Ragam Cerita Warga Bandung Jalani Isolasi Mandiri di Rumah

Yudha Maulana - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 16:37 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona. (Foto: Edi Wahyono)
Bandung - 14 hari sudah Yakub (29) menjalani isolasi mandiri di kediamannya di sekitaran Gedebage, Kota Bandung. Selama dua pekan juga, Yakub intens menjalin komunikasi dengan petugas puskesmas yang kerap menanyakan kondisi kesehatannya.

"Ya hampir tiap hari petugas dari puskemas mengontak saya melalui WhatsApp (WA), kalau kunjungan ke rumah langsung sih belum untuk mengecek kondisi badan, hanya lewat WA saja," kata Yakub saat dihubungi detikcom, Sabtu (27/2/2021).

Isolasi mandiri yang dilakukan Yakub berawal dari gejala pilek dan sesak napas yang dialami Yakub saban hari usai bekerja. Ia kemudian mengontak Dinas Kesehatan Kota Bandung dan disarankan untuk melaksanakan swab antigen di puskesmas.

"Hasilnya positif, saya kemudian diminta untuk isolasi mandiri di rumah, padahal saya melaporkan ada gejala yaitu sesak napas. Tapi kata petugasnya isolasi di rumah saja, sambil saya harus mengonsumsi obat yang diberi, ya hampir cukuplah untuk dua minggu," kata Yakub.

Menurutnya, isolasi di rumah nyaris membuatnya tertekan. Istri dan anaknya dievakuasi ke rumah mertuanya, sementara ia harus seorang diri berjuang melawan COVID-19. "Ya kadang suka sesak napas, ya saya habiskan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah saja," tuturnya.

Terkonfirmasi positif COVID-19 sudah dua kali dialami oleh Yakub. Sebelumnya, akhir tahun 2020 ia juga dinyatakan positif COVID-19 melalui metode swab PCR. Namun, kala itu ia diisolasi di fasilitas BPSDM milik Pemprov Jabar.

"Kalau di BPSDM ada petugas yang mengecek kesehatan kita setiap hari, jadi menghampiri ke kamar. Kalau isolasi mandiri ya paling hanya kontak-kontakan dengan petugas puskesmas melalui WA," katanya.

"Sekarang juga setelah 14 hari, saya tanya apa perlu saya dites swab lagi? kata petugasnya tidak perlu, karena itu sudah aturan dari Kemenkes. Memang saya tahu ada aturan itu, tapi tetap saja agak kurang tenang juga," ujar Yakub.

Yugo (34), warga Antapani, mengatakan selama menjalani isolasi mandiri, dirinya bahkan tak pernah dikontak atau dikunjungi oleh petugas puskemas. "Saya waktu itu terkonfirmasi positif saat ada tes masif oleh Pemprov Jabar, saya hanya diminta untuk isolasi mandiri tapi tak pernah ada petugas kesehatan yang mengontak atau memberikan obat," katanya.

Beruntung, kala itu Pemprov Jabar memfasilitasi Yugo untuk melakukan swab PCR lanjutan tak lama sejak dinyatakan terpapar. "Dites lagi, jaraknya tak begitu lama ya, kurang dari satu minggu, tapi hasilnya sudah negatif," kata Yugo.

Ketua Harian Satgas Penanganan COVID-19 Daerah Jawa Barat Daud Achmad mengatakan, hal pertama yang harus dilakukan adalah tidak panik. Selanjutnya, buat laporan kepada pengurus RT atau RW setempat soal kondisi medis yang dialami.

"Informasikan kepada RT atau RW setempat kalau positif, nanti dari RT/RW akan berkoordinasi dengan posko di kelurahan dan puskemas, nanti ada petugas kesehatan yang mengontak," ujar Daud, Sabtu (27/2/2021).

Daud mengatakan, petugas kesehatan kemudian akan melakukan wawancara untuk menilai apakah warga yang terpapar ini harus dirawat di rumah sakit atau melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Kalau kondisi rumahnya tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri, puskesmas nanti yang akan mengarahkan apa diisolasi di hotel atau fasilitas milik pemerintah, tergantung dari tingkat keterisiannya. Kalau untuk hotel itu yang membayar pemerintah," kata Daud. (yum/bbn)