Dani (38), yang memang sudah tahunan menjadi petani. Dani menggarap lahan seluas 3 ribu meter persegi yang dimiliki seniman multitalenta yang juga penulis novel Pidi Baiq. Ia menggarap sudah lama, jauh sebelum Program Petani Milenial digulirkan.

Dani mengaku konsep digitalisasi pertanian atau smart farming tidak berjalan karena peralatannya kurang memadaai. Misalnya alat siram otomatis yang dipasang di tengah kebun, tidak terpakai.

Penyebabnya, kata dia, saluran air yang digunakan masih menyatu antara kebutuhan kebun dan dapur rumahnya. Jika air dipakai menyiram lahan maka aliran air ke dapur tidak mengalir, sementara jika air ke dapur mengalir maka alat siram otomatis tidak bisa berfungsi.

"Torn air juga kurang, jadi tidak bisa menampung air. Akhirnya saya masih menyiram secara manual kadang pagi atau sore," jelasnya.

Dani juga mengeluhkan harga sayuran yang masih tak bisa dikendalikan oleh pemerintah. Dua bulan sebelum lahannya dijadikan tempat launching Petani Milenial yang digagas Gubernur Ridwan Kamil, ia sudah menanam cabai merah, yang bulan ini akhirnya panen.

"Misalnya cabai merah, sekarang hanya Rp 15 ribu perkilogram dari petani. Harga itu sudah sangat rendah, bisa dikatakan anjlok. Padahal di pasar masih Rp 50 ribu, jadi istilahnya masih 'paciwit-ciwit jeung tangkulak'," ungkap Dani kepada detikcom, Jumat (28/5/2021).

Menurut Dani jerih payah petani yang menanam, mengurus, memanen, hingga menjual hasil panen sayuran yang ditanam sebelumnya tak terbayar.

"Ya rugi juga padahal capek dari mulai menanam, ngurus, memanen. Apalagi mengurus cabai ini kan 3-4 bulan, bulan ke 5 baru panen tapi harganya murah," kata Dani.

Kendati demikian, Dani yang memang sudah sejak lama menekuni dunia pertanian tetap bakal bertahan sebagai petani apapun risiko dan kendalanya.

"Ya menang pekerjaan utamanya ini, jadi mau tidak mau ya ditekuni saja. Kebetulan saya juga kerja ini kan enggak sendiri, ada teman-teman yang menggantungkan nasib juga sama saya. Misalnya hari ini saya panen cabai sama dua orang, artinya mereka memang butuh pemasukan dari usaha ini," katanya.

Sementara itu Kabiro Perekonomian Setda Jabar Benny Bachtiar mengatakan dari 8.998 pendaftar, hanya terpilih 2.240 petani muda yang lolos dalam proses seleksi. Target gubernur sendiri 100 ribu pemuda di Jabar ikut program ini.

"Sekarang sudah masuk proses eksekusi, secara bertahap dimulai aktivitas di lapangan, yang disesuaikan dengan kesiapan tanah," ucap Benny.

Ia tak merinci berapa banyak peserta Petani Milenial yang sudah menggarap lahan dan berapa yang belum, tetapi ia memastikan bahwa kesiapan tanah memerlukan land clearance dan proses itu membutuhkan biaya.

"Kesiapan tanah ini adalah land clearance dan ini perlu biaya. Makanya secara bertahap kita siapkan," katanya.

Selain itu, ada juga peserta yang lolos tidak mau dipindahkan ke lahan yang berada di luar domisilinya. "Makanya secara bertahap kita siapkan. Banyak juga Petani Milenial ini enggan untuk ditempatkan di daerah lain," kata Benny.

(dir/ern)