Honorer Dinkes Cianjur Terlibat Pemalsuan Surat Swab Antigen

Ismet Selamet - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 14:39 WIB
Cianjur -

Polisi menangkap dua pelaku pemalsuan surat hasil tes swab antigen di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Salah satunya merupakan tenaga honorer di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur.

Kapolres Cianjur AKBP Mochamad Rifai mengatakan kasus dugaan pemalsuan test antigen berawal saat polisi menangkap MR, sopir travel gelap, yang memiliki dan menggunakan surat hasil tes antigen palsu untuk bepergian ke luar kota. Surat palsu itu menerangkan bahwa MR negatif COVID-19, padahal sang sopir tersebut tidak pernah swab test.

"Setelah diperiksa, MR mengakui jika surat tersebut didapat dari pria berinisial JA (32). Kemudian kami amankan JA di rumahnya, wilayah perkotaan Cianjur," kata Rifai di Mapolres Cianjur, Jalan KH Abdullah bin Nuh, Selasa (4/5/2021).

JA mengakui surat hasil test antigen yang dibuatnya palsu. "Diakuisisi pelaku jika surat tersebut palsu," ucap Rifai.

Dia mengungkapkan dalam aksinya tersebut, JA dibantu oleh perempuan berinisial AR (30) yang merupakan pegawai honorer di Dinkes Cianjur. Dari AR itu pelaku mendapatkan contoh atau draf surat antigen dari Dinkes, termasuk kop suratnya.

"Jadi dari draf tersebut pelaku menyunting atau mengedit nomor surat dan nama dalam surat. Pelaku memalsukan tandatangan dari pejabat yang terkait. Sedangkan untuk cap, masih kita telusuri apakah asli atau palsu. Tapi sementara diduga stempel dinas dibuat oleh pelaku alias juga palsu," tutur Rifai.

Menurut dia, pelaku sudah membuat surat hasil tes antigen palsu sejak Februari 2021. Total sudah 100 lembar surat palsu yang dibuat JA.

"Keterangan dari pelaku surat itu untuk driver travel gelap," ujarnya.

Ia menuturkan untuk saat ini JA dan AR ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan MR masih berstatus sebagai saksi. Namun kendaraan MR sudah diamankan polisi sebagai barang bukti.

"Kami masih kembangkan, apakah ada pelaku lainnya atau tidak," ucap Rifai sambil menambahkan kedua tersangka dijerat Pasal 263 dan 268 KUHP yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara.

(bbn/bbn)