Waspada! Ini Modus 'Dewa Penolong' Mangsa Pekerja Migran Indonesia

Yudha Maulana - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 14:23 WIB
Ilustrasi Penipuan
Ilustrasi (Ilustrator: Mindra Purnomo)
Bandung -

Ketua Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani mengungkap dua modus kasus kejahatan pemangsa calon pekerja migran Indonesia (PMI) yang berangkat secara ilegal. Akibatnya, banyak PMI yang bekerja bertahun-tahun di luar negeri tetapi tak menghasilkan apa-apa sewaktu tiba di Tanah Air.

"Ada dua kejahatan yang memangsa PMI. Kejahatan yang pertama adalah penempatan ilegal PMI yang dilakukan oleh segelintir orang dengan modal kapital. Saya pun sudah menyampaikan hal ini ketika bertemu dengan Panglima TNI, Kapolri, Menlu, Menaker, Menkumham, Dirjen Imigran, bahwa kejahatan ini tak tersentuh (untouchable) karena didukung oleh oknum-oknum," tutur Benny saat melakukan sosialisasi UU 18 Tahun 2017 di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (7/4/2021).

Modus kejahatan kedua, setiap PMI yang hendak berangkat ke luar negeri ditagih uang Rp 20 juta sebagai syarat keberangkatan, lalu agar bisa lolos dari pemeriksaan bandara, PMI tersebut dimintai uang kembali Rp 3 juta.

"Rp 10 juta oleh bandar dan Rp 10 juta jadi bancakan 'hengki-pengki' aparat yang bermental koruptif," ujar Benny.

Ketua BP2MI Benny RhamdaniKetua BP2MI Benny Rhamdani (Foto: Yudha Maulana/detikcom)

Sementara untuk menutupi biaya tersebut, calo yang menawarkan pekerjaan ilegal ini berperan sebagai penolong yang menutupi biaya akomodasi dan tiket keberangkatan calon PMI tersebut. "Selain pembiayaan menuju bandara, bahkan mereka juga mengiming-iming keluarga yang ditinggalkan diberi bekal Rp 5 juta - Rp 10 juta, mereka seperti 'dewa penolong' di tengah mimpi para PMI. Tapi ternyata uang itu diakumulasi dengan bunga 27 hingga 30 persen," ujar Benny.

Benny pun mengatakan, bahwa uang yang diberikan oleh calo tersebut berasal dari kredit usaha rakyat (KUR) PMI dari suatu bank pelat merah. "Uang itu dipinjam dari bank, padahal kalau dari bank tersebut bunganya hanya enam persen, tapi ketika mereka pihak ketiga yang berwujud koperasi simpan pinjam melambung jadi 27 hingga 30 persen bunganya," kata Benny.

Konsekuensinya, PMI tersebut tak bisa menerima gaji hingga berbulan-bulan. "Tapi misal dalam 10 bulan tak mengirimkan uang ke Indonesia, PMI mungkin merasa malu dan akhirnya dia meminjam lagi yang pertama, dan kedua," ucap Benny.

Simak video 'Modus Dapat Bisikan Gaib, Pria di Gorontalo Tipu Warga Ratusan Juta':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2