Label 'Naik Kelas' Wisata Alam dan Upaya Lawan Corona

Baban Gandapurnama - detikNews
Jumat, 21 Mei 2021 20:28 WIB
Wisata alam di Geger Bintang Matahari bisa jadi alternatif liburan di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Objek wisata alam Geger Bintang Matahari di Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Whisnu Pradana/detikcom)
Bandung -

"...Alangkah indahnya pemandangan. Bagaikan lukisan dari tangan Tuhan. Oh, sungguh indahnya Indonesia..."

Sepenggal lirik lagu 'Alangkah Indahnya Indonesia' dibesut band Naif itu merefleksikan gambaran memesonanya alam raya di negara kepulauan Indonesia. Nyatanya memang aneka objek wisata bernuansa alam yang menghiasi Sabang hingga Merauke sukses menggoda mata pelancong.

Sisi lain, merebaknya virus Corona yang kini memasuki tahun kedua, mengakibatkan gerak wisatawan nusantara dan mancanegara tak lincah menyambangi area tamasya. Imbas pandemi COVID-19, yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, China, penghujung Desember 2019, telah menumbangkan aktivitas sektor pariwisata Indonesia.

Cesar Yudistira, warga Kota Cimahi, Jawa Barat, rindu bukan kepalang berwisata mendaki dan berkemah. Pria berusia 31 tahun ini terpaksa menunda hasrat bertualang lantaran target tempat tujuannya ditutup karena pandemi.

"Sekarang ini banyak pembatasan yang dilakukan pemerintah di tempat wisata, termasuk untuk camping atau hiking. Destinasi para penyuka naik gunung, semisal Semeru, Prau, atau Papandayan yang ada di Jawa Barat, beberapa di antaranya masih ditutup," kata Cesar saat berbincang bersama detikcom, Jumat (21/5/2021).

Sunset di Gunung PapandayanGunung Papandayan di Garut (Foto: Hakim Ghani/detikcom)

Ia memaklumi kondisi tersebut. "Memang sih, penutupan karena faktor pandemi. Pemerintah daerah enggak mau kecolongan adanya klaster pada tempat wisata tersebut. Padahal, dengan adanya wisata naik gunung itu, dapat menggerakkan perekonomian di daerah wisata," tutur pegawai swasta ini.

Menjalankan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, Cesar menambahkan, sudah seharusnya dipegang teguh pengelola tempat rekreasi dan pengunjung. Pengelola pun berhak mengetahui pengunjungnya negatif atau positif terpapar COVID-19.

"Mereka yang mau dapat naik gunung, minimal harus bawa hasil tes, tentunya negatif Corona. Siapkan juga skenario, jika ada pendaki gunung positif COVID-19, pengelola menyiapkan ruang isolasi hingga mengantarkan pendaki itu ke tempat rumah sakit," ujar Cesar yang biasanya tiga bulan sekali mendaki gunung untuk menyegarkan otak dan melepas jenuh.

Pengelola objek wisata alam di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, senantiasa memberlakukan prokes ketat untuk menangkal penyebaran COVID-19. Contohnya area wisata alam dikelola Perum Perhutani yang di antaranya Curug Cimahi, Curug Layung, Geger Bintang Matahari (Gunung Putri), dan Pal 16.

"Kami tentu selalu mengikuti syarat dan aturan berlaku berkaitan prokes di tempat wisata. Keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama," kata Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lembang Susanto.

Selain itu, Susanto menuturkan, pihaknya berkoordinasi dengan Satgas COVID-19 tingkat kecamatan dan Pemkab Bandung Barat terkait disiplin prokes di area rekreasi. "Satgas COVID-19 selalu mengawasi. Alhamdulillah, kami tak pernah melanggar prokes," ucap Susanto.

Fajar di Geger Bintang Matahari, Desa Jayagiri, Lembang, Bandung.Sausana di objek wisata Geger Bintang Matahari, Desa Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Yudha Maulana/detikcom).

Di Jawa Barat, pengambil kebijakan pariwisata beringsut cepat memulihkan keterpurukan. Bergulirnya masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) melecut semangat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat menggaet komponen kepariwisataan untuk bangkit melawan dan menekan penyebaran COVID-19.

Kadisparbud Jawa Barat Dedi Taufik mewanti-wanti pengelola objek wisata dan wisatawan wajib mematuhi prokes serta menerapkan perilaku 3M atau Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Dia menegaskan, pada masa pandemi ini, masyarakat, pelaku industri wisata, dan pengunjung harus berkomitmen disiplin prokes.

"Kita berkolaborasi. Kalau kita abai prokes, sektor pariwisata pasti terpuruk kembali. Maka itu, terapkan 3M," ucap Kadisparbud Jawa Barat Dedi Taufik kepada detikcom.

Dedi memiliki strategi dalam mengawal eksistensi bidang pariwisata di Jawa Barat selagi AKB. Ada lima pilar yang menjadi jurusnya.

Pilar pertama yakni kekuatan budaya. Menurut Dedi, budaya ini menjadi kekuatan pariwisata. Selain itu, kata dia, Jawa Barat terbagi tiga zona yakni Sunda-Betawi, Priangan Timur dan Kacirebonan. "Kita lihat di Jawa Barat, untuk target wisatawan di masa pemulihan ekonomi di sektor pariwisata, fokusnya kunjungan wisatawan lokal atau nusantara. Nah pilar budaya ini yang menjadi kekuatan," tutur Dedi.

Pilar kedua yaitu sumber daya manusia (SDM). Dedi menjelaskan, SDM internal dan eksternal bisa menyelaraskan AKB di masa pandemi. "Pilar ketiga adalah destinasi alam. Ini destinasi yang berorientasi alam. Keempatnya industri lokal, yakni ekonomi kreatif berupa film, kriya, fesyen dan kuliner. Pilar kelima ialah pemasaran lokal," kata Dedi.

Disparbud mendata ada 108 wisata unggulan di Jawa Barat. Pihaknya menegaskan semua tempat wisata di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat maksimal 50 persen dari kapasitas total pengunjung. Keputusan itu telah disepakati bersama oleh semua dinas pariwisata di kabupaten dan kota di Jabar.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat jumlah kunjungan wisatawan nusantara menyusut pada 2020. Anjloknya jumlah wisatawan nusantara di berbagai destinasi lokasi itu gegara dampak pandemi. Awalnya diprediksi jumlah wisatawan nusantara mencapai 310 juta orang, namun faktanya angka menurun 61 persen atau mencapai 120 hingga 140 juta orang.

Sedangkan di Jawa Barat, jumlah kunjungan wisatawan nusantara pada 2019 mencapai 62 juta dan wisatawan mancanegara 2,2 juta. Kemudian, tahun 2020 (Januari hingga Maret), mengingat pandemi COVID-19, Disparbud Jawa Barat menurunkan target kunjungan wisatawan nusantara menjadi 30 juta dan wisatawan mancanegara 30 ribu. "Di tahun 2020 itu melebihi target, wisatawan nusantara 35 juta dan wisatawan mancanegara 30 ribu lebih," tutur Dedi.

Pemerintah mengizinkan area piknik kembali buka akses secara bertahap. Ikhtiar meningkatkan jumlah wisatawan terus digelorakan. Bersamaan hal tersebut, Kemenparekraf membuat panduan prokes bertajuk Clean, Health, Safety, Environment (CHSE).

Prokes tersebut berlaku untuk hotel, ekonomi kreatif, restoran, destinasi wisata dan semua yang berhubungan dengan sektor wisata. Pihak Kemenparekraf memberikan sertifikasi bila usaha pariwisata lulus sesuai kriteria.