Masjid Al Mustafa Bogor, Perpaduan Ulama Banten dan Cirebon

M. Sholihin - detikNews
Kamis, 15 Apr 2021 03:51 WIB
Masjid Al Mustafa Bogor
Masjid Al Mustafa Bogor (Foto: M. Sholihin/detikcom)
Bogor -

Masjid Al Mustafa disebut-sebut sebagai masjid tertua di Kota Bogor. Masjid yang menjadi bangunan cagar budaya ini berlokasi di Kampung Bantarjati Kaum, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Mustafa, Ahmad Kusnadi mengatakan, masjid tersebut didirikan oleh perpaduan dua ulama asal Banten dan Cirebon pada tanggal 2 Ramadhan 708 Hijriah atau 8 Februari 1307. Nama Al Mustafa juga diambil dari nama pendiri masjid, yakni Tubagus Mustafa Bakri.

"Masjid ini didirikan oleh sosok dua ulama dari dua daerah, yang pertama Tubagus Mustafa asal Banten dan kedua adalah Raden Dita Manggala dari Cirebon. Dua sosok ulama inilah yang disebut pendiri masjid ini," kata Kusnadi ditemui detikcom di Masjid Al Mustafa, Rabu 14 April 2021.

Dalam sejarahnya, kata Kusnadi, masjid ini dulunya merupakan bagian dari pesantren yang juga didirikan Tubagus Mustafa Bakri dan Raden Dita Manggala. Setelah kedua ulama tersebut meninggal, penyebaran Islam kemudian diteruskan oleh para santrinya.

Raden Dita Manggala, kata Kusnadi, meninggal di Bantarjati Kaum dan dimakamkan di Kampung Bantarjati Kaum, yang kini menjadi kawasan pemakaman umum untuk warga. Sementara Tubagus Mustafa Bakri dikabarkan meninggal di Makkah dan dimakamkan di sana.

Masjid Al Mustafa BogorSuasana di Masjid Al Mustafa Bogor. (Foto: M. Sholihin/detikcom)

Kusnadi menyebut, bangunan masjid Al Mustafa setidaknya sudah tiga kali mengalami renovasi. Hal itu karena struktur bangunan yang sudah mulai rapuh. Masjid yang awalnya didominasi oleh kayu, kini nampak lebih kokoh karena dibangun secara permanen. Tiang kayu penopang menara di tengah masjid juga dipugar dan diganti dengan tiang permanen.

"Seingat saya ini sudah tiga kali di renovasi ya, dulu nggak begini bangunannya. Sebagian besar banyak terbuat dari kayu, sekarang saja sudah banyak yang ditembok. Pintu juga berubah, dulu pintunya dari kayu khas jaman dulu ya. Di tengah masjid juga ada 4 tiang dari kayu untuk menopang menara, sekarang dipugar dan diganti jadi tiang permanen seperti ini," tutur Kusnadi.

"Tetapi secara umum bangunan tidak berubah, ornamen asli juga ada. Bentuk pilar depan juga tidak dirubah, hanya diperbaiki, dibuat bagus saja," dia menambahkan.

Selanjutnya
Halaman
1 2